Acara tradisi Sekaten Kraton Surakarta diwarnai insiden pemukulan
Keributan terjadi acara tradisi Sekaten Karaton Surakarta ketika memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Bahkan diwarnai insiden pemukulan ketika prosesi menabuh gamelan. Hal ini dibenarkan Pengageng Parentah Keraton Solo KGPH Dipokusumo.

Elshinta.com - Keributan terjadi acara tradisi Sekaten Karaton Surakarta ketika memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Bahkan diwarnai insiden pemukulan ketika prosesi menabuh gamelan. Hal ini dibenarkan Pengageng Parentah Keraton Solo KGPH Dipokusumo.
"Kalau saya SOP saya, sesuai dawuh dalem," ucapnya di sela-sela acara kepada Kontributor Elshinta, Agung Santoso, Selasa (10/9).
Keributan ini terjadi setelah dua pusaka gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Sedangkan gamelan itu ditabuh di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta, Senin (09/09/2024). Untuk memerintah menabuh ini sesuai prosedur oleh menantu raja, Kanjeng Raden Aryo Rizki Baruno Ajidiningrat.
"Memang benar, gamelan ditabuh terlebih dahulu, " terangnya kepada awak media.
Perintah untuk menabuh setelah usai prosesi pembacaan doa dari masjid. Hanya saja, terdengar tabuhan gamelan sebelum anak mantu raja memerintah hingga muncul protes. Menantu raja yang protes diminta keluar dari lokasi gamelan hingga pemukulan oleh pengawal kerabat raja.
"Saya dapat perintah langsung dari Sinuhun (PB XIII) untuk memulai gongso (menabuh gemelan), kenapa harus harus diwiwiti (dimulai) dulu. Adatnya saya diutus (perintah) dari Masjid Agung baru menabuh gamelan, benar atau tidak. Ini dawuh (perintah) PB XIII, kok dimulai sendiri (LDA),” kata Gusti Haryo.
Lantaran keributan tersebut, petugas TNI dan Polri berusaha menjauhkan satu sama lain. Bahkan insiden tersebut ketika kunjungan pelajar di komplek masjid. Ada beberapa kerabat, hadir di tempat gamelan bangsal selatan seperti Gusti Mung sekaligus prosesi nginang. Perwakilan Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Kanjeng Pangeran Eddy Wirabhumi di Solo yang juga hadir menyebut masalah ini hanya salah komunikasi.
“Saya mendengar sendiri yang mendapatkan perintah menabuh gemelan sekaten. Jadi mungkin, yang protes tidak tahu kalau dawuh (perintah) dari sana tadi kanjeng sinuwun (PB XIII) itu saja,” terangnya.