Menteri PPPA-Fatma Saifullah jenguk korban kekerasan seksual
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama istri Menteri Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, mengunjungi korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh ayah sambung korban. Kunjungan berlangsung di kantor Dinas PPPA Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (9/5/2025).
.jpeg)
Elshinta.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama istri Menteri Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, mengunjungi korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh ayah sambung korban. Kunjungan berlangsung di kantor Dinas PPPA Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (9/5/2025).
“Saya hadir ke sini untuk silaturahmi dengan Dinas PPPA. Kebetulan kita sedang support adik yang sedang mengalami sesuatu yang tidak kita inginkan,” ujar Arifah.
Ia menyampaikan bahwa korban, yang kini berusia 13 tahun, dalam kondisi sehat dan tetap semangat menempuh pendidikan. “Ananda masih semangat untuk melanjutkan sekolah bahkan bercita-cita menjadi polisi. Saya juga akan pastikan bahwa korban dalam keadaan baik dan haknya terpenuhi,” katanya.
Fatma Saifullah Yusuf juga menyempatkan diri berbincang dengan korban. Ia datang membawa peralatan lukis sebagai bentuk dukungan moril. “Alhamdulillah ananda sehat, tadi juga hadir ibu kandungnya. Tentu harapan saya semoga ke depan semua tetap berjalan dengan baik, dan kelak ia menjadi anak yang sukses serta tercapai cita-citanya,” tutur Fatma.
Korban yang disebut dengan nama samaran Bunga, saat ini berada dalam perlindungan rumah aman UPTD PPA Kalimantan Timur. Ia sedang mengandung dengan usia kehamilan enam bulan. Sebelumnya, tim dari BBPPKS Kementerian Sosial juga telah melakukan asesmen dan memberikan bantuan kebutuhan dasar kepada korban.
Kasus ini telah ditangani oleh pihak kepolisian dan pelaku kini telah diamankan oleh Polsek Sungai Pinang. UPTD PPA Samarinda terus mendampingi korban dalam proses pemulihan.
Dalam kunjungannya, Arifah juga menyoroti pentingnya penguatan program Ruang Bersama Indonesia, sebagai kelanjutan daerah ramah perempuan dan anak. Program ini dirancang menjadi ruang kolaboratif lintas sektor, yang melibatkan kementerian dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan perempuan dan anak di tingkat lokal.
Penulis: Rizky Rian Saputra/Ter