Top
Begin typing your search above and press return to search.

Jembatan Lawai di Lahat roboh, empat truk batubara dievakuasi

Jembatan tua Lawai yang menghubungkan Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim ambruk pada Minggu (29/6) malam.

Jembatan Lawai di Lahat roboh, empat truk batubara dievakuasi
X
Sumber foto: Adi Asmara/elshinta.com.

Elshinta.com - Jembatan tua Lawai yang menghubungkan Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim ambruk pada Minggu (29/6) malam. Diduga jembatan roboh akibat tak mampu menahan beban berat kendaraan, terutama truk-truk pengangkut batubara yang melintasinya. Peristiwa ini terjadi tepatnya di Desa Muara Lawai, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

Akibat runtuhnya jembatan sepanjang 50 meter tersebut, empat unit truk batubara terjun bersama reruntuhan jembatan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Para sopir truk berhasil menyelamatkan diri.

Insiden ini menyebabkan arus lalu lintas dari dan menuju Kabupaten Lahat serta Muara Enim mengalami kemacetan parah hingga Senin sore. Sejumlah kendaraan terpaksa memutar arah atau menunggu proses evakuasi selesai.

Pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan selaku pengelola aset jalan nasional segera bergerak cepat melakukan evakuasi kendaraan yang terjatuh, bekerja sama dengan pemerintah daerah, Pemprov Sumsel, dan pihak kepolisian. Hingga Senin malam, proses evakuasi masih terus berlangsung.

Kepala BBPJN Sumsel, Hardi Siahaan, Selasa (01/07/2025) menjelaskan bahwa langkah awal yang dilakukan setelah jembatan roboh adalah mengevakuasi kendaraan yang terjatuh, mengamankan lokasi, dan melakukan pemeriksaan terhadap struktur jembatan yang ambruk.

"Kondisi medan menyulitkan proses evakuasi. Setelah itu, kami langsung fokus menyelesaikan perawatan jembatan rangka duplikat yang berada di sebelah jembatan lama untuk digunakan sebagai jalur alternatif," kata Hardi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Adi Asmara, Selasa (1/7).

Menurut Hardi, jembatan duplikat tersebut kini sudah bisa dilalui meskipun masih menunggu penyelesaian tahap pengaspalan yang diperkirakan rampung dalam dua hari ke depan.

Lebih lanjut Hardi juga menekankan pentingnya penertiban kendaraan bertonase berat yang melintasi jembatan-jembatan nasional. Namun demikian, ia mengakui bahwa BBPJN tidak memiliki kewenangan langsung untuk menghentikan truk-truk tersebut, sehingga perlu koordinasi lebih lanjut dengan pihak Kepolisian dan Pemerintah Daerah.

Terkait penggantian total jembatan yang rusak, Hardi menyebut keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri. Untuk sementara waktu, pihaknya akan memaksimalkan penggunaan jembatan duplikat yang sudah diperbaiki.

Sementara itu, menanggapi kemungkinan keterlibatan perusahaan-perusahaan batubara dalam kerusakan jembatan, Hardi membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk untuk membahas tanggung jawab dalam pembiayaan penggantian jembatan.

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dengan tegas telah menyatakan bahwa ambruknya jembatan Lawai disebabkan oleh aktivitas kendaraan batubara yang melebihi kapasitas jembatan.

Menurut Gubernur, perusahaan-perusahaan batubara seharusnya turut bertanggung jawab atas kerusakan infrastruktur tersebut. Ia menegaskan akan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, Kepolisian, dan pihak-pihak terkait guna menyelesaikan permasalahan ini.

“Saat ini kami dari Pemprov Sumsel dalam hal ini pihak PUBM-TR selalu siap membantu mendorong upaya penanganan darurat secepatnya, agar lalu lintas di tempat kejadian bisa berjalan normal,” tegas Herman Deru

Dari informasi yang didapatkan darI lapangan, proses evakuasi pengangkatan kendraan truk Batubara ke permukaan masih dilkukan.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire