Top
Begin typing your search above and press return to search.

Ramadan di Istiqlal: Mewujudkan toleransi sejati, peran agama dalam merajut kebersamaan

Toleransi bukan hanya tentang koeksistensi, tetapi juga membangun ikatan yang kuat antar umat beragama dan etnik. Simak bagaimana pendidikan agama dapat menjadi perekat solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

Ramadan di Istiqlal: Mewujudkan toleransi sejati, peran agama dalam merajut kebersamaan
X
Sumber foto: Radio Elshinta

Elshinta.com - Toleransi antar umat beragama, etnik, dan suku merupakan tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini. Sering kali, toleransi hanya sebatas pada konsep koeksistensi, di mana masing-masing kelompok hidup berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain. Namun, toleransi sejati melampaui hal tersebut dengan membangun ikatan yang menghubungkan seluruh masyarakat dalam satu kesatuan.

Koeksistensi vs. Toleransi Sejati
Koeksistensi berarti hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi toleransi sejati mengharuskan adanya ikatan persaudaraan yang lebih dalam, yang disebut dengan ukhuwah basyariah. Kita semua adalah bagian dari bangsa yang sama, memiliki sejarah yang sama, dan pernah berjuang bersama untuk mencapai kemerdekaan. Kesadaran akan persatuan ini merupakan kunci utama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Peran Pendidikan Agama dalam Membentuk Toleransi
Kementerian Agama telah mengembangkan kurikulum cinta, yang mendorong para guru agama untuk mengajarkan nilai-nilai perdamaian dan titik temu antar umat beragama, bukan perbedaan yang dapat memicu konflik. Sejak usia dini, anak-anak seharusnya diperkenalkan dengan nilai-nilai solidaritas dan persaudaraan, bukan kebencian dan pemisahan berdasarkan identitas agama atau etnik.

Jika pendidikan agama diisi dengan muatan kebencian, maka sedikit pemicu saja dapat menyebabkan konflik yang lebih besar. Oleh karena itu, ajaran agama harus disampaikan secara proporsional dan profesional, dengan menekankan pada nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan.

Agama sebagai Sumber Kekuatan dan Kesejahteraan
Setiap agama mengajarkan nilai-nilai kemaslahatan seperti kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi umat manusia. Tidak ada agama yang menghalalkan pencurian, korupsi, atau tindakan destruktif lainnya. Oleh karena itu, agama seharusnya menjadi perekat solidaritas dan sumber kekuatan untuk membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.

Agama dapat dianalogikan seperti energi nuklir. Jika digunakan dengan benar, ia dapat menjadi sumber energi yang luar biasa, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir yang memberikan manfaat bagi banyak negara. Namun, jika disalahgunakan, ia bisa menjadi senjata yang merusak, seperti yang terjadi pada peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Dengan demikian, kita harus menjadikan agama sebagai sumber cahaya yang menerangi kehidupan, bukan sebagai alat untuk perpecahan dan kehancuran.

Mewujudkan toleransi sejati membutuhkan usaha bersama dalam membangun ikatan persaudaraan yang kuat antar umat beragama dan etnik. Pendidikan agama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian sejak dini, sehingga generasi mendatang dapat tumbuh dengan sikap saling menghormati dan bekerja sama dalam membangun bangsa.

Dengan menjadikan agama sebagai pembangkit energi positif bagi masyarakat, kita dapat hidup dalam kedamaian dan keharmonisan, serta menjaga persatuan dalam bingkai NKRI. Mari bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik dengan semangat ukhuwah basyariah dan toleransi sejati.

Ramadhan Di Istiqlal, bersama Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof DR. K.H. Nasaruddin Umar, MA. Setiap hari selama ramadhan 1446 H pukul 17.00 WIB.

Acara ini didukung oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama RI dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire