Ancaman sampah di Lumajang jadi perhatian serius Komisi B DPRD
Menyikapi permasalahan sampah di Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang dapat menjadi penyebab bencana, maka Komisi B, DPRD Kabupaten Lumajang bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat melihat langsung TPS 3 R. Kunjungan pertama berada di TPS 3 R Abunawas di Desa dan Kecamatan Randuagung.

Elshinta.com - Menyikapi permasalahan sampah di Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang dapat menjadi penyebab bencana, maka Komisi B, DPRD Kabupaten Lumajang bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat melihat langsung TPS 3 R. Kunjungan pertama berada di TPS 3 R Abunawas di Desa dan Kecamatan Randuagung.
Dikatakan Ketua Komisi B DPRD Lumajang Deddy Firmansyah ada delapan TPS 3 R yang aktif beroperasi dan lainnya vakum, dengan dasar kunjungan pertama di TPS 3 R Abunawas yang aktif beroperasi dan juga melakukan pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk dan plastik sebagai paving. Maka untuk berkunjung ke TPS 3 R yang vakum atau kurang maksimal pelayanan akan mudah memberikan masukan.
"Sementara dari jumlah keseluruhan tiga belas TPS 3 R, masih ada TPS 3 R lagi yang masih berproses, yang delapan sudah berdiri mulai 2017 dan yang pengelolaannya vakum kita berikan masukan agar bantuan itu bisa dijalankan kembali," kata legislator partai Gerindra seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono, Jum'at (7/2).
Dijelaskan Deddy berdirinya TPS 3 R atas usulan dari warga dan desa kepada DLH sehingga dilakukan kajian yang selanjutnya diturunkan progam tersebut agar permasalahan sampah bisa menangani dengan baik.
TPS 3 R Abunawas melakukan penarikan iuran penarikan sampah Rp 20.000 perbulan tentunya kesepakatan musyawarah lingkungan. Komisi B akan mendorong pemerintah agar kegiatan itu semakin baik pelayanannya maka beberapa kendala seperti sarana dan prasarana (Sarpras) perlu terpenuhi.
"Kendala Sarpras yang dikeluhkan oleh TPS 3 R Abunawas seperti gerobak kropos yang tidak layak operasional maupun kendaraan roda tiganya yang butuh AC harus menjadi perhatian apalagi saat beroperasi malam hari," ucap Deddy.
Kesadaran masyarakat menjadi patokan untuk kebersihan dalam menunjang kerja dari pengelola sampah di lingkungannya,
"Tolak ukur keberhasilan penanganan sampah tidak bisa dengan anggaran, seberapa besar anggaran yang diturunkan lewat pelatihan sosialisasi jika mindset masyarakat tidak terbangun," tutur Deddy.
Ketua TPS 3 R Abunawas ustadz Fahtur memaparkan inovasi sampah tidak hanya pupuk organik namun juga menjadikan sampah sebagai pupuk cair.
"Tidak hanya buat pupuk cair, sampah botol plastik dibuat paving dengan perbandingan satu paving sama dengan satu karung plastik," cetus pria yang jadi motor pemuda di desanya.
Sementara itu Kepala Desa Randuagung Ahmad Choiri meminta kepada pemerintah agar kegiatan yang sudah berjalan diimbangi dengan dinaikkan dana insentifnya karena mereka yang kerja menanggung kebutuhan pokok keluarganya masing-masing, selain semakin banyaknya volume sampah diperlukan sekali adanya bantuan roda empat selain perawatan kendaraan yang mengalami kerusakan.
"Kedatangan Komisi B DPRD dan DLH melihat langsung kegiatan pembuangan sampah kirannya bisa menjadi masukan agar insentif mereka ada tambahan dan bantuan mobil angkut karena volume sampah semakin melimpah," pungkasnya.