Ajak peduli sungai, 'Ngangsu Banyu' akan libatkan ratusan anak-anak dan remaja di Kudus
Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR), Kudus, Jawa Tengah kembali mengelar kegiatan 'Ngangsu Banyu', Sabtu (24/8).

Elshinta.com - Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR), Kudus, Jawa Tengah kembali mengelar kegiatan 'Ngangsu Banyu', Sabtu (24/8). Kegiatan yang digelar pada bulan Agustus ini sekaligus untuk memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia. "Melalui kegiatan “Ngangsu Banyu” RKBBR ingin mengajak seluruh masyarakat lebih menghargai, mencintai dan memelihara keharmonisan hidup dengan lingkungannya," ujar Irianto Gunawan, pengurus RKBBR.
Kali ini Ngangsu Banyu mengambil tema “Cerita dari Sungai”. Hal ini sengaja diangkat untuk menggugah kesadaran masyarakat pentingnya sungai bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup.
“Menyadari pentingnya sungai bagi kehidupan manusia dan banyak makhluk hidup, sudah selayaknya RKBBR memberikan pencerahan terutama kepada anak-anak dan remaja untuk ikut sadar dan peduli serta berperan aktif menjaga ekosistem sungai,” ungkapnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Selasa (20/8).
Ia menambahkan, sungai adalah salah satu bagian ekosistem yang sangat penting peranannya dalam kehidupan manusia. Melalui sungai, air yang mengalir dari mata air ini kemudian bermuara ke laut, terdapat banyak kehidupan yang sangat bergantung kepada sungai. Selain juga untuk keperluan lain seperti irigasi pertanian, transportasi dan pembangkit energi, dan sebagainya. Kesemuanya ini sangat penting bagi manusia, sehingga sangat penting untuk menjaga sungai.
Pihaknya juga akan menghadirkan dalang wayang sungai (kali) dari Jepara, Muhammad Hasan (Den Hasan). Ia akan mengedukasi ratusan anak-anak dan remaja tentang pentingnya kelestarian sungai melalui wayang kalinya.
Sebagaimana wayang sungai yang ditampilkannya, Den Hasan juga ingin memberikan pendidikan dan pengetahuan pentingnya menjaga ekologi. Menghadirkan karakter dan tokoh ikan, “Cerita dari Sungai” akan ditampilkan memikat dan interaktif bersama anak-anak dan remaja. Sehari-harinya, Den Hasan menghidupkan Rumah Belajar Ilalang yang didirikannya.
“RKBBR dengan Ngangsu Banyu dan Den Hasan dengan Wayang Kali, kiranya pas untuk dijadikan sebagai momentum penting untuk melihat kembali sungai,” kata Asa Jatmiko.
Lebih lanjut menurut Asa, RKBBR berusaha untuk terus menggemakan “Laudato Si”, yakni ajakan untuk menjaga, merawat alam dari kehancuran. Ajakan ini dengan cara mengritik konsumerisme dan pembangunan yang tak terkendali, menyesalkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global, serta mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mengambil aksi global yang terpadu dan segera.