Bank Dunia tinjau program M4CR yang dilaksanakan BRGM di Langkat
World Bank (Bank Dunia) melakukan peninjauan ke sejumlah kelompok tani hutan. Peninjauan ini terkait adanya kerjasama antara World Bank dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam melaksanakan percepatan rehabilitasi mangrove melalui program Mangrove for Coastal Resiliance (M4CR).

Elshinta.com - World Bank (Bank Dunia) melakukan peninjauan ke sejumlah kelompok tani hutan. Peninjauan ini terkait adanya kerjasama antara World Bank dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam melaksanakan percepatan rehabilitasi mangrove melalui program Mangrove for Coastal Resiliance (M4CR).
Hal itu disampaikan Kepala Sub Kelompok Kerja Pengembangan dan Pemasaran Produk Mangrove, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Nuri Luthfiani, saat berada di Saung Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Bersama, Dusun Paluh Baru, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis (14/11/2024).
Dijelaskan Nuri program M4CR ini tidak hanya rehabilitasi atau penanaman mangrove saja. Tapi dimulai dari pra kondisi masyarakat, perencanaan, setelah itu penanaman, setelah penanaman itu ada kegiatan pelatihan kegiatan usaha yang berpotensi dilahan mangrove sampai ke pemberian bantuan usaha untuk masyarakat yang berada dilokasi rehabilitasi mangrove yang aktif melakukan rehabilitasi.
Dalam peninjauan program M4CR ini, khusus kepada pengembangan usaha masyarakat yang berada di wilayah kelompok yang mendapatkan program rehabilitasi mangrove. Sampai saat ini ada 85 kelompok pengembangan usaha yang dibina oleh BRGM tapi semua masih tahap awal, masih banyak proses yang harus dilalui untuk mendapatkan bantuan modal usaha.
"Program M4CR pengembangan usaha ini masih tahap awal berjalan di empat provinsi yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau, dan Sumatera Utara, jumlahnya 85 kelompok. Seperti di Kecamatan Gebang ini ada empat kelompok usaha masyarakat yang hari ini kita tinjau untuk mengetahui sampai sejauh mana usaha kelompok ini berjalan," sebut Nuri seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, M Salim, Jumat (15/11).
Jadi menurut Nuri tahun ini kelompok akan mengajukan rencana usaha (proposal) yang nantinya rencana usaha tersebut akan dinilai dan diseleksi apakah secara ekonomi berpotensi akan berkembang, lalu secara lingkungan apakah ramah terhadap mangrove. Kemudian secara sosial apakah menimbulkan konflik dimasyarakat atau tidak. Nanti rencana usaha yang telah memenuhi persyaratan akan diberikan modal usaha. Tidak hanya berhenti di permodalan saja tapi pendampingan-pendampingan akan kami berikan di masyarakat.
Lebih lanjut disebutkan Nuri untuk di Kecamatan Gebang ada empat kelompok yang sudah mengajukan rencana usaha seperti ekowisata mangrove, pembuatan keripik ikan baronang Pasar Rawa, ada pembuatan gula merah berbahan nipah (nypa fruticans) dari LPHD Pasar Rawa dan pembuatan terasi udang rebon di kelompok tani hutan Kuala Indah, Desa Kwala Gebang.
"Sebelumnya ke empat usaha ini sudah berjalan di lokasi rehabilitasi mangrove," ujarnya.
Selanjutnya masing-masing ketua kelompok mempresentasikan usahanya masing-masing dihadapan BRGM dan World Bank, mulai dari Kasto Wahyudi tentang ekowisata kemudian Rudi dengan potensi pembuatan gula merah berbahan nipah (nypa fruticans), Zulkifli dengan pembuatan terasi berbahan udang rebon dan Ida Hasibuan dengan keripik ikan 'Baronang' yang kesemua jenis usaha tersebut masih dalam proses penilaian oleh pihak BRGM layak atau tidak untuk mendapatkan modal usaha.
"Kami berharap usaha kami ini mendapat support modal dari BRGM, seandainya kami tidak mendapatkan bantuan, kami akan tetap berjalan meskipun lambat, tapi apabila ada bantuan dari BRGM maka kami akan berjalan dengan cepat," ujar Wahyudi.