Top
Begin typing your search above and press return to search.

Berdayakan warga, Tenun Troso binaan Pertamina 'terbang' ke Negeri Tirai Bambu

Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menjadi sentra industri kain tenun. Keunikan tenun Troso ini salah satunya adalah dalam hal pembuatannya. Pembuatan tenun Troso ini masih menggunakan cara tradisional belum mengunakan mesin atau yang lebih dikenal dengan alat tradisional bukan mesin (ATBM). 

Berdayakan warga, Tenun Troso binaan Pertamina terbang ke Negeri Tirai Bambu
X
Sumber foto: Sutini/elshinta.com.

Elshinta.com - Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menjadi sentra industri kain tenun. Keunikan tenun Troso ini salah satunya adalah dalam hal pembuatannya. Pembuatan tenun Troso ini masih menggunakan cara tradisional belum mengunakan mesin atau yang lebih dikenal dengan alat tradisional bukan mesin (ATBM).

Data Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jepara pada Tahun 2020 terdapat 280 usaha tenun dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 2.500an orang. Namun dalam beberapa tahun terakhir banyak yang gulung tikar karena pengaruh perang antara Rusia dan Ukraina. Penurunan usaha tenun sekitar 30 persen imbas dari berkurangnya kunjungan turis ke Bali. Pemasaran tenun Troso kebanyakan kewilayah Bali, Jakarta dan Yogyakarta.

Salah satu usaha yang tetap bertahan dari tahun 1980an yakni tenun Shinta Dewi yang kini diteruskan oleh generasi kedua. Menurut pemilik usaha Riyan Hidayat, pada saat sebelum Covid-19, usaha tenun di Desa Troso cukup terkenal dan laris. Apalagi saat Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memakai baju dari kain tenun asal Desa Troso yang akhirnya terkenal dengan sebutan tenun SBY.

"Tenun yang dipakai bapak Presiden, tenun buatan usaha keluarga kami, jadi saat itu langsung ramai pesanan", katanya, Minggu (27/10).

Ia menceritakan dari 15 tahun lalu, tenun Troso Shinta Dewi sudah menjadi mitra binaan Pertamina. Awalnya yang menjadi mitra binaan Pertamina yakni usaha tenun yang dijalankan oleh bapaknya, kemudian ia diminta meneruskan. Rata-rata usaha tenun di Desa ini dilakukan turun temurun bahkan sudah ada sejak jaman penjajahan. Sebagian besar tenaga kerja pembuat tenun mulai dari memintal benang, mencelup benang maupun kain, mengikat dilakukan oleh laki-laki dengan prosentasenya 60 persen, 40 persen perempuan.

"Berkat dibina Pertamina, saya bisa ikut pameran bahkan dua kali diajak pameran ke luar negeri sebelum Covid-19, ikut pameran ke China dan Belanda. Saya jadi banyak belajar dan tambah pengalaman kenal buyer-buyer dalam dan luar negeri", ujar Riyan seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Senin (28/10).

Ia juga menceritakan pengalaman selama ikut pameran dinegeri tirai bambu maupun negeri kincir angin. Bahwa karakter orang Belanda itu sangat suka barang yang berkualitas dan unik berbeda dengan orang China yang suka barang jadi seperti baju.

"Pengalaman ini saya tularkan ke pengusaha tenun lainnya. Ada 10 orang yang saya ajak bergabung ikut menjadi binaan Pertamina agar mereka juga bisa mengembangkan usaha", ungkap pengusaha yang kini merambah bidang kuliner.

Ramainya penjualan tenun usai mengikuti pameran-pameran yang difasilitasi oleh Pertamina bahkan ada yang sampai pembeli datang dari Jakarta ke Jepara untuk membeli tenun Troso. Sebelum Covid-19, ia sempat mempunyai tenaga kerja antara 100 hingga 150 orang. Namun kini hanya sekitar 50 hingga 100 orang. Pada saat Covid usaha tenun benar-benar terpuruk sehingga pelatihan melalui zoom dari Pertamina sangat membantu agar usaha tetap berjalan. Sejak itu bisa berkreasi membuat pakaian jadi memadu madankan dengan batik kemudian menjual secara online.

"Membuat tenun itu tidak bisa sehari jadi, bahkan ada yang sampai 3 bulan. Benang pembuatan tenun juga didatangkan dari China untuk benang emas, kalau benang sutra dari India. Itulah kenapa harga tenun relatif mahal", imbuh Riyan.

Ditambahkan, kolaborasi dengan 10 pengusaha lainnya berdampak terhadap usaha mereka yang tetap bisa bertahan ditengah persaingan sesama pengusaha tenun yang terkadang membuat persaingan usaha tidak sehat. Dari 10 pengusaha ini terdapat ratusan pekerja yang menopang kehidupan mereka dari usaha tenun Troso.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, Pertamina berkomitmen untuk mendukung pengembangan UMKM binaannya melalui program pelatihan, akses ke teknologi, dan jaringan pemasaran.

“Dengan semangat kolaborasi, diharapkan UMKM dapat meningkatkan daya saing dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” tambah Fadjar.

Dukungan dari Pertamina, UMKM diharapkan dapat terus berinovasi dan meningkatkan daya saing di pasar global. Melalui partisipasi dalam pameran internasional, Pertamina berkomitmen untuk membantu UMKM Indonesia dalam mengoptimalkan potensi mereka dan memperluas akses pasar baik nasional maupun internasional.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

Kasi UKM Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jepara Arifin mengatakan berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara untuk meningkatkan usaha tenun "naik kelas". Data tahun 2020 lalu ada 280 usaha tenun di Desa Troso, kondisinya saat ini semakin berkurang. "Perang Rusia dengan Ukraina berpengaruh terhadap kunjungan turis ke Bali. Padahal penjualan tenun troso terbesar ke wilayah pariwisata tersebut. Sebagian kecil baru lokal Jateng. Kalau diprosentasekan sekitar 30 persen penurunan jumlah pengrajin tenun imbas dari perang", jelasnya.

Disampaikan pihaknya juga mengerakkan kembali pemasaran online agar tidak banyak lagi pengrajin yang gulung tikar. Ia menyebut Pemkab Jepara terbuka bagi BUMN atau universitas yang ikut melakukan pembinaan kepada para pengrajin.

"Kami telah mendaftarkan secara resmi tenun Troso sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI) secara Komunal Intelektual tenun khas Jepara meski masih proses", kata Arifin.

Mengenai ekspor tenun troso, Arifin mengatakan belum ada ekspor secara besar-besar dengan tujuan negara tertentu. Kalau pun ada ekspor itu biasanya tenun dititipkan sama mebel yang dikirim ke negara pemesan. "Pernah ada memang pengusaha yang mengirim ke luar negeri tapi dipacking bareng mebel", imbuhnya.

Menurut Ketua Lembaga Pelestari Ukir, Batik dan Tenun Jepara, Hadi Priyanto, ada 2500 orang di Desa Troso yang berkecimpung membuat tenun dan mengantungkan hidup dari usaha tersebut. Keahlian membuat tenun sudah dimiliki oleh warga Desa Troso secara turun temurun baik itu laki-laki maupun perempuan. Seiring perkembangan jaman para pengrajin tenun Troso tidak hanya menjual tenun dalam bentuk lembaran kain melainkan pakaian jadi bahkan ada yang memadupadankan dengan batik.

"Agar tenun tetap lestari disetiap kegiatan kami libatkan anak muda. Dengan harapan mereka akan mencintai kain tenun sebagai warisan budaya nenek moyang mereka", ujarnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire