Top
Begin typing your search above and press return to search.

Anugerah Bintang LVRI, penghormatan negara bagi pejuang kemerdekaan di Bali 

Keluarga Besar Puri Kauhan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sangat berbahagia setelah Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana bersama Ayahanda Anak Agung Gde Raka menerima Anugerah Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia yang secara langsung dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan dan Pertimbangan (DPP) LVRI Pusat.

Anugerah Bintang LVRI, penghormatan negara bagi pejuang kemerdekaan di Bali 
X
Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.

Elshinta.com - Keluarga Besar Puri Kauhan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sangat berbahagia setelah Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana bersama Ayahanda Anak Agung Gde Raka menerima Anugerah Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia yang secara langsung dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan dan Pertimbangan (DPP) LVRI Pusat.

Oleh karena itu, atas nama Keluarga Besar Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana mengucapkan terima kasih atas penghargaan dan kehormatan ini.

“Saya kira ini adalah kehormatan bagi kami di keluarga dan kehormatan bagi Ubud sebagai Desa Pejuang, sekaligus kehormatan bagi Bali sebagai Pulau perjuangan,” kata Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana atau Gung Ari, Sabtu (3/8/2024).

Ia memperoleh penganugerahan Tanda Penghargaan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia atau LVRI bersama Ayahanda Anak Agung Gde Raka dan perwakilan DPD LVRI Provinsi Bali di Puri Kauhan Ubud, Jalan Raya Ubud Nomor 35 Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali pada Jumat, 2 Agustus 2024.

Menurutnya, tanda penghargaan Bintang LVRI ini sangat bermakna bagi Keluarga Besar Puri Kauhan Ubud sebagai sebuah pengakuan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) atas perjuangan yang telah dilakukan oleh Ayahanda Anak Agung Gde Raka.

“Beliau memang dikisahkan adalah orang muda waktu itu, 17 tahun, saat tahun 1945 ikut dalam upaya mempertahankan Kemerdekaan RI, bahkan ikut Long March bersama pasukan Ciung Wanara I Gusti Ngurah Rai,” jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Senin (5/8).

Tak hanya itu, disebutkan Anak Agung Gde Raka dikenal sebagai pejuang tanpa pamrih dengan menggunakan seluruh jiwa raganya, guna mempertahankan Kemerdekaan RI.

Untuk itu, perjuangannya dapat dikatakan sebagai pengabdian yang harus dijalankan sebagai Ksatria Mahottama, yaitu Dharma Negara berbakti kepada masyarakat, bangsa dan negara.

“Saya kira ini adalah rasa pengakuan dan kehormatan, bagi saya sendiri sebagai generasi penerus dan pewaris dari Puri serta pewaris Kemerdekaan menjadikan perjuangan Beliau sebagai inspirasi dan motivasi bagi kami, untuk tetap berbuat yang terbaik bagi masyarakat, Nusa dan Bangsa,” paparnya.

Ia menyebutkan bahwa generasi muda harus mewarisi api bukanlah abunya, dalam arti api semangat Puputan yang sudah ditunjukkan oleh para pendahulu.

“Kita sudah pernah punya peristiwa heroik Puputan Jagaraga, dimana waktu itu mempertahankan harga diri dan kehormatan, kemudian ada Puputan Badung tahun 1906,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya juga ada Puputan Klungkung tahun 1908 dan peristiwa terakhir disebut Puputan Margarana , sehingga spirit Puputan itu sangatlah luar biasa, karena mencerminkan semangat untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan.

“Setiap ada kebenaran dipertahankan dengan resiko apapun dan tadi saya sampaikan, bahwa semangatnya yang kita teruskan,” tambahnya

Sementara itu Penganugerahan Tanda Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan dan Pertimbangan Legiun Veteran Republik Indonesia, Letjend TNI (Purn) HBL Mantiri.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengalungan medali lencana dan tanda jasa kepada para penerima penghargaan, termasuk AAGN Ari Dwipayana.

Ari Dwipayana dikenal masyarakat luas sebagai seorang ilmuwan politik yang lahir dan besar di Ubud, Kabupaten Gianyar Bali pada 24 Februari 1972

Ia menyelesaikan gelar sarjana, master, serta doktor di bidang politik dan pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dalam satu dekade terakhir, ia menghabiskan waktunya untuk mendermakan dirinya mengabdi kepada negara.

Dirinya sebelumnya diketahui pernah bertugas menjadi Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Staf Khusus Presiden.
Kemudian pada 2019 hingga sekarang, Ari Dwipayana masih menjabat sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Dedikasinya untuk Bali pun tak pernah berhenti dan terus berlanjut. Sebagai Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana turut merawat Bali melalui program Sastra Saraswati Sewana yang sudah berjalan selama 5 tahun terakhir.

Ia juga pernah menjadi staf pengajar di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM. Dirinya juga pernah menerbitkan banyak karya publikasi tentang Bali yang meliputi “Bangsawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota”, “Kelas dan Kasta: Pergulatan Kelas Menengah Bali” dan “GLOBALISM”: Pergulatan Politik Representasi atas Bali”.

Saat ini, Ari Dwipayana juga masih mengemban tugas sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) di sela-sela kesibukannya untuk Bali dan Indonesia.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire