Kamis, 22 Februari 2018

Hadapi MEA, Indonesia perlu kembangkan ekonomi kreatif

Jumat, 11 Desember 2015 10:35

Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira. Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira.
Ayo berbagi!

Indonesia perlu mengembangkan ekonomi kreatif sebagai salah satu aspek perekonomian andalan dalam menghadapi pasar bebas seiring dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"MEA sudah di depan mata dan Indonesia harus terus bertumbuh dalam hal ekonomi kreatif," kata Ketua Bidang Organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (11/12).

Menurut Anggawira, potensi ekonomi kreatif Indonesia sangat besar dan potensial serta sektor tersebut juga dikenal sebagai sumber daya terbarukan yang tidak ada habisnya untuk diciptakan.

Hal itu, ujar dia, berbeda dengan sumber daya alam yang suatu saat akan terancam habis atau menipis.

Lebih dari itu, lanjutnya, ekonomi kreatif juga dapat digunakan sebagai penguatan identitas bangsa Indonesia yang dikenal kaya akan nilai-nilai kearifan lokal.

"Kehadiran asosiasi bertujuan mensinergikan potensi pengusaha untuk mendorong tumbuhnya 'start up bussiness' (usaha pemula)," katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Thomas Lembong merasa yakin bahwa usaha kecil menengah (UKM) dalam negeri mampu menghadapi pelaksanaan MEA, yang akan mulai berlaku aktif pada 1 Januari 2016.

"Saya sudah keliling ke daerah dan banyak melihat pameran UKM, saya percaya diri, banyak UKM yang punya lebih banyak cerita sukses dan melihat MEA sebagai peluang, bukan takut, merasa tertekan atau bertentangan dengan integrasi ASEAN," kata Thomas, seusai menghadiri "Apindo CEO's Gathering", di Jakarta, Senin (7/12).

Thomas mengatakan, salah satu upaya pemerintah untuk mendukung keberlangsungan usaha UKM, pemerintah telah melakukan deregulasi dan debirokratisasi untuk menyederhanakan proses perizinan dan menyelesaikan masalah regulasi yang tumpang tindih.

Senada dengan Thomas Lembong, Menteri BUMN Rini Soemarno memastikan perusahaan milik negara siap menghadapi implementasi MEA mulai 2016 asalkan mampu dan berhasil menjalin sinergi antar-BUMN.

"Saya mengatakan, kita tidak perlu takut menghadapi MEA. Sinergi BUMN membuat perusahaan semakin kuat di dalam negeri, sehingga perusahaan asing yang akan masuk dari ASEAN tidak akan maksimal karena BUMN kita semakin kuat," kata Rini, saat menutup acara Forum BUMN : "Sinergi BUMN Untuk Transformasi Indonesia", di Jakarta, Kamis (10/12).

Menurut Rini, memperkuat sinergi BUMN bisa mempertahankan posisi Indonesia di MEA.

Sebagaimana diberitakan, Republik Indonesia jangan hanya menjadi penonton dan seharusnya dapat memberdayakan secara optimal dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tahun 2016.

"Saya mengkhawatirkan dalam era MEA, Indonesia hanya menjadi penonton," kata Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

Menurut dia, dengan pemberlakuan MEA akan banyak produk asing yang membanjiri Indonesia antara lain karena produk itu lebih kompetitif, berkualitas, dan harga murah.

Begitu pula, lanjutnya, dengan tenaga kerja asing yang dinilai lebih kompetitif sehingga Indonesia dicemaskan juga hanya menjadi pasar.

Bahkan, ia menyatakan bahwa saat ini banyak warga Thailand yang telah dan sedang mempelajari bahasa Indonesia guna menghadapi MEA. (Ant)

Masih ada lagi informasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menarik untuk anda, klik disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-DeN

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar