Melihat kiswah Ka'bah disulam
Jemari para pekerja itu menyulam kain dengan sehelai benang dan jarum penuh kehati-hatian dan konsentrasi penuh. Mereka tidak ingin setiap lubang jarum yang menembus kain sia-sia akibat salah menusuk di luar alur sulaman.

Elshinta.com - Jemari para pekerja itu menyulam kain dengan sehelai benang dan jarum penuh kehati-hatian dan konsentrasi penuh. Mereka tidak ingin setiap lubang jarum yang menembus kain sia-sia akibat salah menusuk di luar alur sulaman.
Sesekali dua atau tiga tangan pekerja itu melakukan gerakan yang sama namun dengan tingkat kecepatan yang berbeda. Sedangkan pekerja di sebelahnya menarik benang dengan hati-hati. Satu pekerja lainnya terlihat melihat deretan sulaman yang telah dibikin sebelumnya.
Mereka melakukan itu untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan sekecil apapun.
Para pekerja itu menyulam kain di bentangan kain yang panjang. Untuk memudahkan penyulaman, kain ditaruh di meja yang didesain khusus untuk pekerjaan tersebut. Bukan seperti meja pada umumnya.
Bagian atas meja terbuat dari kain putih tebal yang diikat kuat dengan rangka meja. Rangka meja ini berupa balok kayu sehingga kuat untuk menahan tangan atau badan para pekerja. Para pekerja duduk di kursi saat menyulam.
Jika kain yang disulam pendek, penyulaman dilakukan satu orang namun jika kainnya panjang maka dibutuhkan empat penyulam sekaligus.
Tidak hanya satu meja di dalam ruangan itu. Ada belasan meja sebagai tempat melakukan pekerjaan itu secara yang sama, yakni menyulam. Siang itu, puluhan pekerja sedang menyulam di belasan meja.
Mereka melakukan pekerjaan yang sama yakni menyulam kain. Posisi duduk mereka berhadap-hadapan. Saling menghadap bentangan kain yang akan disulam.
Gulungan benang yang umumnya berwarna emas dan perak ditaruh di atas meja agar siap dipakai saat menyulam.
Pekerjaan itu dilakukan terus-menerus hingga kain selesai disulam.
Di saat puluhan pekerja menyulam, satu satu pekerja menggulung benang di sudut ruangan. Benang di gulung secara hati-hati. Sama dengan menyulam, menggulung benang juga dilakukan dengan tangan.
Di depan pekerja yang menggulung benang itu terdapat deretan gulungan benang yang nantinya akan dipakai pekerja lain di bagian penyulaman.
Mereka bukan di tempat yang biasa. Mereka sedang menyulam kain kiswah untuk penutup Ka'bah yang menjadi kiblat shalat umat Islam dari era Nabi Muhammad hingga hari kiamat nanti.
Lokasi pembuatan kiswah berada di King Abdulaziz Complex for the Holy Kaaba Kiswa di kawasan Old Makkah Jeddah Rd, Al Hamra Umm Al Jud, Makkah. Di lokasi inilah kiswah Ka'bah dibuat secara manual. Berbeda dengan bangunan-bangunan lain di Kota Makkah yang umumnya minim pepohonan bahkan tidak punya sama sekali, kawasan ini terlihat lebih hijau karena ada belasan pohon kurma di dalam kompleks ini.
Semua tahapan proses dilakukan secara manual dan tidak melibatkan bantuan mesin sama sekali. Bahkan untuk menggulung benang pun juga dilakukan dengan manual.
Manajer King Abdulaziz Complex for the Holy Kaaba Kiswa Ahmad Abu Musaid mengatakan sudah hampir 100 tahun pihaknya memproduksi kiswa untuk Ka'bah.
Kiswa yang diproduksi membalut Ka'bah dengan desain yang indah serta melindungi bangunan suci tersebut dari paparan cuaca, karena menggunakan bahan-bahan dengan kualitas terbaik.
Biaya total sebesar 25 juta riyal disediakan oleh Pemerintah Saudi untuk memproduksi kiswa Ka'bah.
"Pemerintah Saudi menyediakan biaya untuk membawa material-material berkualitas terbaik dari Jerman," kata dia di lokasi pabrik kiswa.
Sejumlah bahan yang digunakan, ujarnya, antara lain kain sutra, perak, dan emas.
Ahmad menjelaskan bahwa setiap tahunnya, kiswah tersebut diganti. Adapun proses pembuatan sebuah kiswah membutuhkan 10 bulan. Tak hanya untuk Ka'bah, pihaknya juga mengurus perihal kiswah untuk makam Nabi Muhammad di Madinah.
Dia menambahkan kiswah untuk Ka'bah itu dihiasi dengan berbagai surat dari Al Quran, seperti Al Ikhlas, serta teks Allahu Akbar di atas bagian tempat di mana batu Hajar diletakkan di sudut Ka'bah.
Selain itu, Ahmad menyebutkan bahwa pabrik tersebut memiliki sebanyak 159 orang pekerja yang mengerjakan kiswa tersebut.
"Orang tertua yang bekerja di pabrik, dia sekarang lebih dari 45 tahun bekerja di pabrik kiswah," katanya.
Setelah selesai dibuat, kiswah pun dipasang. Setiap tanggal 1 Muharram menjadi waktu pergantian kain kiswah. Kiswah baru ditarik dengan tali yang diikat di setiap sisi kain.
Setelah itu, kain ditarik ke atas hingga kiswah menutup Kakbah. Kemudian, pekerja akan menjahit tiap sudut kiswah agar bisa menutup Ka'bah dengan sempurna.
Sedangkan kiswah lama akan disimpan untuk dijadikan cinderamata Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Potongan kain kiswah akan diberikan kepada para tamu Kerajaan Arab Saudi yang berkunjung.
Sejak dulu
Penutupan Ka'bah dengan kain sebenarnya jauh sebelum era Nabi Muhammad menyebarkan agar Islam di Kota Makkah. Ada sumber yang menyebutkan Ka'bah ditutup dengan kain ada awal abad 5 Masehi, sedangkan Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi dan rasul pada abad 7 Masehi atau tepatnya 610 Masehi.
Pada awal abad 5 Masehi, Ka'bah ditutup dengan kain wol merah. Suku-suku di wilayah secara patungan mengumpulkan biaya untuk pembuatan kain penutup ini.
Ketika membebaskan Kota Makkah pada tahun 630 Masehi tepatnya pada tanggal 20 Ramadhan tahun Hijriyah, Nabi Muhammad tidak mengganti kain penutup ka'bah yang lama dan terus mempertahankan adanya kain penutup itu.
Hal itu terus berlanjut pada pemerintahan Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga saat ini.
Pada zaman kekhalifahan, kiswa dibuat di Mesir namun pada 1927 sebagian kiswah mulai dibuat di Makkah dan pada 1962, kiswah sepenuhnya dibuat di Makkah.Saat ini, kiswah memiliki tiga warna yakni hitam, emas, dan perak. Hitam merupakan warna untuk kain sutra yang menjadi warna dasar kiswah, sedangkan warna emas dan perak merupakan warna tulisan dan aksen sehingga kedua warna ini menambah indah tampilan kiswah.