Peran Siskohat dalam kelancaran layanan jemaah calon Haji
Tim Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama memiliki peran krusial dalam operasional penyelenggaraan ibadah haji. Siskohat menjadi pusat pengelolaan data jemaah yang memudahkan berbagai lini layanan, mulai dari akomodasi hingga kesehatan.
.jpeg)
Elshinta.com - Tim Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama memiliki peran krusial dalam operasional penyelenggaraan ibadah haji. Siskohat menjadi pusat pengelolaan data jemaah yang memudahkan berbagai lini layanan, mulai dari akomodasi hingga kesehatan.
Kepala Bidang Siskohat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Agung Sudrajat, mengatakan bahwa timnya fokus mengembangkan sistem pendataan yang aman dan mudah digunakan. Sistem ini memuat seluruh data terkait penyelenggaraan haji, mulai dari identitas, pergerakan, hingga lokasi tinggal jemaah selama di Arab Saudi.
Ia menjelaskan bahwa Siskohat digunakan untuk memantau pergerakan jemaah sejak dari Tanah Air hingga tiba di Arab Saudi. Monitoring ini penting untuk memastikan kesiapan layanan pendukung, seperti pemondokan dan konsumsi.
“Jadi kita tahu kloter JKG 1 posisinya ada di mana, di dalamnya ada jemaah dan manifesnya, nama, tempat tanggal lahir, petugas kloternya siapa, petugas kesehatannya siapa,” ujar Agung di Makkah, Rabu (21/5/2025).
Ia menambahkan, pemantauan pergerakan jemaah menjadi semakin penting menjelang puncak haji di Arafah. Untuk itu, ketua kelompok terbang (kloter) diminta turut membantu pengisian data pergerakan melalui aplikasi Haji Pintar.
“Kita dibantu sama ketua kloter. Ada namanya aplikasi Haji Pintar. Jadi teman-teman yang tugas sebagai ketua kloter dia wajib input ketika bergerak ke Arafah dia satu kloter bawa jemaah berapa. Ketika ada wafat di Arafah, pas sampai Muzdalifah dia entry lagi,” jelasnya.
Agung menyebutkan bahwa data yang tersimpan di Siskohat mendukung kelancaran layanan jemaah. Tim konsumsi, misalnya, memerlukan informasi lokasi hotel untuk memastikan makanan dikirim dengan jumlah yang sesuai dari dapur katering.
“Langkah awal konsumsi, transportasi, akomodasi syaratnya harus ada manifes, otomatis dia butuh Siskohat. Jadi intinya Siskohat yang melayani semua layanan,” ujarnya.
Selain mendukung layanan operasional, Siskohat juga menyimpan data antrean atau waiting list jemaah haji. Berdasarkan data pukul 06.00 Waktu Arab Saudi hari ini, terdapat sekitar 5,5 juta jemaah yang tercatat dalam waiting list nasional.
Agung menjelaskan bahwa sistem antrean ini bersifat transparan dan tidak dapat diubah seenaknya. Data mencakup informasi detail per wilayah dan mengacu pada regulasi yang berlaku.
“Terkait urutan, banyak jemaah yang nanya. Banyak juga pertanyaan kenapa dia lihat tetangganya ada yang bisa cepat. Itu ada pak, tapi dia harus sesuai regulasi. Ada penggabungan mahram, ada pendamping lansia. Tapi di dalamnya dia diatur kepdirjen, minimal yang bisa melakukan penggabungan mahram itu misalnya dibatasi minimal dia sudah terdaftar lima tahun, ada syarat-syaratnya,” katanya.
Ia juga menyebutkan adanya sistem pelimpahan nomor porsi. Mekanisme ini hanya berlaku jika calon jemaah meninggal dunia atau mengalami sakit permanen sebelum keberangkatan. Misalnya, seorang calon jemaah yang mendaftar pada 2012 namun wafat pada 2015 dapat mewariskan nomor porsi haji kepada ahli waris seperti anak kandungnya.
“Siskohat bisa memastikan, khusus haji reguler ya, yang belum terdaftar 5 tahun belum bisa berangkat kecuali pelimpahan porsi. Pelimpahan porsi bisa dilakukan. Ada syarat-syaratnya juga, dia keluarga kandung. Syaratnya pelimpahan porsi, yang punya porsi itu wafat atau sakit permanen. Syaratnya dua itu, wafat atau sakit permanen baru bisa dilimpahkan ke keluarga sedarah. Kalau ke menantu nggak bisa,” tegas Agung.
Ia menambahkan, Siskohat juga dilengkapi dengan sistem keamanan berlapis. Langkah ini diambil untuk melindungi data pribadi jemaah dari potensi penyalahgunaan. (Rap/Ter/MCH)