Pompanisasi petani untuk mengairi area persawahan warga rusak di Aceh Utara
Hujan deras yang mengguyur kawasan Aceh Utara sejak dini hari mengakibatkan meluapnya sungai dan longsor, sehingga menyebabkan kerusakan serius pada sistem pompanisasi yang digunakan untuk mengairi area persawahan warga.
Foto: Hamdani/Radio ElshintaElshinta.com - Hujan deras yang mengguyur kawasan Aceh Utara sejak dini hari mengakibatkan meluapnya sungai dan longsor, sehingga menyebabkan kerusakan serius pada sistem pompanisasi yang digunakan untuk mengairi area persawahan warga.
Geuchik Gampong Teugoh Kuta Bate, Kecamatan Meurah Mulia, Yusriadi mengatakan pompanisasi tersebut merupakan sumber utama pengairan bagi sekitar 150 hektar sawah di lima desa, yaitu Leubok Tuwe, Pulo Blang, Beringen, Ujong Kuta Bate dan Teugoh Kuta Bate
Ia menyebutkan akibat kerusakan ini, para petani menghadapi risiko besar terhadap keberlangsungan usaha tani mereka.
Menurut Yusriadi, fasilitas pompanisasi ini dibangun dengan anggaran dari dana desa dan kontribusi petani, dengan total nilai investasi mencapai Rp 600 juta.
“Kerusakan ini sangat berdampak pada kami. Pompanisasi ini sangat penting untuk irigasi sawah, dan kami berharap pemerintah dapat membantu memperbaikinya segera,” ujarnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hamdani.
Selain kerusakan pompanisasi, hujan deras juga menyebabkan ambruknya sebuah jembatan yang menghubungkan Kecamatan Meurah Mulia dan Nibong. Jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses vital bagi masyarakat setempat.
Ia mengatakan masyarakat kini mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera memberikan bantuan guna memperbaiki fasilitas pompanisasi serta membangun kembali jembatan yang rusak.
"Saat ini langkah cepat sangat diharapkan agar aktivitas pertanian dan mobilitas warga dapat kembali berjalan normal," pungkasnya.




