Top
Begin typing your search above and press return to search.

Pemerintah siap evakuasi WNI di Timur Tengah pasca meninggalnya Ismail Haniyeh

Pemerintah Indonesia telah menyiapkan skema evakuasi dan mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah Timur Tengah terutama di Lebanon, Iran dan Israel untuk lebih waspada dan segera evakuasi diri jika eskalasi di wilayah tersebut semakin meningkat. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut upaya perlindungan WNI atas terjadinya insiden terbunuhnya Pemimpin Hamas, Kepala Bidang Politik Ismail Haniyeh saat berada di Teheran, Iran pada Rabu (31/6/2024).

Pemerintah siap evakuasi WNI di Timur Tengah pasca meninggalnya Ismail Haniyeh
X
Tokoh Palestina Ismail Haniyeh. ANTARA/HO-Anadolu/www.aa.com.tr/pri.

Elshinta.com - Pemerintah Indonesia telah menyiapkan skema evakuasi dan mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah Timur Tengah terutama di Lebanon, Iran dan Israel untuk lebih waspada dan segera evakuasi diri jika eskalasi di wilayah tersebut semakin meningkat.

Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut upaya perlindungan WNI atas terjadinya insiden terbunuhnya Pemimpin Hamas, Kepala Bidang Politik Ismail Haniyeh saat berada di Teheran, Iran pada Rabu (31/6/2024).

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha menyampaikan pemerintah melalui perwakilan Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut, Lebanon, telah menyatakan wilayah Lebanon Selatan sebagai Siaga 1 dan wilayah Lebanon lainnya sebagai Siaga 2. Hal ini disampaikan Judha Nugraha dalam wawancara di Radio Elshinta Jumat (2/8/2024)

“Dapat kami update bahwa kementerian luar negeri bersama perwakilan RI yang ada di kawasan Timur Tengah terus memantau dari dekat situasi keamanan yang ada, pasca pembunuhan Ismail Haniyeh dan pembunuhan beberapa pimpinan Hisbullah yang ada di Beirut. Saat ini KBRI Beirut telah menetapkan wilayah Lebanon Selatan menjadi Siaga 1 dan wilayah Lebanon lainnya sebagai Siaga 2 serta telah menyiapkan rencana kontingensi untuk perlindungan WNI mengatasi eskalasi lebih lanjut,” ujar Judha.

“Dalam konteks rencana kontingensi sudah ada langkah-langkah yang disiapkan, dalam beberapa kesempatan imbauan sudah beberapa kali disampaikan KBRI Beirut sejak meletusnya konflik di Gaza pada oktober 2023 lalu, namun tetap diingatkan kepada WNI untuk terus waspada,” lanjutnya.

Judha mengatakan saat ini ada 14 orang WNI yang tinggal di Lebanon Selatan. KBRI Beirut telah mengimbau bagi WNI yang tinggal di Lebanon Selatan untuk segera bergeser ke Safe house di KBRI Beirut, namun keputusan memilih evakuasi tetap dikembalikan kepada individu WNI masing-masing.

Sedangkan, untuk WNI yang ada di wilayah Lebanon lainnya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, segera meninggalkan wilayah Lebanon jika tidak ada kepentingan urgen dan menunda kedatangannya ke Lebanon. WhatsApp grup juga telah disediakan untuk WNI bersama KBRI beirut untuk koordinasi dan memastikan keadaan WNI.

“Dari pantauan kami terakhir, KBRI telah menawarkan WNI di Lebanon Selatan untuk evakuasi ke safe house, namun mereka masih memilih untuk tinggal di wilayahnya masing-masing karena dirasa masih aman. Dalam hal ini negara berkewajiban memfasilitasi proses evakuasi, namun pilihannya tetap dikembalikan pada pertimbangan WNI masing-masing,” kata Judha.

Pemerintah sangat berharap agar WNI tidak menunggu terjadinya eskalasi lebih lanjut, karena hal tersebut akan menyulitkan proses evakuasi. Dipastikan saat ini Lebanon Selatan tidak aman, karena terjadi eskalasi pertempuran nyata antara Hisbullah dengan IDF. Meskipun wilayah Beirut masih relatif aman, KBRI Beirut mengimbau bagi yang tidak memiliki kepentingan esensial untuk bisa segera meninggalkan wilayah Lebanon, mengingat Bandara Internasional Rafik Hariri di Beirut masih dibuka.

Sementara untuk mengantisipasi meluasnya eskalasi ke wilayah lain di Timur tengah, pemerintah terus berkoordinasi dengan seluruh perwakilannya untuk memastikan perlindungan WNI di Timur Tengah, termasuk 391 WNI di Iran, terutama para mahasiswa yang mayoritas tinggal di kota Qom. Saat ini, KBRI Teheran telah menetapkan status wilayah Iran sebagai siaga 2 dan mengimbau agar WNI menunda perjalanannya ke Iran.

“Kita telah berkoordinasi dengan seluruh perwakilan kita yang ada di Timur Tengah, mengantisiapasi jika eskalasi ini menyebar ke wilayah yang lain, termasuk Iran. KBRI Teheran mencatat saat ini ada 391 WNI di Iran, mayoritasnya pelajar yang tinggal di kota Qom,” kata Judha

Pemerintah melalui kementerian luar negeri juga telah menyiapkan strategi dan langkah-langkah evakuasi tersendiri di setiap wilayah perwakilannya masing-masing. Dalam rangka untuk mempertahankan kedaulatan pemerintah pusat menyiagakan pasukan TNI secara terbatas yang tergabung dalam pasukan perdamaian The United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) berkoordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Diketahui, Pemimpin Hamas, Kepala Bidang Politik Ismail Haniyeh meninggal dunia akibat serangan udara saat melakukan kunjungan di Teheran, Iran pada Rabu (31/6/2024). Hamas dan Iran dengan tegas menunjuk Israel sebagai pelakunya. Insiden ini dipercaya akan meningkatkan ketegangan dan dikhawatirkan memicu pecahnya konflik antarnegara di Timur tengah. (sus/nak)

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire