Interaksi Dubes RI Dr. Muhammad Fazrul Rahman: Ramadan di Kazakhstan dan Tajikistan serta jejak pera
Duta Besar RI Dr. Muhammad Fazrul Rahman berbagi pengalaman Ramadan di Kazakhstan dan Tajikistan serta menggali jejak peradaban Islam di kawasan Asia Tengah. Temukan kisah menarik tentang sejarah, budaya, dan kehidupan umat Muslim di dua negara ini.
Elshinta.com - Dalam edisi kali ini, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Dr. Muhammad Fazrul Rahman, berbagi cerita mengenai pengalaman Ramadan di negara yang kaya akan sejarah Islam tersebut.
Nuansa Ramadan di Kazakhstan dan Tajikistan
Saat dihubungi, Dr. Fazrul Rahman menyampaikan bahwa di Kazakhstan, saat ini sedang musim dingin. Suhu berkisar di angka -7°C, namun dengan angin dan kelembaban tinggi, suhu yang dirasakan bisa mencapai -16°C. Hal ini membuat rasa haus selama berpuasa menjadi tidak terlalu terasa dibandingkan di Indonesia. Waktu puasa di sana berlangsung sekitar 13-14 jam.
"Di sini tidak ada tradisi ngabuburit seperti di Indonesia. Suasana Ramadan juga lebih tenang, tidak semeriah di tanah air. Namun, tarawih tetap dilaksanakan di masjid-masjid, meskipun tidak ada tradisi makan sahur bersama seperti yang sering kita lihat di Indonesia," ujarnya.
Lebaran pun menjadi momen yang berbeda. Tidak seperti di Indonesia yang merayakan dengan libur nasional, di Kazakhstan dan Tajikistan, Idul Fitri bukan hari libur. "Bagi warga lokal, setelah salat Id mereka langsung bekerja seperti biasa. Namun, di KBRI kami mengikuti kalender Indonesia, sehingga setelah salat Idul Fitri kami mengadakan open house untuk warga negara Indonesia di sini," tambahnya.
Sebaliknya, Idul Adha mendapatkan perhatian lebih. Hari raya ini menjadi hari libur nasional dan masyarakat setempat merayakannya dengan pemotongan hewan kurban, seperti sapi dan biri-biri, meskipun pemotongan harus dilakukan di tempat khusus yang telah ditentukan.
Kuliner Ramadan di Kazakhstan
Makanan khas berbuka puasa di Kazakhstan cukup unik. Salah satu yang terkenal adalah Plov, hidangan nasi yang mirip dengan nasi goreng namun dimasak dengan minyak samin dan dicampur dengan daging, sosis, kentang, wortel, serta jamur.
"Untuk berbuka puasa, biasanya masyarakat Kazakhstan memulai dengan kurma dan susu. Menariknya, mereka juga memiliki minuman khas berupa susu kuda yang difermentasi, disebut kemes, yang memberikan sensasi segar karena rasa asamnya," jelas Dubes Fazrul.
Selain itu, daging kuda juga menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal. Salah satu makanan khasnya adalah Beshbarmak, yang secara harfiah berarti "lima jari" karena tradisi menyantapnya menggunakan tangan. Hidangan ini terdiri dari daging kuda rebus yang disajikan dengan dumpling dan kentang.
"Di sini juga ada sate, namun berbeda dengan di Indonesia. Mereka menyebutnya shashlik, yaitu potongan besar daging yang ditusuk pada besi dan dipanggang," tambahnya.
Sejarah Islam di Wilayah Kazakhstan dan Tajikistan
Kazakhstan dan Tajikistan tidak hanya memiliki budaya yang menarik, tetapi juga merupakan saksi sejarah perkembangan peradaban Islam. Meskipun Tajikistan tidak berbatasan langsung dengan Kazakhstan karena terpisah oleh Uzbekistan dan Kirgistan, keduanya memiliki sejarah panjang dalam penyebaran Islam.
"Tajikistan dulunya adalah bagian dari wilayah Khorasan Raya, yang mencakup Iran, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, dan Kazakhstan. Banyak pemikir dan ilmuwan besar Islam berasal dari kawasan ini," ungkapnya.
Di antara tokoh besar Islam yang berasal dari wilayah ini adalah:
- Imam Bukhari, lahir di Bukhara, yang terkenal dengan kitab hadisnya, Shahih Bukhari.
- Ibnu Sina (Avicenna), filsuf dan dokter besar Islam yang lahir di Bukhara.
- Al-Farabi, filsuf dan ilmuwan dari Kazakhstan yang dikenal sebagai "guru kedua" setelah Aristoteles.
- Jalaludin Rumi, sufi dan penyair besar yang lahir di Balkh (Tajikistan), sebelum kemudian pindah ke Konya.
- Omar Khayyam, matematikawan dan penyair dari Persia.
- Timur Lenk, penguasa Islam abad ke-14 yang membangun Dinasti Timurid dan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan seni.
"Saya merasa beruntung dapat bertugas di kawasan yang begitu kaya akan sejarah Islam. Di sini, kita bisa melihat jejak-jejak besar para ilmuwan Muslim yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi dunia," tutup Dubes Fazrul.
Kazakhstan dan Tajikistan, dengan segala kekayaan budayanya, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Islam yang masih lestari hingga kini.