9 Januari 2020: Jakob Oetama, pewaris nilai humanisme dalam jurnalisme Indonesia
Elshinta.com - Jakob Oetama adalah salah satu tokoh pers paling berpengaruh di Indonesia yang dikenang sebagai pendiri harian Kompas, sebuah media massa yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalisme berimbang dan humanis.

Elshinta.com - Jakob Oetama adalah salah satu tokoh pers paling berpengaruh di Indonesia yang dikenang sebagai pendiri harian Kompas, sebuah media massa yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalisme berimbang dan humanis. Lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Jakob tumbuh dalam keluarga sederhana dan mengawali pendidikannya di sekolah Katolik. Awalnya, ia mempersiapkan diri menjadi pastor dengan melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Yogyakarta, namun perjalanan hidupnya berbelok ke dunia pendidikan dan jurnalistik.
Setelah menyelesaikan pendidikan guru di Yogyakarta, Jakob sempat menjadi pengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas. Tidak puas hanya sebagai guru, ia mendalami dunia jurnalistik di Akademi Jurnalistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Perjalanan kariernya di dunia media dimulai pada 1956 saat bergabung dengan Majalah Penabur, tetapi langkah besar dalam hidupnya terjadi pada 1963. Bersama P.K. Ojong, ia mendirikan Majalah Intisari yang terinspirasi dari Reader’s Digest. Kesuksesan ini mendorong mereka mendirikan Harian Kompas, yang pertama kali terbit pada 28 Juni 1965.
Nama "Kompas" dipilih untuk mencerminkan visi sebagai penunjuk arah bagi pembaca dan masyarakat luas. Di bawah kepemimpinan Jakob, Kompas tidak hanya menjadi sumber berita tetapi juga simbol jurnalisme yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Jakob percaya bahwa media harus menjadi sarana mendidik masyarakat, memperjuangkan kebenaran, dan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Filosofi humanis ini menjadikan Kompas tidak sekadar media, tetapi juga suara moral yang terus relevan dalam berbagai era.
Keberhasilan Jakob dalam mengelola media di tengah tekanan politik, terutama pada masa Orde Baru, mencerminkan kecerdikannya dalam menjaga keseimbangan antara diplomasi dan integritas. Pendekatan hati-hatinya memungkinkan Kompas bertahan dan berkembang tanpa kehilangan jati diri sebagai media yang berpihak pada kebenaran. Jakob juga berperan penting dalam membangun Kompas Gramedia menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia, yang mencakup surat kabar, majalah, penerbitan buku, televisi, hingga bisnis perhotelan.
Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020 di usia 88 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi warisan nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup. Melalui Kompas dan berbagai kontribusinya, Jakob menunjukkan bahwa media tidak hanya tentang menyampaikan berita, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih baik. Jakob Oetama adalah bukti nyata bahwa dedikasi, integritas, dan nilai-nilai humanisme dapat membawa perubahan besar dalam dunia jurnalisme dan demokrasi.