Pentingnya keterlibatan Babinsa tangani masalah sampah dan lingkungan
Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kodam IX/Udayana dan Pemerintah Provinsi Bali mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sampah kepada Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah Kodam IX/Udayana.

Elshinta.com - Kementerian Lingkungan Hidup bersama Kodam IX/Udayana dan Pemerintah Provinsi Bali mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sampah kepada Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah Kodam IX/Udayana.
Babinsa mendapatkan arahan langsung mengenai madalah penanganan dan pengelolaan sampah masing-masing dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, Gubernur Bali, I Wayan Koster dan Pangdam IX/Udayana, Mayjend TNI Muhammad Zamroni.
“Pelibatan Babinsa (Bintara Pembina Desa) diharapkan menjadi contoh dan tauladan dalam rangka perilaku dalam mengurangi dan memilah sampah. Melalui Babinsa kami juga mengharapkan sisi- sisi humanisme yang dimiliki Babinsa dalam merangkai dalam tugas pengelolaan sampah,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq dalam keterangannya pada Minggu (30/3).
“Kedepannya diharapkan masyarakat dan Babinsa kiranya juga dapat menjadi langkah efektif untuk bersama membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya,” tegasnya.
Ia menambahkam perlu adanya revolusi mental bersama dengan mengubah mindset, cara berpikir dan berperilaku dalam mengatasi persoalan sampah.
Menurutnya perlu upaya perubahan perilaku menjadi kunci utama yang pada akhirnya melahirkan budaya dan habit untuk lebih bijak dalam mengelola sampah.
Ditengah tantangan tersebut, Menteri Hanif melihat bahwa Babinsa memiliki peran unik dan strategis. Bukan hanya penjaga stabilitas keamanan desa, Babinsa juga menjadi figur kepercayaan masyarakat, mampu menjangkau ruang-ruang yang tidak bisa dijangkau oleh regulasi formal.
Babinsa akan dibekali pemahaman teknis, kemampuan komunikasi perubahan perilaku, serta kapasitas koordinasi lintas sektor dengan tokoh adat, kepala desa, dan masyarakat. Babinsa akan dilatih menjadi fasilitator lingkungan sekaligus motor penggerak inisiatif lokal.
Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa meski Bali telah membuat terobosan besar, seperti Peraturan Gubernur (Pergub) tentang pembatasan plastik sekali pakai sejak 2018, serta dukungan dari desa adat dan komunitas sosial dalam gerakan kebersihan, kenyataannya masih banyak sampah berakhir di sungai dan laut.
“Dengan posisi Bali sebagai jantung pariwisata nasional, kenyamanan wisatawan harus dijaga, selain itu dalam upaya membangun lingkungan yang sehat, salah satu indikatornya adalah sampah yang terkelola dengan baik,” kata I Wayan Koster seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Selasa (2/4).
“Kita akan menerapkan beberapa skema pengelolaan sampah berbasis sumber di desa, yang akan didukung sepenuhnya oleh Bapak Pangdam (Panglima Kodam IX Udayana) dan Bapak Danrem (Komandan Korem 163 Wira Satya) dengan jajarannya sampai dengan Babinsa pada tingkat desa. Dengan kerja efektif dan gencar, Saya yakin 2 tahun selesai.” tegasnya.
Sementara itu Pangdam IX Udayana, Mayjend TNI Muhammad Zamroni, juga menyampaikan bahwa peran TNI tidak semata pada aspek keamanan dan pertahanan. Ia menegaskan bahwa ketahanan lingkungan adalah bagian dari ketahanan nasional.
“Babinsa harus mengambil peran dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah binaannya. Lingkungan yang bersih mendukung masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera. Kami siap untuk memberi dukungan penuh kepada Kementerian LH/BPLH dan Pemerintah Daerah Provinsi Bali dalam pengelolaan sampah” kata Pangdam IX Udayana, Mayjend TNI Muhammad Zamroni.
Bimbingan Teknis ini bukan hanya pelatihan teknis melainkan gerakan baru agar menjadikan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama. Aksi ini harus dimulai dari komunitas terkecil, dipimpin oleh tokoh paling dekat dengan rakyat. Babinsa dilatih untuk:
1. mendorong gerakan pengelolaan sampah dari rumah tangga;
2. mengubah perilaku masyarakat melalui pendekatan persuasif dan sosial;
3. membentuk jejaring kolaborasi antara tokoh adat, pemda, dan komunitas; dan
4. menjadi penghubung efektif antara kebijakan pusat dan aksi lokal
Program ini dirancang sebagai model percontohan yang akan direplikasi secara nasional, dengan Bali dan DKI Jakarta sebagai dua provinsi prioritas dan barometer pengelolaan sampah di Indonesia.
“Saya berharap inisiasi ini menjadi titik awal dan momentum bersama sebagai bagian dalam mewujudkan Indonesia bersih dan Indonesia emas,” pungkas Menteri
Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq .
Sementara itu selain melaksanakan pembelajangan teknis, peserta juga melakukan kunjungan lapangan di Eco Bali, Pusat Daur Ulang Padangsabian Kaja, pengelolaan sampah lapangan dari Sungai Watch Ketewel, dan penerapan Trash Boom di Kantor Camat Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.