Cegah Kekerasan dan bullying, Pemkab Kudus gelar literasi medsos untuk pendidikan
Literasi media sosial menjadi hal penting untuk penguatan kampanye anti kekerasan. Narasi media sosial berpengaruh untuk mempengaruhi publik, baik secara positif maupun sebaliknya. Media sosial juga bisa digunakan untuk mengkampanyekan anti kekerasan.

Elshinta.com - Literasi media sosial menjadi hal penting untuk penguatan kampanye anti kekerasan. Narasi media sosial berpengaruh untuk mempengaruhi publik, baik secara positif maupun sebaliknya. Media sosial juga bisa digunakan untuk mengkampanyekan anti kekerasan.
Dalam rangka HUT Kudus, Pemkab Kudus dan Kemendikbudristek berkolaborasi untuk menyelenggarakan literasi media sosial untuk mencegah kekerasan. Kegiatan bertema Literasi Media Sosial dan Anti Kekerasan ini dilangsungkan di Pendapa Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (14/9).
Pj Bupati Kudus menyebut, masyarakat perlu memiliki literasi yang baik. Sehingga berdampak baik pula ketika bermedsos.
”Semua orang saat ini bisa menjadi produser dan publisher konten. Namun, tetap harus berhati-hati,” ungkap Hasan Chabibie yang juga Kepala BKHM Kemendikbudristek.
Hasan menjelaskan, pihaknya juga mewanti-wanti, lantaran saat ini juga sudah ada Undang-Undang ITE. Maka dari itu ia meminta agar masyarakat saring sebelum sharing.
”Karena aktivitas yang kita post itu sudah masuk ke ranah publik. Sehingga ketika sudah masuk ke ranah publik maka tidak bisa lagi dikontrol. Maka saring sebelum sharing menjari penting,” sambungnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Selasa (17/9).
Berkaca dari hal itu, ia meminta agar masyarakat melek literasi dan bijak dalam bermedsos. Sehingga bisa memberikan efek budaya positif serta terhindar dari kesalahan bermedsos.
”Bijaklah bermedsos, jangan jadikan untuk kekerasan. Medsos yang kita miliki itu cermin diri kita,” terangnya.
Hasan mengungkapkan minat baca di Indonesia saat ini 0,001 persen. Artinya dari seribu orang yang benar-benar baca hanya satu, sisanya baca langsung skip.
Ia tidak menampik budaya bermedsos tidak bisa dicegah. Menurutnya, masyarakat lebih suka main medsos daripada membaca novel.
Sementara itu, Plh. Kepala BKHM Kemendikbudristek Anang Ristanto yang hadir dalam acara ini, memberikan saran agar masyarakat melek literasi. Ia menyebutkan pentingnya literasi ketika menggunakan medsos.
”Tanpa literasi yang memadai pengguna medsos bisa terjebak hoaks. Maka kami selalu mengampanyekan bijak bermedsos,” katanya.
Pihaknya menilai literasi merupakan hal yang penting ketika bermain media sosial. Sebab bisa membentuk etika.
”Dengan adanya pikiran yang kritis, maka bermain medsos bisa lebih bijak,” terangnya. Ia mengibaratkan jari merupakan harimau. Slogan itu menurut dia perlu dipahami dan diterapkan dengan baik.