Senin, 17 Desember 2018 | 18:04 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Kebijakan lima hari sekolah perlu dievaluasi

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
<p>Pengamat pendidikan yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Sudharto mengatakan kebijakan lima hari sekolah untuk SMA dan SMK di Jateng perlu dievaluasi secara menyeluruh.</p><p><br></p><p>"Pelaksanaan lima hari sekolah semestinya dievaluasi oleh tim independen, artinya tidak memihak siapa-siapa," katanya usai melantik pengurus cabang Ikatan Purnakarya Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang di Magelang, Senin.</p><p><br></p><p>Menurut dia, evaluasi harus dilakukan secara objektif karena ada perubahan yang sangat mendasar, dari program lima hari sekolah menuju lima hari.</p><p><br></p><p>Mantan Ketua Umum PGRI ini mengatakan saat pertama kali program lima sekolah bagi siswa SMA dan SMK di Provinsi Jateng, tidak pernah ada dokumen yang menyebut kelemahan dari enam hari sekolah tersebut. Perubahan tersebut semestinya dilakukan untuk memperbaiki yang lemah.</p><p><br></p><p>"Saya tidak tahu, oleh karena itu sebaiknya memang ada evaluasi melalui tim yang melakukan penelitian dengan sampel di seluruh Jawa Tengah," katanya.</p><p><br></p><p>Ia mengatakan pelaksaan lima hari sekolah bagi siswa SMA dan SMK tersebut sebagian besar menemui permasalahan.</p><p><br></p><p>"Sebagian besar mengatakan bahwa melelahkan. Jadi daya serap turun dan guru juga mengakui, karena bisa dimaklumi, berbeda di luar negeri, kalau sore sekolah, sekolah itu sepenuhnya sesuai dengan minat mereka. Nah, kalau ini tidak, jadi jadwal dibagi ada yang pagi dan sore," kata Sudharto.</p><p><br></p><p>Ia mencontohkan, ada yang punya potensi di matematika, kalau sore hari diberi matematika masih antusias.</p><p><br></p><p>"Tetapi anak yang potensinya di bidang sosial, kalau diberi matematika susah. Jadi, durasi belajar mengajar dipengaruhi oleh minat ini," katanya.</p><p><br></p><p>Menurut dia, saat awal dilakukan tidak pernah dilakukan inventarisasi dan problem apa saja ketika enam hari sekolah. Justru saat dilangsungkan lima hari sekolah, katanya, semangat belajarnya menurun. (Ant). </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 17 Desember 2018 - 17:55 WIB

Sembilan orang tewas akibat bom mobil di Suriah

Aktual Pemilu | 17 Desember 2018 - 17:33 WIB

KPU jamin hak pemilih yang belum masuk DPT

Pileg 2019 | 17 Desember 2018 - 17:12 WIB

Jokowi sebut caleg PKB punya militansi tinggi

<p>Pengamat pendidikan yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Sudharto mengatakan kebijakan lima hari sekolah untuk SMA dan SMK di Jateng perlu dievaluasi secara menyeluruh.</p><p><br></p><p>"Pelaksanaan lima hari sekolah semestinya dievaluasi oleh tim independen, artinya tidak memihak siapa-siapa," katanya usai melantik pengurus cabang Ikatan Purnakarya Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang di Magelang, Senin.</p><p><br></p><p>Menurut dia, evaluasi harus dilakukan secara objektif karena ada perubahan yang sangat mendasar, dari program lima hari sekolah menuju lima hari.</p><p><br></p><p>Mantan Ketua Umum PGRI ini mengatakan saat pertama kali program lima sekolah bagi siswa SMA dan SMK di Provinsi Jateng, tidak pernah ada dokumen yang menyebut kelemahan dari enam hari sekolah tersebut. Perubahan tersebut semestinya dilakukan untuk memperbaiki yang lemah.</p><p><br></p><p>"Saya tidak tahu, oleh karena itu sebaiknya memang ada evaluasi melalui tim yang melakukan penelitian dengan sampel di seluruh Jawa Tengah," katanya.</p><p><br></p><p>Ia mengatakan pelaksaan lima hari sekolah bagi siswa SMA dan SMK tersebut sebagian besar menemui permasalahan.</p><p><br></p><p>"Sebagian besar mengatakan bahwa melelahkan. Jadi daya serap turun dan guru juga mengakui, karena bisa dimaklumi, berbeda di luar negeri, kalau sore sekolah, sekolah itu sepenuhnya sesuai dengan minat mereka. Nah, kalau ini tidak, jadi jadwal dibagi ada yang pagi dan sore," kata Sudharto.</p><p><br></p><p>Ia mencontohkan, ada yang punya potensi di matematika, kalau sore hari diberi matematika masih antusias.</p><p><br></p><p>"Tetapi anak yang potensinya di bidang sosial, kalau diberi matematika susah. Jadi, durasi belajar mengajar dipengaruhi oleh minat ini," katanya.</p><p><br></p><p>Menurut dia, saat awal dilakukan tidak pernah dilakukan inventarisasi dan problem apa saja ketika enam hari sekolah. Justru saat dilangsungkan lima hari sekolah, katanya, semangat belajarnya menurun. (Ant). </p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Minggu, 16 Desember 2018 - 16:13 WIB

Ini cara cegah kejahatan `SIM swap fraud` ala Bareskrim

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:27 WIB
Hari Menanam Nasional 2018

PKSM dan Pramuka bagikan 3.500 batang pohon kepada pengguna jalan

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:19 WIB

Disdukcapil Kotabaru memusnahkan ratusan KTP-el rusak

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com