Top
Begin typing your search above and press return to search.

Studio Seni KaKaSya tampilkan cerita tradisional berbalut sentuhan modern  

Studio Seni Krida Kumara Çamhita (KKÇ/KaKaSya) kembali menghidupkan panggung seni lewat pertunjukan teater bertajuk Pentas Kangen.

Studio Seni KaKaSya tampilkan cerita tradisional berbalut sentuhan modern  
X
Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com.

Elshinta.com - Studio Seni Krida Kumara Çamhita (KKÇ/KaKaSya) kembali menghidupkan panggung seni lewat pertunjukan teater bertajuk Pentas Kangen.

Pentas Kangen yang digelar di aula UBTV berlangsung menarik dan dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan wakilnya Ali Muthohirin dan Kepala Kominfo Kota Malang Nur Widianto.

Tampilan dari Studio Seni KaKaSya yang telah berdiri sejak tahun 1981 tersebut menampilkan dua perform yaitu pertujukan teater anak dan cerita tradisional seperti Puncak Asmara Desa Dadapan karya Wahyu Prabowo dan Petak Umpet karya Alfanul U.

Studio Seni KaKaSya mempersembahkan Pentas Kangen dengan konsep pertunjukan teater lintas generasi bertema Galeri Kisah Nusantara. Acara ini menghadirkan tiga naskah dengan lakon utama berjudul Air Terjun Penantian karya A. Ulum.

Sebagai pentas pembuka, hadir dua penampilan apik yakni Puncak Asmara Desa Dadapan karya Wahyu Prabowo dan Petak Umpet karya Alfanul U dan ditutup dengan penampilan terakhir cerita tradisional masyarakat Mitos Dewi Anjarwati sebagai penunggu Coban Rondo.

Dalam kesempatan ini, Made Suprapto, selaku produser dan penanggung jawab program, menyampaikan bahwa tujuan utama Pentas Kangen ini merupakan bentuk wisata edukasi budaya dan sejarah melalui seni pertunjukan yang ditujukan kepada generasi muda dan masyarakat umum.

“Kami ingin kembali aktif berkontribusi di kancah seni pertunjukan di Kota Malang," kata Made Suprapto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Senin (16/6).

Dia menyebut, pertunjukan ini disaksikan oleh penonton dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Made Suprapto menyatakan bahwa minat generasi muda terhadap seni pertunjukan masih sangat tinggi, terutama jika dikemas dengan cara yang relevan dan bermuatan lokal.

"Harapan kami, Pentas Kangen tidak hanya menjadi tontonan kekinian, tapi juga tuntunan yang mengangkat nilai-nilai budaya dan sejarah. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap kekayaan kisah Nusantara," tambahnya.

Dengan semangat kolaborasi lintas generasi, Pentas Kangen membuka ruang baru bagi seni teater yang mengangkat kisah tradisional untuk kembali mendapat tempat di hati publik. "Selain itu, sekaligus menjadikan panggung sebagai medium edukatif yang mampu merawat identitas budaya bangsa," tandasnya.

Sementara itu, sutradara naskah Air Terjun Penantian, Alfanul Ulum menjelaskan bahwa karya yang ditampilkan bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah upaya pelurusan sejarah dan mitos yang selama ini hidup dalam masyarakat.

"Kami ingin menghadirkan kembali kisah-kisah lokal dengan pendekatan yang lebih segar dan edukatif, terutama kepada generasi muda. Mitos Dewi Anjarwati sebagai penunggu Coban Rondo selama ini kerap disalahpahami. Melalui pertunjukan ini, kami ingin mengembalikan narasi yang lebih adil dan bernilai budaya," terangnya.

Dia menyebut, naskah ini diharapkan bisa mengedukasi sekaligus meluruskan mitos Dewi Anjarwati, sosok yang selama ini diyakini sebagai "penunggu" Coban Rondo yang mengganggu pasangan kekasih yang datang ke sana.

"Kami ingin menyuguhkan narasi alternatif yang lebih adil dan bernuansa budaya. Kisah Dewi Anjarwati selama ini sering direduksi menjadi mitos negatif, padahal ada sisi kemanusiaan dan kesetiaan yang dalam di baliknya," singkatnya .

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire