Selasa, 30 Mei 2017

7 cara mengetahui tahi lalat berbahaya atau tidak

Senin, 14 Desember 2015 01:45

Ilustrasi. (Foto: Istimewa) Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Ayo berbagi!

Tahi lalat yang dalam istilah kedokteran disebut nevus pigmentosis adalah sel-sel penghasil pigmen (melanosit) yang menumpuk dan membentuk warna kulit. Menurut dr. Margareth Maurien Hanang, dokter kecantikan dari Inasa cosmetic and laser clinic, hal tersebut terjadi karena faktor internal. Sedangkan, faktor eksternalnya timbulnya tahi lalat pengaruh dari sinar ultraviolet yang berlebihan pada kulit, polusi udara serta air di sekitar lingkungan hidup. Selain itu, makanan yang dikonsumsi juga turut mempengaruhi kondisi timbulnya tahi lalat.

"Tahi lalat dibedakan berdasarkan ukuran, warna, permukaan, letak sel penyusun, bentuk, batas tepi maupun ada atau tidaknya penyakit lain yang menyertai. Kebanyakan tahi lalat berwarna hitam, cokelat atau kebiruan, serta tidak berwarna atau satu warna dengan kulit,"tutur dr. Margareth kepada Jitunews.com di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. 

Untuk mengetahui apakah tahi lalat Anda berbahaya atau tidak dapat dilihat dari tujuh cara, yaitu:

1. A atau asimetris, yaitu pinggirannya tidak rata atau compang-camping.

2. B atau borderline. Tahi lalat yang jinak biasanya batasnya tegas berwarna hitam, sementara tahi lalat yang ganas batasnya tidak tegas dengan warna hitam dan cokelat.

3. C atau color, yaitu tahi lalat biasanya bermacam-macam warnanya seperti biru, hitam dan cokelat. Sementara tahi lalat yang jinak warnanya hanya satu yaitu hitam.

4. D atau diameter, yaitu tahi lalat yang ganas ukuran diameternya mendadak menjadi besar hanya dalam waktu beberapa tahun.

5. E atau efalasi, yaitu tahi lalat bertambah tinggi atau menonjol dalam waktu beberapa tahun.

6. Perhatikan ketebalan tahi lalat. Tahi lalat yang jinak cenderung pipih dan berbentuk kubah. Karena itu sebaiknya waspada dengan tahi lalat yang sebagian datar dan sebagian menonjol, yang sering disebut sebagai tahi lalat hidup. 

7. Perhatikan kondisi tahi lalat yang bersisik. Tahi lalat yang bersisik biasanya kulitnya mengelupas dan mengeluarkan cairan atau ada pendarahan ringan. Begitu pula bila ada daerah yang berwarna karena terjadi pengerasan atau perlunakan. Hal itu bisa menjadi tanda melanoma.

Lebih lanjut, dr. Margareth mengatakan, pertumbuhan tahi lalat tergolong normal bila membesarnya seperti benjolan kecil, karena memang kebanyakan tahi lalat membesar seiring bertambahnya usia. Untuk deteksi dini dan dasar dari tahi lalat, perhatikan apakah pada kulit ada pembengkakan, kemerahan atau perubahan warna lainnya yang menyebar pada kulit di sekitar daerah yang berpigmen. "Biasanya tahi lalat akan tumbuh menjadi besar dan menonjol dalam waktu kurang lebih enam bulan, terasa gatal yang hebat dan ditumbuhi rambut,"lanjutnya.

Sesudah itu sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mendiagnosis keganasan. Tahi lalat yang berbahaya adalah tahi lalat yang berkembang secara cepat yang ditandai dengan semakin besarnya tahi lalat dan terasa gatal atau berdarah dalam hitungan bulan, serta tidak tumbuh rambut pada tahi lalat tersebut. Selain itu terjadi perubahan warna pada tahi lalat tersebut.

"Untuk menghilangkan tahi lalat adalah dengan operasi dan menggunakan teknologi laser. Setelah treatment beberapa hari biasanya akan terjadi remodelling secara sempurna, tetapi tergantung dari besar dan kedalaman tahi lalatnya. Untuk treatment menggunakan teknologi laser, bisa satu sampai tiga kali treatment,"pungkas dr. Margareth.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-DeN

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar