Siti Nur Azizah Ma'ruf: Saya tak bercita-cita jadi profesor
Putri Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin ini memiliki gelar profesor di depan namanya. Tapi siapa sangka, gelar tersebut bukan cita-citanya. "Saya tidak bercita-cita menjadi guru besar," ungkap Siti Nur Azizah Ma'ruf dalam podcast Women Value di YouTube Elshinta, beberapa waktu lalu.\\\\r\\\\n\\\\r\\\\n\\\\r\\\\n

Elshinta.com - Putri Wakil Presiden ke-13 Ma'ruf Amin ini memiliki gelar profesor di depan namanya. Tapi siapa sangka, gelar tersebut bukan cita-citanya. “Saya tidak bercita-cita menjadi guru besar,” ungkap Siti Nur Azizah Ma'ruf dalam podcast Women Value di YouTube Elshinta, beberapa waktu lalu.
Prof. Dr. Hj. Siti Nur Azizah, S.H., M.Hum demikian nama lengkapnya, melihat teladan mengejar ilmu dengan pendidikan tinggi itu terinspirasi kehidupan sang ayah. “Saya melihat Abah dalam kehidupannya yang tidak lepas dari belajar. Tidak selalu formal. Kebetulan saja, saya salah seorang anaknya yang secara runtut bersekolah, dari pendidikan dasar sampai pasca sarjana,” paparnya kepada host Krisanti dalam rekaman podcast tersebut.
Profesor, kata Azizah, melekat sebagai jabatan akademik yaitu pekerjaannya sebagai dosen. Seperti diketahui Azizah merupakan Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya. Azizah pernah bekerja sebagai PNS di Kementerian Agama RI tahun 2004-2019, dikutip dari Wikipedia. Sementara itu, dalam karier politik, Azizah pernah running sebagai calon walikota Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.
Sebagai perempuan, Azizah sadar dirinya butuh strategi menghadapi tantangan dengan deretan tanggung jawab peran dalam bidang pekerjaan. “Saya anggap itu bukan kendala tapi tantangan. Kita sebagai perempuan harus bisa menyeimbangkan peran domestik dan publik. Peran dan fungsi perempuan banyak dan sangat penting. Perempuan bisa multitasking. Kemampuan untuk survive lebih besar ketimbang laki-laki. Tapi, tantangan jadi besar. Dan ditulah seninya,” papar perempuan kelahiran 5 September 1972.
Azizah menyelipkan sebuah harapan ingin punya perguruan tinggi sendiri. “Yang ditanamkan Abah, kita harus punya ilmu yang bermanfaat. Perguruan tinggi untuk mencetak generasi yang berkualitas berakhlakul karimah. Saya pengen punya lembaga pendidikan sendiri,” katanya.
Perempuan yang bernilai: “Dekat dengan Tuhannya. Dia juga mengenal dirinya. Dia tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dia akan mengasah dirinya dengan kemampuan kompetensi, pekan terhadap lingkungan dan berani melakukan kebaikan. (Ter)