Top
Begin typing your search above and press return to search.

BI: Akses pasar UMKM sulit tanpa penguatan kelembagaan dan kapasitas

Bank Indonesia (BI) menyebut perluasan akses pasar bagi UMKM akan sulit dicapai tanpa didahului oleh penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.

BI: Akses pasar UMKM sulit tanpa penguatan kelembagaan dan kapasitas
X
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto dalam sesi wawancara bersama media di KPw BI Provinsi Lampung, Bandarlampung, Rabu (25/6/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Elshinta.com - Bank Indonesia (BI) menyebut perluasan akses pasar bagi UMKM akan sulit dicapai tanpa didahului oleh penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Ketiga komponen ini, yakni kelembagaan, kapasitas, dan akses pasar, merupakan satu kesatuan kerangka pengembangan UMKM yang saling terhubung, sehingga kerangka inilah yang digunakan BI dalam mendampingi UMKM di daerah-daerah melalui peran Kantor Perwakilan (KPw).

“(Perluasan akses pasar) tidak akan timbul dengan sendirinya. Itu merupakan suatu hasil dari proses yang berjalan panjang, berdasarkan pengalaman kami berhubungan dengan UMKM,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto dalam sesi wawancara bersama media di Bandarlampung, dikutip Kamis.

Penguatan kelembagaan UMKM berhubungan fondasi usaha yang legal, tertata, dan kredibel. Sementara peningkatan kapasitas diarahkan pada kemampuan pelaku usaha dalam membangun model bisnis yang kuat, memahami dinamika dan selera pasar, serta berinovasi agar tidak terjebak dalam pola usaha yang konvensional dan monoton.

Di tengah tantangan efisiensi anggaran pemerintah dan tekanan ekonomi global, BI menggarisbawahi pentingnya diversifikasi pasar, baik domestik maupun ekspor. Dalam hal perluasan pasar ekspor, tantangan bahkan jauh lebih kompleks dan memerlukan kesiapan lebih tinggi dari pelaku usaha.

Lebih lanjut, Bimo menyampaikan bahwa strategi dukungan terhadap UMKM telah dijalankan BI selama ini, bahkan sebelum munculnya isu efisiensi anggaran pemerintah.

BI secara aktif menggandeng UMKM, baik binaan maupun nonbinaan, untuk terlibat dalam berbagai event, baik sebagai partisipan pada kegiatan pameran maupun sebagai penyedia produk suvenir. Event ini seperti Festival Ekonomi Syariah (FESyar) tingkat regional, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), dan seterusnya.

Oleh sebab itu, keterlibatan UMKM dalam berbagai event bank sentral diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meringankan beban UMKM, terutama saat UMKM menghadapi masa sulit.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah (DEKS) BI Imam Hartono menambahkan bahwa bank sentral mendorong pendekatan pengembangan UMKM yang tidak hanya berfokus pada rantai pasok (supply chain), tetapi juga memperkuat rantai nilai (value chain).

“Ke depan kita kalau bicara chain, harus lebih mengedepankan value chain daripada supply chain,” ujar Imam.

Jika supply chain hanya menitikberatkan pada alur produksi dari bahan baku hingga pemasaran, maka value chain mencakup penguatan seluruh aspek yang menyertai proses bisnis UMKM mulai dari hulu hingga hilir. Pendekatan berbasis value chain ini diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang lebih besar bagi perekonomian, karena memperkuat ekosistem UMKM secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire