Langkah Berau menuju pariwisata berkelanjutan melalui ekowisata
Hutan tropis hijau, lautan biru dengan pantai berpasir putih, dan kekayaan budaya lokal menjadi kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan daya tarik destinasi wisata di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Elshinta.com - Hutan tropis hijau, lautan biru dengan pantai berpasir putih, dan kekayaan budaya lokal menjadi kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan daya tarik destinasi wisata di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Keindahan alam yang masih asri dan terjaga menjadi potensi besar untuk mengembangkan ekowisata di wilayah yang menjadi ujung hidung Pulau Kalimantan itu. Dengan potensi tersebut, pemerintah Kabupaten Berau berupaya mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya berdampak pada kelestarian ekosistem tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah Kabupaten Berau saat ini tengah fokus menjadikan sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi baru, menggantikan posisi pertambangan yang selama ini menjadi sumber pemasukan utama.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Samsiah Nawir, menjelaskan bahwa pemerintah tengah berkonsentrasi penuh dalam upaya membangun sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pascatambang.
Menurut Samsiah, pembangunan pariwisata dipandang sebagai solusi efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dia mencontohkan bahwa efek pengganda dari sektor ini mampu mendorong perubahan nyata pada taraf hidup warga.
“Lewat multiplier effect pariwisata ini, banyak sekali membantu mengangkat perekonomian lokal. Misalnya warga yang tadinya nelayan, sekarang sudah berkembang, dia nelayan tapi sudah punya homestay dan punya toko sembako, warung kopi, dan lain-lain,” ujar Samsiah.
Potensi wisata
Berau memiliki 225 destinasi wisata yang terdiri atas 159 wisata alam, 39 wisata budaya, dan 27 wisata buatan. Beberapa destinasi andalan antara lain Merabu yang menawarkan pemandangan karst dan saat ini tengah diusulkan sebagai geopark nasional, Danau Kakaban dengan keunikan biota ubur-ubur yang tak menyengat dan langka di dunia, serta Labuan Cermin yang terkenal dengan danau dua rasa, air asin dan tawar yang bersatu di satu tempat.
Selain itu, terdapat 19 desa wisata yang telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Desa Wisata dari pemerintah daerah. Di antaranya, Desa Payung-Payung yang selain mendapat SK Desa Wisata, juga mendapat pengakuan sebagai Desa Wisata Bahari dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Dari total 225 destinasi wisata di wilayah ini, pemerintah kabupaten telah menetapkan 10 destinasi unggulan yang akan segera dibangun dan dilengkapi dengan fasilitas serta sarana prasarana pendukung.
Kolaborasi lintas sektor
Sebagai bagian dari langkah konkret dalam pengembangan ekowisata, Pemkab Berau secara aktif mengajak para pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan di kawasan wisata. Salah satunya dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku wisata, hingga masyarakat lokal untuk bersama-sama memelihara ekosistem alam di destinasi wisata.
Pemerintah daerah juga telah melibatkan pelaku usaha pariwisata dalam pengelolaan kawasan wisata agar berorientasi pada kelestarian lingkungan. Langkah ini diwujudkan dengan mengedukasi para pelaku wisata agar menjalankan aktivitas usaha yang berwawasan lingkungan, termasuk tata kelola sampah, penggunaan bahan ramah lingkungan, serta tidak merusak habitat alami.
Kegiatan monitoring juga dilakukan di berbagai destinasi, terutama kawasan pesisir, untuk memastikan bahwa pengelola maupun pengunjung menjalankan praktik wisata yang sesuai dengan prinsip ekowisata. Hal ini termasuk larangan membuang sampah sembarangan dan menjaga kelestarian biota laut serta hutan mangrove di sekitar destinasi wisata.
Pemerintah juga berupaya membangun kesadaran masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Ini bertujuan agar masyarakat lokal menjadi bagian aktif dalam menjaga potensi wisata dan menjadikannya sumber penghidupan yang berkelanjutan, tanpa merusak alam yang menjadi daya tarik utama wisata Berau.
Untuk mengoptimalkan pengembangan sektor ini, Pemkab Berau membina 36 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Di sisi lain, pembangunan pariwisata turut melibatkan sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berkolaborasi dengan instansi seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (PERKIM), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) untuk mendukung kelancaran dan keberhasilan program ini.
Pemerintah Kabupaten Berau juga memperkuat sinergi dengan lembaga konservasi seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dalam mengembangkan konsep ekowisata yang berkelanjutan. Kerja sama ini difokuskan pada pengelolaan kawasan wisata yang tidak hanya mengedepankan promosi daya tarik wisata alam, tetapi juga mengutamakan perlindungan terhadap ekosistem.
Upaya masyarakat lokal
Upaya pelestarian dan promosi pariwisata juga melibatkan peran aktif masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Salah satunya dilakukan oleh Pokdarwis Kampung Biduk-Biduk yang berperan dalam mempromosikan destinasi wisata Labuan Cermin.
Anggota Pokdarwis Biduk-Biduk Rudiansyah menuturkan bahwa kelompoknya kini lebih fokus pada penguatan citra destinasi melalui strategi branding dan pemanfaatan media digital, seperti media sosial dan situs web, agar jangkauan promosi bisa sampai ke luar Kalimantan, bahkan merambah ke pasar wisatawan luar negeri.
Selain promosi, Pokdarwis Biduk-Biduk juga berupaya menjaga keberlangsungan ekosistem di kawasan destinasi wisata Labuan Cermin seperti menyampaikan himbauan kepada wisatawan agar tidak menginjak atau merusak karang saat berenang.
Di destinasi wisata mangrove Sigending, Teluk Sulaiman, pengelola setempat memiliki pendekatan sendiri dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di kawasan tersebut.
Forum Peduli Kelestarian Alam (Forlika) Teluk Sulaiman sebagai salah satu pihak yang mengelola kawasan wisata mangrove Sigending menerapkan sistem antrean agar kunjungan wisatawan tidak menumpuk di satu waktu yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan akibat ceceran sampah hingga kebisingan yang dapat mengganggu satwa-satwa di sana.
Wisata mangrove dan bahari di Teluk Sulaiman menggunakan moda transportasi perahu kelotok untuk berpindah dari satu titik pengamatan ke titik lainnya. Pengelola mengimbau mesin perahu dimatikan saat berada di titik pengamatan agar tidak mengganggu satwa-satwa endemik yang tinggal di sana.
Pengembangan ekowisata di Kabupaten Berau menunjukkan bahwa sektor pariwisata bukan hanya soal menarik wisatawan, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap alam dan keberlangsungan ekosistem.
Upaya menjaga kelestarian lingkungan serta pelibatan aktif masyarakat menjadi kunci agar destinasi-destinasi wisata di Berau tetap lestari dan memberi manfaat ekonomi jangka panjang.