Top
Begin typing your search above and press return to search.

Denny JA dan 15 Puisi Esai Pejuang: Mendobrak batas Sastra, Sejarah, dan Advokasi

Denny JA kembali mendapatkan komentar baik atas karya sastra terbarunya, Mereka yang Mulai Teriak Merdeka, sebuah kumpulan 15 puisi esai yang mengangkat kisah para tokoh perjuangan

Denny JA dan 15 Puisi Esai Pejuang: Mendobrak batas Sastra, Sejarah, dan Advokasi
X
Sumber foto: Radio Elshinta/ Rizky Rian Saputra

Elshinta.com - Denny JA kembali mendapatkan komentar baik atas karya sastra terbarunya, Mereka yang Mulai Teriak Merdeka, sebuah kumpulan 15 puisi esai yang mengangkat kisah para tokoh perjuangan. Mulai dari Tan Malaka, H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Bung Hatta, Bung Sjahrir, hingga Bung Karno yang menghadirkan sisi lain dari sejarah yang jarang terungkap dalam buku pelajaran.

Pemerhati sejarah dan penulis puisi, Irsyad Mohammad, menyebut Denny JA sebagai fenomena unik dalam sastra Indonesia. “Ia bukan sekadar penyair, tapi juga pemikir sosial, peneliti opini publik, dan pelaku politik yang paham bagaimana narasi membentuk realitas sosial,” kata Irsyad dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/2/2025).

Denny JA dikenal sebagai pelopor puisi esai, sebuah genre yang memadukan puisi, esai, dan narasi berbasis data. Berbeda dari gaya penyair avant-garde seperti Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono, Denny JA memilih bahasa yang lugas dan komunikatif, menjadikan karyanya mudah diakses oleh masyarakat luas.

“Isu kemanusiaan sangat terasa dalam serial 15 puisi esainya berjudul Mereka yang Mulai Teriak Merdeka.” ujar Irsyad

Salah satu puisi esai dalam karyanya mengisahkan R.A. Kartini dalam dilema, terombang-ambing oleh keputusan ayahnya untuk menjadikannya istri keempat seorang bupati, padahal ia menolak poligami. Di puisi lainnya, Denny menampilkan kesedihan H.O.S. Tjokroaminoto ketika melihat Sarekat Islam terpecah akibat pengaruh muridnya sendiri, Semaun.

Gaya realisme sosial yang diusungnya kerap dibandingkan dengan Émile Zola dalam naturalisme Prancis atau Bertolt Brecht dalam teater epik. Denny JA tidak hanya menciptakan sastra sebagai seni, tetapi juga sebagai alat advokasi sosial yang berkelanjutan.

Tak hanya di atas kertas, Denny JA juga mengalihkan puisi esainya ke dalam teater, cerita bergambar, hingga film, agar pesannya lebih luas menjangkau masyarakat. “Jika sastra dunia mengenal Émile Zola dalam naturalisme atau Pablo Neruda dalam puisi epik, maka Denny JA bisa disebut sebagai pelopor puisi esaisebuah genre yang mendobrak batas antara sastra, sejarah, dan advokasi sosial,” tambah Irsyad Mohammad, seperti yang dilaporkan Reporter Elshinta Rizky Rian Saputra.

Dengan karya-karyanya yang terus menelusuri isu kemanusiaan, sejarah, dan ketidakadilan sosial, Denny JA bukan hanya seorang penyair, tetapi juga seorang pendobrak batas yang menghidupkan sejarah melalui sastra.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire