Soal Koin Jagat dan keamanan data, ini kata pengamat IT
Dunia Digital Indonesia dihebohkan dengan munculnya aplikasi Koin Jagat yang menarik perhatian banyak orang termasuk pemerintah.

Elshinta.com - Dunia Digital Indonesia dihebohkan dengan munculnya aplikasi Koin Jagat yang menarik perhatian banyak orang termasuk pemerintah. Setelah itu kembali terjadi kebocoran data pegawai di Komdigi RI serta semakin masifnya penggunaan Teknologi AI di dunia dan isu pembatasan media sosial kepada anak-anak.
Menanggapi hal tersebut, pengamat IT, Alfons Tanujaya mengatakan, dalam kasus viralnya aplikasi Koin Jagat, aplikasi tersebut pada intinya merupakan aplikasi berbagi lokasi yang kemudian saat ini ditambahkan koin-koin sebagai trik marketing untuk menambah user atau pengguna.
Alfons Tanujaya pun memberikan masukan kepada masyarakat yang mengunduh aplikasi Koin Jagat untuk memperhatikan beberapa hal.
"Aplikasi Koin Jagat ini kan menggunakan koin asli yang dimana pengguna harus mencari di lokasi publik, namun masyarakat harus sadar atas kewajibannya untuk menjaga fasilitas publik," kata Alfons.
Selain itu, Aplikasi Koin Jagat ini mengharuskan perangkat telekomunikasi pengguna itu dapat diakses 24 jam serta semua data pengguna itu terbuka secara luas.
"Sehingga penggunanya harus berhati-hati dan tidak sembarangan melakukan sharing lokasi dengan orang tidak dikenal," ujarnya.
Sementara, terkait isu kebocoran data pegawai di Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Komdigi RI), Alfons Tanujaya memberikan perhatian terkait kontrol administrator hak akses data dan aplikasi di dalam Komdigi serta kontrol terhadap arus orang di dalam Komdigi.
Kebocoran ini disebabkan pegawai Komdigi yang menjadi administrator membagi akses dan kurangnya kontrol terhadap akses data dan kontrol ketat terhadap akses data dan aplikasi seperti yang dilakukan oleh bank dalam melindungi data nasabahnya.
Di Indonesia, lanjut Alfons sudah terdapat standar pembatasan akses kepada data-data, yakni ISO 27001, PCI DSS dan standar BSSN
“Tetapi di Indonesia standar tersebut masih belum diikuti secara disiplin," tegasnya.