Top
Begin typing your search above and press return to search.

Toleransi menjadi poin penting dari kedatangan Paus Fransiskus

Paus Fransiskus adalah simbol pesan moral terkait keberagaman sebagai sebuah realitas kebhinekaan yang harus dihadapi dengan cara menghormati dan menghargai antar perbedaan. Bahkan harapannya perbedaan bisa membuat seseorang memiliki kemampuan untuk saling bekerjasama dan berkolaborasi dalam mewujudkan kesejahteraan hidup.

Toleransi menjadi poin penting dari kedatangan Paus Fransiskus
X
Arsip - Paus Fransiskus (tengah) turun dari pesawat setibanya dari Vatikan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom/pri

Elshinta.com - Paus Fransiskus adalah simbol pesan moral terkait keberagaman sebagai sebuah realitas kebhinekaan yang harus dihadapi dengan cara menghormati dan menghargai antar perbedaan. Bahkan harapannya perbedaan bisa membuat seseorang memiliki kemampuan untuk saling bekerjasama dan berkolaborasi dalam mewujudkan kesejahteraan hidup.

Hal ini disampaikan psikolog sosial dari Universitas Katolik Soegijapranata, Suharsono dalam wawancara bersama Radio Elshinta pada Kamis (05/9/2024).

“Sri Paus yang Mulia adalah sebagai simbol pesan moral terkait keberagaman yang menjadi realitas kebhinekaan atau fakta kehidupan yang harus dihadapi. Kita dihadapkan pada sebuah kesadaran bahwa perbedaan itu harus kita hormati setinggi-tingginya, memahami untuk saling menghargai bahkan bisa bekerja sama dan berkolaborasi dengan siapapun yang memiliki perbedaan latar belakang untuk menciptakan kesejahteraan,” ujar Suharsono.

Toleransi menjadi poin penting yang ingin disampaikan dan ditanamkan oleh Paus Fransiskus. Rasa menghargai perbedaan dan mendorong diri untuk melangkahkan kaki berkontribusi memberikan yang terbaik terhadap mereka yang berbeda.

“Poin penting dari toleransi yg dipesankan Sri Paus adalah kemampuan kita untuk menenggang perbedaan ini, dari sisi itu kita terdorong untuk melangkahkan kaki untuk menyambut mereka yg berbeda dg sebaik mungkin dengan value yang dimiliki, memberikan kontribusi bantuan sesuai yang kita punya untuk mereka yg berbeda dan ada ruang yang luas untuk respek," ujarnya.

Suharsono menjelaskan jika masih banyak terjadi kasus-kasus intoleran di mana perbedaan tidak dihargai sebagai fakta kehidupan, ada 3 poin yang harus diperhatikan, disadari, dipahami lalu dilakukan.

Pertama, secara psikologis seseorang yang memiliki suatu keyakinan tertentu akan cenderung memberikan penilaian negatif terhadap orang yang memiliki keyakinan berbeda dengannya dan merasa dirinya yang terbaik (selfish).

Kedua, penilaian negatif yang muncul terhadap suatu perbedaan membuatnya ingin meniadakan atau menyeragamkan perbedaan tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan.

Ketiga, seseorang paham bahwa ada naluri negatif dan rasa ingin meniadakan suatu perbedaan dalam dirinya, tapi sanggup dengan kesadaran penuh untuk tidak melakukan tersebut dan sadar perbedaan adalah fakta kehidupan yang ada dan tidak boleh memaksakan kehendak.

Lebih lanjut, Suharso mengatakan bahwa dari 3 poin tersebut menjadi dasar setiap orang untuk menentukan suatu keputusan yang dapat dipilih oleh setiap orang dalam merespon adanya perbedaan.

“Dengan kedatangan Sri Paus, Indonesia diingatkan akan nilai-nilai kebhinekaan yang dimiliki,” tambah Suharso.

Sebelumnya diketahui, Paus Fransiskus menyampaikan pesan tentang pentingnya penghormatan terhadap keberagaman dan persaudaraan dalam upaya mewartakan Injil. Pernyataan ini disampaikan dalam audiensi bersama para uskup, imam, biarawan-biarawati, dan pelayan gereja di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (4/9/2024)

Kamis (5/9/2024) hari ini Paus Fransiskus memimpin Misa Kudus di Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Madya, Jakarta. Kegiatan Paus juga dilakukan di beberapa lokasi salah satunya ke Masjid Istiqlal. (Sus/Ter)

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire