Atasi diabetes melitus, mahasiswa UGM buat inovasi postbiotik dari umbi suweg
Kasus penyakit diabetes melitus tipe 2 di Indonesia menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga. Maraknya penyakit tersebut membuat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Tim Paenbio melakukan inovasi untuk menurunkan kadar gula darah bagi penderita penyakit diabetes melitus tipe 2 atau DM tipe 2.

Elshinta.com - Kasus penyakit diabetes melitus tipe 2 di Indonesia menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga. Maraknya penyakit tersebut membuat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Tim Paenbio melakukan inovasi untuk menurunkan kadar gula darah bagi penderita penyakit diabetes melitus tipe 2 atau DM tipe 2.
Para mahasiswa tersebut membuat inovasi dengan memanfaatkan umbi suweg yang diolah menjadi postbiotik. Tim Paenbio melihat potensi salah satu umbi asli khas Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai medicinal food untuk DM tipe 2, yaitu umbi suweg. Umbi suweg memiliki indeks glikemik yang rendah sehingga cocok untuk dikonsumsi oleh penderita DM tipe 2.
Salah satu mahasiswa, Maulana Sabrang Amirullah menjelaskan bahwa umbi suweg memiliki kandungan pati resisten yang tinggi dan kaya akan serat glukomanan sehingga berpotensi untuk diolah menjadi postbiotik dengan cara mengikatkannya dengan butirat. Postbiotik juga dapat menjadi alternatif dari pengembangan produk prebiotik karena dapat meningkatkan populasi bakteri penghasil butirat pada saluran cerna penderita DM tipe 2.
"Postbiotik dibuat dengan mengekstraksi pati umbi suweg terlebih dahulu, selanjutnya dilakukan pengikatan pati dengan butirat yang keberhasilannya diuji melalui titrasi dan analisis Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Postbiotik yang telah berhasil dibuat kemudian diberikan kepada hewan coba berupa tikus dengan kondisi DM tipe 2," ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Selasa (20/8).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Paenbio menunjukkan bahwa postbiotik berhasil memberikan manfaat kesehatan bagi tikus dengan kondisi DM tipe 2. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penurunan secara signifikan dari kadar gula darah, kolesterol, trigliserida, dan LDL, serta meningkatnya kadar HDL. Selain itu, melalui analisis menggunakan qPCR dan Ribosomal Intergenic Spacer Analysis (RISA) ditunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan bakteri penghasil butirat dan keragaman bakteri saluran cerna pada tikus yang diberikan postbiotik. Dilakukan pula analisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) yang menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan kadar asam lemak rantai pendek jenis butirat, asetat, dan propionat pada tikus yang diberikan postbiotik.
"Inovasi produk postbiotik yang diciptakan oleh Tim Paenbio ini telah terbukti dapat memberikan manfaat kesehatan dalam manajemen kondisi DM tipe 2," imbuhnya.
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan oleh lima orang mahasiswa UGM, yaitu Divara Hana Vania, Vanessa Amelia Ananta, Tania Putri Widiastuti, Maulana Sabrang Amirullah, dan Aqiilah Naurah Rahmi. Kelima mahasiswa tersebut berasal dari tiga fakultas di UGM, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, dan Fakultas Teknologi Pertanian, serta berada di bawah bimbingan dosen Dr. Rio Jati Kusuma dari Fakultas Kedokteran.