Mendag gaungkan pentingnya diplomasi kesatuan ASEAN
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menghadiri Pertemuan ke-25 Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA (ASEAN Economic Community Council/AECC) di Kuala Lumpur, Malaysia, (26/5/2025) . Dalam pertemuan tersebut, Mendag menekankan pentingnya diplomasi, negosiasi proaktif, dan kesatuan ASEAN dalam menghadapi risiko yang meningkat pada ekonomi global.
.jpeg)
Elshinta.com - Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menghadiri Pertemuan ke-25 Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA (ASEAN Economic Community Council/AECC) di Kuala Lumpur, Malaysia, (26/5/2025) . Dalam pertemuan tersebut, Mendag menekankan pentingnya diplomasi, negosiasi proaktif, dan kesatuan ASEAN dalam menghadapi risiko yang meningkat pada ekonomi global.
“Ekonomi global menghadapi risiko yang meningkat di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan. Saya ingin menekankan betapa pentingnya diplomasi dan negosiasi proaktif untuk mengurangi sentimen negatif dan pengalihan perdagangan (trade diversion), serta menjaga stabilitas ekonomi global,” kata Mendag, dikutip dari keterangan tertulis.
Mendag Budi Santoso menyampaikan, ada dua catatan strategis kunci yang ia simpulkan dari sejumlah diskusi produktif pada pertemuan-pertemuan tingkat kawasan, baik intra-ASEAN maupun ASEAN dengan negara mitra. Pertama, dari sisi hubungan dengan eksternal ASEAN, Mendag Budi Santoso menyampaikan perlunya pendekatan ganda yang menggabungkan diversifikasi mitra dagang dengan utilisasi berbagai perjanjian perdagangan bebas yang dimiliki ASEAN.
Sementara itu, dari sisi internal ASEAN, perlu upaya memperdalam integrasi regional dengan mempercepat inisiatif prioritas, misalnya, ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Para Menteri Dewan MEA menyambut baik penyelesaian substansial pembaruan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) dan ditargetkan dapat ditandatangani di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN pada Oktober 2025.
Pendalaman komitmen integrasi ASEAN diharap dapat meningkatkan perdagangan intra-ASEAN secara signifikan. Kedua, pentingnya memastikan kawasan ASEAN tetap produktif dan kompetitif. Hal ini sejalan dengan semangat kepemimpinan Malaysia tahun ini, yaitu “Inclusivity & Sustainability”.
Menurut Mendag Budi Santoso, ada risiko kesenjangan yang melebar seiring meningkatnya persaingan internal untuk mengambil peluang dari restrukturisasi rantai pasok global. Meskipun pertumbuhan ekonomi kita umumnya positif, kita harus memastikan bahwa “AEC Strategic Plan” yang akan datang tidak hanya interoperabel, tetapi juga dapat diimplementasikan secara praktis dan sesuai dengan perkembangan ekonomi global.
“Sinergi, kolaborasi, dan persatuan ASEAN sangat penting dalam menghadapi tantangan geoekonomi saat ini dan masa depan. Hanya melalui kerja sama, kita dapat mengatasi tantangan multidimensi ini dan membuka jalan menuju ASEAN yang lebih tangguh dan makmur,” kata Mendag Budi Santoso.
Pada Januari Maret 2025, total perdagangan Indonesia dengan ASEAN mencapai USD 26,40 miliar. Nilai ini meningkat 5,09 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang senilai USD 25,12 miliar. Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan terhadap ASEAN pada Januari Maret 2025 dengan nilai USD 3,07 miliar.
Sementara itu, pada 2024, total perdagangan Indonesia dengan ASEAN mencapai USD 105,42 miliar. Ekspor Indonesia ke ASEAN tercatat USD 53,81 miliar sementara impor Indonesia dari ASEAN USD 51,60 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus USD 2,21 miliar terhadap ASEAN.
Dalam pertemuan tersebut, turut hadir mendampingi Mendag, yaitu Staf Ahli Mendag Bidang Hubungan Internasional Johni Martha, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Edi Prio Pambudi, dan Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan Nugraheni Prasetya Hastuti. (Rir/Ter)