10 April 1815: Ketika Gunung Tambora mengubah iklim dan peradaban
Elshinta.com - Letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 10 April 1815 di Pulau Sumbawa, Indonesia, merupakan salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan ini menyebabkan lebih dari 70.000 orang meninggal dunia, baik secara langsung akibat ledakan dan aliran piroklastik, maupun secara tidak langsung akibat kelaparan dan penyakit.

Elshinta.com - Letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 10 April 1815 di Pulau Sumbawa, Indonesia, merupakan salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Letusan ini menyebabkan lebih dari 70.000 orang meninggal dunia, baik secara langsung akibat ledakan dan aliran piroklastik, maupun secara tidak langsung akibat kelaparan dan penyakit. Gunung Tambora, yang semula memiliki ketinggian sekitar 4.300 meter, meletus dengan kekuatan luar biasa dan mengeluarkan sekitar 160 kilometer kubik material vulkanik ke atmosfer, menjadikannya sebagai letusan gunung berapi terbesar di era modern.
Letusan Tambora tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga global. Abu dan gas sulfur dioksida yang tersebar ke stratosfer menyebabkan penurunan suhu bumi secara signifikan. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas" di Eropa dan Amerika Utara, karena terjadi cuaca ekstrem seperti salju pada bulan Juni dan gagal panen massal. Krisis pangan pun meluas ke berbagai wilayah, memicu kelaparan, migrasi penduduk, hingga kerusuhan sosial.
Peristiwa ini terjadi ketika tekanan magmatik di dalam tubuh Gunung Tambora memuncak setelah ratusan tahun aktivitas vulkanik yang relatif tenang. Letusan awal sudah mulai terjadi sejak 5 April 1815, namun puncaknya berlangsung pada 10 April dini hari, disertai suara dentuman yang terdengar hingga ribuan kilometer. Awan panas, batu pijar, dan debu vulkanik menghancurkan desa-desa di sekitar gunung dalam hitungan menit.
Apa yang menyebabkan letusan sebesar itu adalah akumulasi magma dalam jumlah besar yang berada dalam sistem vulkanik Tambora. Ketika tekanan internal mencapai batasnya, letusan eksplosif terjadi dan puncak gunung runtuh, membentuk kaldera selebar tujuh kilometer. Kaldera inilah yang menjadi sisa jejak geologis dari peristiwa besar tersebut dan dapat dilihat hingga kini.
Letusan Gunung Tambora dicatat oleh berbagai sumber kolonial Belanda dan Inggris, serta menjadi kajian penting dalam dunia ilmu kebumian. Dampaknya yang begitu luas menjadikan Tambora sebagai simbol dari kekuatan alam yang mampu mengubah iklim, peradaban, dan sejarah umat manusia. Hingga saat ini, letusan Tambora terus menjadi pelajaran penting dalam memahami risiko bencana geologi, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik.