Kolaborasi dunia bergandengan tangan berantas penyakit kusta
Agenda pertemuan internasional yaitu International Leprosy Congress (ILC) ke 22 yang membahas terkait penanganan dan pemberantasan penyakit Lepra atau yang dikenal dengan nama lain Kusta tersebut digelar di Pulau Dewata Bali.

Elshinta.com - Agenda pertemuan internasional yaitu International Leprosy Congress (ILC) ke 22 yang membahas terkait penanganan dan pemberantasan penyakit Lepra atau yang dikenal dengan nama lain Kusta tersebut digelar di Pulau Dewata Bali.
Kongres internaional tersebut berlangsung sejak 7 hingga 9 Juli 2025 berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Nusa Dua, Kecamatan Nusa Dua Selatan, Kabupaten Badung,
Menurut informasi, kongres yang berlangsung selama 3 hari tersebut diikuti sebanyak 719 peserta dari 23 negara termasuk Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan.
Tujuannya adalah untuk mempercepat penuntasan kasus penyakit kusta salah satunya dengan mempertemukan para ahli, peneliti, praktisi medis, pembuat kebijakan, dan komunitas penyintas kusta.
Acara tesebut difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bekerja sama dengan Sasakawa Health Foundation (SHF) dan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).
Acara tersebut dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Yohei Sasakawaz selaku WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination. Kongres juga dihadiri perwakilan organisasi internasional, lembaga non-pemerintah, peneliti, pemerintah daerah serta hingga penyintas kusta.
“Saya menyadari bahwa Kusta (Lepra) bukan sekadar persoalan angka kasus. Kusta adalah penyakit yang membawa stigma dan diskriminasi. Karena itu, kita perlu langkah luar biasa agar Indonesia segera mencapai nol kusta, nol disabilitas, dan nol stigma," kata Budi Gunadi Sadikin, Kamis (10/7).
Sementara itu Yohei Sasakawa dalam kesempatan ini memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Republik Indonesia atas kepemimpinan yang kuat dalam upaya eliminasi kusta.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Menkes Budi atas komitmen yang luar biasa. Indonesia adalah negara besar dengan tantangan geografis yang kompleks,” kata Yohei Sasakawa.
“Namun saya percaya, dengan kerja sama semua pihak, mimpi menuju Indonesia bebas kusta bukanlah sesuatu yang mustahil,” jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Kamis (10/7).
“Saya sudah berusia 86 tahun, tetapi saya berharap dapat menyaksikan hari ketika Indonesia berhasil menghapus kusta sepenuhnya," sambungnya.
Kemenkes RI memaparkan lima (5) langkah strategis percepatan eliminasi kusta, masing-masing yang pertama Perluasan wilayah akselerasi target eliminasi kusta dari 42 menjadi 111 kabupaten/kota pada 2030.
Kedua pelaksanan skrining masif yang dimulai Juli 2025 di lima kabupaten prioritas: Tangerang, Kab. Bekasi, Kab. Brebes, Kota Jayapura, dan Kab Sampang.
Ketiga penerapan skrining bagi populasi dengan risiko tinggi sindrom hipersensitivitas Dapsone, khususnya di Papua, Maluku, dan Sulawesi.
Keempat penguatan ketersediaan pengobatan MDT. Kelima partisipasi aktif dalam riset dan uji klinis vaksin kusta internasional.
Dalam komgres ini diharokam semua pemangku kepentingan, yakni pemerintah, organisasi internasional, akademisi, pemimpin agama, hingga komunitas untuk bersatu menghadapi tantangan kusta dan diskriminasi yang ditimbulkannya.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, ILC ke-22 diharapkan dapat menjadi katalisator bagi percepatan upaya global menuju dunia bebas lepra.
Salah satu agenda utama dalam kongres ini adalah penandatanganan komitmen oleh lima kepala daerah dari wilayah dengan beban kusta tertinggi, yaitu Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Sampang, dan Kota Jayapura. Penandatanganan ini menandai keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung upaya eliminasi penyakit kusta sampai tuntas.