Pernah dipasarkan keliling, kaligrafi karya pemuda jepara tembus pasar nasional
Tangan cekatan Putut Setiawan (35) warga Desa Kawak RT 05 RW 01, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah saat mengecek satu persatu kaligrafi yang terpahat di kayu jati di samping rumahnya.

Elshinta.com - Tangan cekatan Putut Setiawan (35) warga Desa Kawak RT 05 RW 01, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah saat mengecek satu persatu kaligrafi yang terpahat di kayu jati di samping rumahnya. Salah satu mitra binaan Pertamina ini dahulu hanya seorang kuli di salah satu perusahaan mebel atau furniture di Jepara. Bertekad memperbaiki perekonomian keluarga, ia kemudian membuat usaha kecil-kecilan ditahun 2019 lalu bernama "Setiawan Produk Kaligrafi".
"Saat itu ada teman yang mengenalkan saya dengan Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina sehingga saya dapat modal untuk memperbesar usaha saya seperti membeli mesin bubut dan peralatan lainnya hampir Rp60 juta," katanya, Senin (28/10).
Tempat usaha Putut Setiawan ini cukup jauh dari perkotaan sekitar 10 kilometer dari ibu kota Kabupaten. Ketika merintis usaha ini tidak begitu saja berjalan mulus, di saat usaha mulai terlihat hasilnya justru Indonesia dilanda Covid-19. "Sempat terpuruk, menawarkan ke toko-toko secara keliling untuk menitipkan hasil kaligrafinya agar bisa bertahan hidup", ujar Putut seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini.
Beruntung saat itu ia sudah menjadi mitra binaan Pertamina. Di saat kondisi sulit, pihak Pertamina mengelar pelatihan pemasaran secara daring atau online. Para mitra diajari melihat peluang pasar juga cara packing dan sebagainya.
"Ternyata pangsa pasar digital itu sangat luas, saya baru tau setelah ikut pelatihan. Kini produk kaligrafi saya sudah dipesan dari berbagai penjuru tanah air kecuali Papua dan Bali belum pernah kirim. Rata-rata perbulan bisa laku 2 sampai 3 buah, kalau dihitung dalam setahun bisa mencapai Rp250 juta," imbuhnya.
Putut menceritakan kalau kaligrafi itu tidak seperti perkakas mebeler karena mempunyai nilai seni tersendiri jadi harga tidak bisa dipatok sama seperti barang lainnya.
"Awal usaha, setahun itu hanya ada satu pesanan. Namun, saya bertekad kalau tahun ini hanya satu yang laku, tahun berikutnya harus lebih dari 2 buah kaligrafi. Dan ternyata tahun berikutnya bisa laku 6 buah", ujarnya.
Keuletannya dalam menjalankan usaha terinpirasi dari "Jack Ma" seorang pebisnis sukaes dari Tiongkok yang menyatakan "jika dalam dua tahun usahamu tidak membuahkan hasil maka beralihlah keusaha yang lain". Prinsip itu semakin melecut semangat pengusaha yang kini mempunyai 2 karyawan tetap dan 5 karyawan tidak tetap ini. Mereka bisa mengantungkan ekonomi keluarga dari usaha kaligrafi.
Poses pembuatan kaligrafi dikerjakan pekerja dibawa kerumah-rumah baru waktu finishing dibawa ke tempat usaha Setiawan Produk Kaligrafi. "Yang mengerjakan para tetangga, mereka pekerja tidak tetap jadi sewaktu-waktu ada pesanan dibawa kerumahnya. Para pengukir pembuat kaligrafi ini tidak hanya ambil dari tempatnya saja tetapi juga dari usaha-usaha lain", imbuhnya.
Mukhoyin salah satu karyawan tetap di Setiawan Produk Kaligrafi mengaku sudah dua tahun bekerja membuat bingkai kaligrafi. Ia yang dulu sering merantau ke luar pulau Jawa bekerja di usaha mebel di luar pulau. Kini ia sudah tidak merantau jauh untuk mengais rejeki. "Saya di sini saja dekat rumah, bisa ketemu keluarga setiap hari. Saya kerja membuat bingkai kaligrafi dari kayu mahoni dan kayu jati. Saya mulai kerja dari jam 8.00 WIB sampai jam 16.00 WIB diberi upah Rp.95.000,- perhari. Alhamdulillah penghasilan saya mencukupi kebutuhan keluarga", ujar pemuda lulusan SMP.
