Top
Begin typing your search above and press return to search.

03 Juni 2012: Tragedi arogansi aparat dengan suporter Persebaya

Tigabelas tahun lalu, tepatnya pada 3 Juni 2012, pernah terjadi bentrokan antara suporter Persebaya dan aparat kepolisian. Insiden tersebut terjadi setelah pertandingan Persebaya 1927 melawan Persija IPL di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, dalam kompetisi Liga Primer Indonesia.

03 Juni 2012: Tragedi arogansi aparat dengan suporter Persebaya
X
03 Juni 2012: Tragedi arogansi aparat dengan suporter Persebaya

Elshinta.com - Tigabelas tahun lalu, tepatnya pada 3 Juni 2012, pernah terjadi bentrokan antara suporter Persebaya dan aparat kepolisian. Insiden tersebut terjadi setelah pertandingan Persebaya 1927 melawan Persija IPL di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, dalam kompetisi Liga Primer Indonesia.

Polisi saat itu membubarkan massa dengan cara menembakkan gas air mata ke arah tribun. Suporter yang panik berebut keluar dan saling berdesakan. Situasi chaos tersebut akhirnya memakan satu korban. Purwo Adi Utomo meninggal setelah terinjak-injak kerumunan massa. Publik kemudian mengenal insiden tersebut sebagai Tragedi Arogansi Aparat Tiga Juni (Arapagani).

Rendi Irwan yang masuk skuad Persebaya 1927 masih ingat betul peristiwa itu. Dia ingat karena ayah dan pacarnya (istrinya sekarang) ikut menonton di tribun Stadion Gelora 10 November. ”Situasinya memang chaos,” kenangnya. Dia mengungkapkan, sang istri sempat melihat banyak korban berjatuhan. Khususnya perempuan dan anak-anak. ”Tertahan lama juga dalam ruangan untuk cari oksigen yang terkena tembakan gas air mata,” tuturnya.

Beruntung, sang istri dan ayahnya saat itu tidak terkena gas air mata. Begitu juga pemain Persebaya 1917. Dia ingat evakuasi pemain dilakukan sangat cepat kala itu. ”Kalau dibilang trauma, tidak. Hanya, itu jadi kenangan yang buruk untuk saya,” ucapnya.

M. Taufiq yang juga setim dengan Rendi kala itu menyampaikan hal yang sama. Dia masih ingat betul suasana rusuh saat itu. Gas air mata ditembakkan ke berbagai sisi oleh kepolisian. ”Saya berharap peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi,” tegasnya. Pelatih Persebaya 1927 saat itu, Divaldo Alves, juga masih ingat kejadian tersebut. Persebaya yang dipimpinnya saat itu sempat tertinggal 2-3 sampai menit ke-90.

Beruntung, penyerang Persebaya Fernando Soler mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3 pada menit ke-90+3. ”Ya, saya masih ingat, tahun 2012, hasilnya imbang, De Porras (striker Persija IPL, Red) cetak gol,” kata Divaldo kepada Jawa Pos. Tetapi, Divaldo tidak ingin membahas lebih jauh kejadian tersebut. Terutama soal tindakan aparat yang melemparkan gas air mata ke arah tribun. ”Saya tidak mau bicara banyak situasi polisi. Tapi, waktu itu memang stadion penuh dan itu pertandingan tensi tinggi,” ujar dia.

Dan, kejadian jauh lebih memilukan Sabtu malam pecah di Stadion Kanjuruhan, Malang, setelah Persebaya mengalahkan Arema FC 3-2. Pemicunya sama. Yakni, tembakan gas air mata.

”Saya masih tidak percaya sepak bola bisa memakan korban sebanyak itu,” kata Divaldo. ”Kita tahu sepak bola Indonesia memang punya fanatisme luar biasa. Tapi, sekarang harus ada aturan yang bisa membuat suporter lebih aman di dalam stadion,” ujarnya.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire