Interaksi Dubes RI: BI Papua & Dubes RI di Tiongkok, Ekonomi, Ramadan, Hubungan Bilateral
Bank Indonesia Papua menyiapkan layanan penukaran uang menjelang Idul Fitri 2025. Dubes RI di Tiongkok membahas hubungan bilateral dan peluang kerja sama ekonomi

Elshinta.com - Bank Indonesia perwakilan Papua menyiapkan layanan penukaran uang sebesar Rp3,3 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan dan Idul Fitri 2025. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan 10 bank, termasuk BCA, BRI, Mandiri, BTN, Muamalat, BPD Papua, Bank Sinarmas, BNI, Bank Syariah Indonesia, dan Bank Dana. Sepuluh titik layanan penukaran akan dibuka di berbagai lokasi di Jayapura.
Selain layanan melalui bank, Bank Indonesia juga mengoperasikan mobil kas keliling yang akan menjangkau daerah-daerah terpencil di Papua. Untuk memastikan ketersediaan uang layak edar, Bank Indonesia Papua menyiapkan tujuh jaringan kas titipan di Biak, Serui, Sorong, Nabire, Wamena, Timika, dan Merauke.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua, Faturrahman, menyampaikan bahwa penukaran uang juga dilakukan melalui layanan kas keliling di tiga rumah ibadah, yaitu:
- Masjid Raya Baiturrahim Jayapura (5 Maret 2025)
- Masjid Agung Asoilihim Abepura (7 Maret 2025)
- Masjid Agung Al-Aqsa Sentani (14 Maret 2025)
Selain itu, layanan terpadu penukaran uang akan tersedia di PTC Entrop pada 22 Maret 2025. Untuk mempermudah masyarakat, layanan ini dapat diakses melalui aplikasi PINTAR, di mana pemesanan penukaran dapat dilakukan mulai 3 Maret 2025.
Hubungan Bilateral Indonesia-Tiongkok dalam Perspektif Dubes RI
Dalam program interaksi diplomatik di Radio Elshinta, Dubes RI untuk Republik Rakyat Tiongkok merangkap Mongolia, H.E. Djauhari Oratmangun Oratmangun, membahas hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok. Menurutnya, hubungan kedua negara telah berkembang pesat menjadi Comprehensive Strategic Partnership selama 11 tahun terakhir. Hal ini tercermin dalam angka perdagangan yang mencapai USD 147,8 miliar pada tahun lalu.
H.E. Djauhari Oratmangun menekankan bahwa Tiongkok adalah mitra ekonomi utama Indonesia, dengan investasi dari Tiongkok sebesar USD 8,1 miliar, serta tambahan dari Hong Kong sebesar USD 8,3 miliar. Bidang kerja sama utama antara Indonesia dan Tiongkok mencakup ekonomi digital, sektor kesehatan, infrastruktur, energi terbarukan, serta ketahanan pangan.
Dalam konteks digital, Tiongkok telah menjadi pemain utama di bidang Artificial Intelligence (AI). Bahkan, salah satu perusahaan AI terbesar di Tiongkok, DeepSeek, telah merekrut talenta dari Indonesia. Dubes Jauhari juga menekankan bahwa AI dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk kesehatan dan pendidikan.
Budaya Ramadan di Tiongkok
Dubes H.E. Djauhari Oratmangun juga berbagi pengalaman Ramadan di Tiongkok, termasuk kegiatan buka puasa bersama komunitas Muslim di masjid-masjid setempat. Di sana, masyarakat Muslim Tiongkok biasanya menyantap makanan manis sebelum makan besar, mirip dengan tradisi di Indonesia.
Selain itu, KBRI di Beijing rutin mengadakan kegiatan pengajian setiap tiga minggu sekali, melibatkan mahasiswa dan diaspora Indonesia. Hal ini menjadi bagian dari diplomasi sosial budaya yang mempererat hubungan antarwarga.
Peluang Bisnis dan Pendidikan di Tiongkok
Menanggapi pertanyaan dari pendengar, Jauhari menyoroti peluang besar bagi warga Indonesia di Tiongkok, baik dalam bidang bisnis maupun pendidikan. Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di Tiongkok telah kembali meningkat menjadi hampir 10.000 orang setelah sebelumnya turun akibat pandemi COVID-19.
Selain itu, sektor ekonomi digital di Indonesia terus berkembang, dengan transaksi digital yang diperkirakan mencapai USD 90 miliar pada 2025. Hal ini menjadikan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bidang teknologi semakin strategis.
Perdagangan Indonesia-Tiongkok dan Produk UMKM
Terkait perdagangan, Indonesia telah mengalami surplus perdagangan dengan Tiongkok selama empat tahun berturut-turut, sebelum mengalami sedikit defisit pada tahun lalu akibat kondisi ekonomi global. Produk yang memiliki potensi ekspor besar ke Tiongkok meliputi:
- Produk UMKM dan industri kreatif
- Makanan dan minuman (kopi, teh, produk olahan makanan)
- Produk alas kaki
- Produk turunan dari hilirisasi mineral
H.E. Djauhari Oratmangun menekankan bahwa untuk menembus pasar Tiongkok, pelaku bisnis Indonesia harus memahami regulasi setempat dan memanfaatkan perjanjian dagang antara ASEAN dan Tiongkok.
Tantangan dan Strategi Ekonomi Tiongkok
Menanggapi pertanyaan pendengar, Dubes H.E. Djauhari Oratmangun menjelaskan bahwa Tiongkok menerapkan berbagai stimulus ekonomi, termasuk insentif dan subsidi untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. Hal ini membantu pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Kerja Sama Olahraga Indonesia-Tiongkok
Selain ekonomi, kerja sama Indonesia-Tiongkok juga mencakup bidang olahraga. Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Tiongkok di berbagai cabang olahraga, termasuk bulu tangkis, panjat tebing, atletik, dan balap sepeda. Sejumlah atlet Indonesia juga mendapat pelatihan di Tiongkok, termasuk skater yang berpartisipasi dalam Olimpiade Asia Musim Dingin di Harbin.
Pelajaran dari Kesuksesan Tiongkok
Dubes H.E. Djauhari Oratmangun menekankan bahwa kesuksesan ekonomi dan olahraga Tiongkok didorong oleh kerja keras dan semangat nasionalisme yang kuat. Indonesia juga memiliki potensi besar untuk mencapai kemajuan serupa, terutama dengan bonus demografi yang dimilikinya. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045.
Dari wawancara ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan Indonesia-Tiongkok terus berkembang, mencakup bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, budaya, dan olahraga. Dengan berbagai peluang yang tersedia, kerja sama strategis antara kedua negara diharapkan semakin memperkuat ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global di masa depan.