Pria asal Tegal ini ciptakan alat pemusnah sampah minim asap
Masalah sampah menjadi persoalan lingkungan yang terus mengemuka di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari keterbatasan sistem pengelolaan sampah, minimnya kesadaran masyarakat, hingga dampak pencemaran udara akibat metode pembakaran terbuka yang tidak ramah lingkungan.

Elshinta.com - Masalah sampah menjadi persoalan lingkungan yang terus mengemuka di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari keterbatasan sistem pengelolaan sampah, minimnya kesadaran masyarakat, hingga dampak pencemaran udara akibat metode pembakaran terbuka yang tidak ramah lingkungan. Di tengah tantangan tersebut, seorang pria asal Tegal, Hari Nurdiansyah hadir membawa harapan melalui sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar.
Hari berhasil menciptakan alat pemusnah sampah minim asap yang unik dan fungsional. Berbeda dengan incinerator pada umumnya yang membutuhkan energi besar dan menghasilkan polusi, alat ciptaan Hari justru dirancang menggunakan bahan bakar dari oli bekas dan air, menjadikannya lebih hemat, praktis, serta ramah lingkungan.
"Saya ingin menciptakan alat yang bisa digunakan masyarakat langsung di lingkungan mereka sendiri baik di rumah, sekolah, masjid, atau pesantren tanpa harus khawatir soal asap atau biaya operasional yang mahal," jelas Hari Nurdiansyah, sang inovator.
Alat ini dirancang dengan sistem pembakaran tertutup dan alur udara yang diatur sedemikian rupa, sehingga proses penghancuran sampah berlangsung optimal tanpa menghasilkan asap pekat. Penggunaan oli bekas sebagai sumber panas utama, dicampur dengan air untuk menjaga kestabilan suhu dan mencegah ledakan tekanan, menunjukkan bagaimana limbah yang sebelumnya tak berguna kini dimanfaatkan kembali secara produktif.
Dengan dimensi yang tidak terlalu besar, alat ini dapat dipindahkan dengan mudah dan mampu membakar sampah rumah tangga harian secara bertahap. Sampah organik maupun anorganik kering dan basah sekalipun bisa diolah dengan cepat dan bersih. Bahkan, residu dari pembakaran dapat digunakan sebagai abu pupuk atau dibuat peralatan taman (paving).
Sebelum dikenal sebagai inovator teknologi lingkungan, Hari Nurdiansyah telah lama berkecimpung di dunia kerajinan. Namun, kepeduliannya terhadap isu lingkungan dan kesehatan masyarakat membuatnya tertantang menciptakan sesuatu yang lebih berdampak. Ia pun menggabungkan keterampilan tangan, pengetahuan teknis, serta kepekaan sosial untuk menghadirkan alat pemusnah sampah ini.
"Saya bukan ilmuwan atau insinyur, tapi saya percaya siapa pun bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan jika ada niat dan usaha. Alat ini adalah hasil eksperimen bertahun-tahun dan niat tulus ingin membantu," tambahnya.
Saat ini, Hari terus menyempurnakan desain dan performa alatnya, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak baik pemerintah daerah, komunitas lingkungan, maupun lembaga pendidikan untuk mengembangkan alat ini secara luas.
Selain memproduksi alat, Hari juga aktif melakukan edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas dan penggunaan teknologi tepat guna. Ia berharap alat ini bisa menjadi pemantik perubahan, di mana masyarakat lebih sadar terhadap tanggung jawabnya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
"Saya ingin alat ini tidak hanya jadi produk, tapi juga jadi bagian dari gerakan perubahan—dimulai dari lingkungan terkecil seperti rumah dan RT," pungkas Hari.