Jusuf Kalla: Negarawan, Diplomat, dan Pemimpin Kemanusiaan
Jusuf Kalla, lahir di Watampone, Sulawesi Selatan pada 15 Mei 1942, merupakan seorang tokoh nasional yang telah memainkan peran penting di berbagai bidang, baik dalam pemerintahan, kemanusiaan, maupun diplomasi internasional.

Elshinta.com - Jusuf Kalla, lahir di Watampone, Sulawesi Selatan pada 15 Mei 1942, merupakan seorang tokoh nasional yang telah memainkan peran penting di berbagai bidang, baik dalam pemerintahan, kemanusiaan, maupun diplomasi internasional. Sebagai anak kedua dari 17 bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga pengusaha Bugis yang menjalankan Kalla Group, sebuah konglomerasi di berbagai sektor industri. Dalam perjalanan kariernya, Jusuf Kalla telah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), serta mediator dalam berbagai isu konflik domestik dan global.
Kiprah di Tahun 2024
Tahun 2024 menjadi momen penting bagi Jusuf Kalla dalam mempertegas perannya sebagai negarawan. Pada Desember 2024, ia terpilih kembali sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) untuk periode 2024–2029. Pemilihannya ini menegaskan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya. Jusuf Kalla fokus meningkatkan kapasitas PMI dalam menghadapi bencana alam, krisis kesehatan, dan tantangan kemanusiaan lainnya. Di tingkat regional, ia berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan negara-negara ASEAN dalam meningkatkan respons kemanusiaan.
Selain kiprahnya di PMI, Jusuf Kalla juga aktif dalam diplomasi internasional. Pada pertengahan 2024, ia melakukan kunjungan diplomatik ke Afghanistan untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan Mullah Mohammad Yaqoob. Pertemuan ini bertujuan mendorong dialog dan stabilitas di kawasan konflik tersebut. Sebagai seorang mediator yang diakui secara global, langkah ini mencerminkan dedikasinya dalam mendukung perdamaian dunia. Tak hanya itu, Jusuf Kalla juga menghadiri pemakaman pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Doha, Qatar, sebagai simbol solidaritas terhadap perjuangan Palestina.
Riwayat Kehidupan dan Pendidikan
Jusuf Kalla lahir dalam keluarga besar pengusaha Bugis yang sukses. Ayahnya, Haji Kalla, adalah pendiri Kalla Group yang bergerak di berbagai bidang, termasuk perdagangan, konstruksi, dan transportasi. Lingkungan keluarga yang sarat dengan semangat kewirausahaan membentuk Jusuf Kalla menjadi sosok pekerja keras.
Pendidikan formalnya dimulai di Sulawesi Selatan, sebelum melanjutkan ke Universitas Hasanuddin (UNHAS) di Makassar. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi, termasuk Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Aktivitas organisasi ini menjadi pijakan awal bagi karier kepemimpinannya.
Karier Politik
Karier politik Jusuf Kalla dimulai pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid, di mana ia menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Meskipun masa jabatannya relatif singkat, ia menunjukkan keberanian dalam mengambil keputusan strategis. Pada era Megawati Soekarnoputri, ia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, sebelum akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004. Prestasinya selama periode ini termasuk mendamaikan konflik di Aceh melalui perjanjian Helsinki 2005.
Pada 2014, Jusuf Kalla kembali menjabat sebagai Wakil Presiden, kali ini mendampingi Joko Widodo. Selama periode ini, ia berfokus pada pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi nasional. Pengalamannya yang luas menjadikannya salah satu tokoh politik paling berpengaruh di Indonesia.
Kiprah di Palang Merah Indonesia
Keterlibatan Jusuf Kalla dalam Palang Merah Indonesia dimulai pada 2009 ketika ia pertama kali terpilih sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinannya, PMI berkembang pesat, baik dari segi kapasitas organisasi maupun cakupan layanannya. Ia memperkenalkan pendekatan modern dalam manajemen bencana dan mendorong partisipasi masyarakat dalam aksi kemanusiaan.
Pada periode 2024–2029, Jusuf Kalla berkomitmen untuk meningkatkan respons PMI terhadap tantangan global, termasuk perubahan iklim yang berdampak pada frekuensi dan intensitas bencana. Ia juga memprioritaskan kerja sama internasional untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.
Diplomasi dan Perdamaian Global
Jusuf Kalla dikenal sebagai mediator ulung dalam berbagai konflik domestik dan internasional. Keberhasilannya dalam mendamaikan konflik di Aceh menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya. Di tingkat internasional, ia terlibat dalam berbagai inisiatif perdamaian, termasuk di Afghanistan dan Palestina.
Pada 2024, kunjungan diplomatiknya ke Afghanistan menunjukkan keberanian dan tekadnya untuk mendorong dialog di kawasan yang penuh konflik. Kehadirannya di pemakaman Ismail Haniyeh juga menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak mengenal batas geografis. Melalui langkah-langkah ini, Jusuf Kalla mempertegas posisinya sebagai tokoh yang berkomitmen pada keadilan dan perdamaian global.
Riwayat Organisasi
Jusuf Kalla aktif dalam berbagai organisasi sejak masa mudanya. Berikut beberapa posisi penting yang pernah ia emban:
- Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulawesi Selatan (1960–1964)
- Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar (1965–1966)
- Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) (1965–1966)
- Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) (1967–1969)
- Ketua Umum Golongan Karya (2004–2009)
- Ketua Umum Palang Merah Indonesia (2009–2019, 2024–2029)
Aktivitas organisasi ini mencerminkan dedikasi Jusuf Kalla dalam memajukan masyarakat melalui berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, hingga kemanusiaan.
Liputan Media dan Persepsi Publik
Sepanjang 2024, Jusuf Kalla menjadi topik utama di media dengan lebih dari 25.000 pemberitaan dari 2.423 media. Mayoritas pemberitaan memiliki sentimen netral, meskipun kontribusi dan pandangannya terhadap pemerintahan Joko Widodo menjelang akhir jabatan sering menjadi sorotan. Jusuf Kalla tetap relevan dalam dinamika politik nasional, terutama karena dukungannya terhadap pasangan Anies-Muhaimin pada Pilpres 2024.
Persepsi publik terhadap Jusuf Kalla mencerminkan penghargaan atas kontribusinya yang berkelanjutan. Sentimen positif sebesar 35% menunjukkan bahwa ia dihormati atas kiprah dan komitmennya terhadap isu-isu kemanusiaan dan pembangunan nasional.
Sebagai seorang negarawan yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun, Jusuf Kalla adalah simbol dedikasi dan integritas. Dari perannya sebagai Wakil Presiden hingga kepemimpinannya di Palang Merah Indonesia, ia terus menginspirasi generasi muda untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Dalam konteks global, keterlibatannya dalam diplomasi dan kemanusiaan menunjukkan bahwa perjuangan untuk perdamaian dan keadilan adalah nilai universal yang harus terus diperjuangkan.
Jusuf Kalla adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan yang visioner dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dapat membawa perubahan positif, baik di tingkat nasional maupun internasional.