Brasto Galih Nugroho Area Manager Communication Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mengatakan salah satu bentuk program pembinaan yang kerap dijalankan oleh Pertamina adalah pameran dimana para mitra binaan diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan pameran dengan dukungan biaya dari Pertamina. Dari kegiatan pameran tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih besar lagi karena tidak hanya menarik pembeli di tempat pada kesempatan itu saja tapi juga pembeli potensial yang berasal dari wilayah lainnya.
Selain pameran, Pertamina juga mendorong promosi dan publikasi mitra binaannya melalui berbagai media, baik media konvensional maupun media sosial yang dimiliki Pertamina maupun yang tidak dikelola oleh Pertamina. Dari situ harapannya hasil produksi mitra binaan bisa semakin dikenal lebih luas.
Tak hanya itu, bentuk program pembinaan lainnya juga diantaranya pelatihan bagi mitra binaan. Salah satu program pelatihan yang sedang hangat dijalankan dan cukup intensif adalah UMK Academy. Program ini dijalankan secara terpusat mengikuti proses dan kurikulum yang sudah dikonsepkan oleh Holding Pertamina.
Program dijalankan berjenjang dari skala regional atau daerah hingga masuk ke nasional. PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menjadi pelaksana untuk sebagian wilayah di Jawa Tengah dan DIY selain PT Kilang Pertamina Internasional, Rumah BUMN Temanggung, dan Rumah BUMN Purbalingga. Pada program tersebut terdapat berbagai materi pelatihan yang diberikan, salah satunya terkait pemasaran digital bagi pelaku UMK.
Ia juga menambahkan jika Pertamina sebagai BUMN menjalankan Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PPUMK) sebagai salah satu program Tanggung Jawa Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diatur pada Peraturan Menteri BUMN. Melalui program tersebut Pertamina memberikan dukungan pinjaman modal usaha dan pembiayaan syariah sekaligus kesempatan pembinaan dan pengembangan usaha para mitra binaannya.
"Sejak tahun 2023 penjaringan pelaku usaha untuk menjadi mitra binaan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PPUMK) BUMN disinergikan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk skema pinjaman konvensional dan Pegadaian untuk skema pembiayaan syariah sesuai arahan Kementerian BUMN. Jadi, bagi para pelaku usaha mikro dan kecil, khususnya di Jepara dapat mengakses program tersebut dengan melakukan pendaftaran dan pengajuan melalui BRI dan Pegadaian", imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pelestari Ukir, Batik dan Tenun Jepara, Hadi Priyanto, menyampaikan Kabupaten Jepara terkenal dengan sebutan kota ukir. Hampir tiap desa terdapat usaha ukir yang kategori usaha besar maupun kecil. Data yang dihimpun ada 8000an usaha ukir di Jepara. Usaha Kaligrafi termasuk dalam kategori seni ukir. "Kalau tenaga kerja ada puluhan ribu, keahlian mengukir mereka juga turun temurun", katanya saat dikonfirmasi.
Pekerja disektor ini, menurutnya diberi upah dengan nilai yang rendah karena dianggap pekerjaan yang tidak "elit" sebab dengan berbekal ijazah seadanya asal mereka mempunyai keahlian memahat kayu akan bisa bekerja. Rata-rata pemuda Jepara memilih ke pabrik garmen dan sebagainya yang bermunculan diwilayah Jepara. Padahal seni memahat kayu merupakan keahlian yang tidak dimiliki sembarang orang. Makanya demi menumbuhkan semangat serta menolak ukir Jepara punah.
"Kami gagas festival mengukir yang diikuti oleh pelajar mulai dari SD sampai SMA", imbuh Hadi.
Data Disperindag Kabupaten Jepara, jumlah pelaku usaha mebel yang tercatat pada tahun 2022 tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Jepara 471 pelaku usaha, Tahunan (3.209), Pecangaan (291), Kalinyamatan (33), Welahan (49), dan Mayong (190). Data tersebut merupakan data usaha industri furniture ataupun mebel yang melaporkan ke Instansi terkait. Sebab masih banyak usaha-usaha kecil skala rumahan yang tidak mendaftarkan.