Ulama Indonesia kecam temuan pil narkotika di bantuan untuk Palestina
Dunia dikejutkan oleh temuan pil narkotika jenis Oxycodone di dalam kantong tepung bantuan kemanusiaan yang dikirim Amerika Serikat ke wilayah Gaza, Palestina.

Elshinta.com - Dunia dikejutkan oleh temuan pil narkotika jenis Oxycodone di dalam kantong tepung bantuan kemanusiaan yang dikirim Amerika Serikat ke wilayah Gaza, Palestina. Bantuan tersebut disalurkan melalui titik distribusi yang dikelola oleh lembaga bantuan Amerika (GHF).
Pil-pil tersebut ditemukan langsung oleh warga Palestina saat membuka kemasan bantuan makanan.
Oxycodone, yang merupakan obat penghilang rasa sakit keras dan bersifat adiktif, ditemukan tersembunyi dalam bantuan yang seharusnya menyelamatkan nyawa.
Temuan ini memicu kemarahan publik dan kecaman keras dari berbagai tokoh, termasuk ulama Indonesia.
Tokoh ulama Indonesia, Ustad Bachtiar Nasir, mengecam atas adanya narkotika dibantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina.
Ia menyebut temuan itu sebagai bagian dari perang pembodohan sistematis terhadap generasi muda Muslim Palestina, terutama di wilayah Al-Quds dan Tepi Barat.
“Di Al-Quds, anak-anak Muslim dijauhkan dari pendidikan agama lewat sekolah-sekolah keren buatan Israel. Mereka dijerumuskan lewat kecanggihan digital, dibodohi, lalu disebarkan narkoba,” kata UBN sapaan akrabnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hamzah Aryanto, Senin (30/6).
Menurutnya, penyebaran narkoba di wilayah konflik bukan hal baru. Ia menyebut ini sebagai strategi penghancuran akidah dan moral yang berlangsung secara sistematis.
“Anak-anak Muslim dijadikan target khusus. Diberi narkoba, lalu dikucurkan bantuan dolar seolah untuk rehabilitasi. Padahal, dengan tidak boleh diintervensi keluarga, bantuan itu justru dipakai untuk beli narkoba lagi,” ungkapnya.
Ia menekankan tindakan ini adalah bentuk perang non-konvensional, yakni dengan menghancurkan mental, moral, dan pemahaman keagamaan generasi muda lewat jalur pendidikan dan narkotika.
“Dalam sejarah konflik, ini adalah bagian dari kerja-kerja pembodohan terstruktur,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan Palestina disebut sedang menyelidiki lebih lanjut dugaan masuknya zat adiktif melalui jalur bantuan internasional.
Sejumlah kelompok HAM internasional juga mendesak penyelidikan terbuka dan transparan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.