Top
Begin typing your search above and press return to search.

Gelar apel kesiapsiagaan, Menteri LH: Pentingnya upaya pencegahan karhutla 

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pentingnya sinergi dan tindakan terpadu dalam upaya pencegahan serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Gelar apel kesiapsiagaan, Menteri LH: Pentingnya upaya pencegahan karhutla 
X
Sumber foto: Adi Asmara/elshinta.com.

Elshinta.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pentingnya sinergi dan tindakan terpadu dalam upaya pencegahan serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Selain itu pula menurutnya, pengendalian karhutla berperan besar dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.

Hal ini disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq dalam Apel dan Simulasi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan di Lapangan Griya Agung Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (29/7/2025).

Pada acara ini turut dihadiri langsung Gubernur Sumsel Herman Deru, Pangdam II/Swj, Kapolda Sumsel, Kabasarnas Masrsekal Madya TNI Muhammad Syafii, Kepala BNPB Letjen TNI Subaryanto. Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati, serta beberapa kepala Daerah di Sumsel.

“Pengendalian kebakaran hutan dan lahan juga memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Keterpaduan, sinergi, dan aksi-aksi menyeluruh seluruh pemangku kepentingan termasuk pihak swasta menjadi kunci keberhasilan,” tegas Hanif seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Adi Asmara, Selasa (29/7).

Ia mengingatkan bahwa sejarah telah mencatat Indonesia beberapa kali mengalami bencana karhutla besar, antara lain pada tahun 1981–1982, 1997–1998, tahun 2007, 2013, 2015, 2019, dan terakhir tahun 2023. Setiap peristiwa karhutla memiliki tingkat keparahan berbeda tergantung kondisi El Nino dan La Nina.

Secara nasional, sejak 1 Januari hingga 31 Mei 2025, tercatat sebanyak 983 kejadian karhutla dengan luas terdampak sekitar 5.485 hektare, berdasarkan hasil interpretasi visual citra satelit. Peristiwa ini tersebar di berbagai provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Fokus Khusus di Provinsi Sumatera Selatan, hingga 23 Juli 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan terdapat 1.104 hotspot dan 64 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 43 hektare.

Hanif memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, termasuk Gubernur dan seluruh unsur Forkopimda, TNI-Polri, Satgas Karhutla, hingga masyarakat yang telah bekerja keras dalam penanganan karhutla.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya Gubernur Sumsel dan tim Satgas Karhutla, atas kerja kerasnya. Kemarin, semua titik api berhasil dipadamkan,” ujar Hanif.

Modifikasi Cuaca EfektifMenteri Hanif juga menyampaikan apresiasinya terhadap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang telah melakukan tujuh kali operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatera Selatan, yang dinilai efektif memperpanjang hujan dan menekan jumlah hotspot di wilayah Sumsel.

“Operasi modifikasi cuaca yang dilaporkan kepada kami cukup efektif untuk memadamkan api dan menekan hotspot. Dalam konteks ini, peran cuaca sangat penting menambah kekuatan tim Satgas,” jelasnya.

Tim Satgas Karhutla di Sumsel terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, masyarakat peduli api, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Ancaman Puncak Kemarau BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Sumatera Selatan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025, dengan cakupan wilayah yang luas termasuk Musi Banyuasin, Banyuasin Barat, OKU Selatan , Muara Enim, Lahat, Prabumulih, hingga Ogan Komering Ilir dan Timur. Sekitar 79 persen wilayah Sumsel telah terdampak kemarau sejak 1 Juni 2025.

“Kami mendapatkan laporan dari Kepala BMKG bahwa saat ini adalah puncak bahaya karhutla di Sumsel. Wilayah ini memiliki luas 8,7 juta hektare, dengan lahan gambut mencapai 21 juta hektare. Jika terbakar, lahan gambut sulit dipadamkan. Maka pencegahan menjadi lebih efektif dibanding penanggulangan saat kebakaran telah terjadi,” urai Hanif.

Ia menegaskan bahwa berdasarkan data Kementerian LH, kebakaran hutan dan lahan tahun ini sebagian besar terjadi di lahan mineral dan di luar kawasan hutan, sehingga potensi timbulnya asap besar masih bisa ditekan.

Lebih lanjut Menteri Hanif kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi puncak kemarau dan mencegah bencana karhutla yang merugikan banyak pihak.

“Sudah seharusnya kiita harus bersiap dan bertindak lebih cepat untuk menghindari dampak karhutla yang luas dan gangguan yang dapat meresahkan masyarakat, termasuk potensi protes dari negara tetangga,” tutupnya.

Acara juga dilanjutkan dengan melaksanakan pengecekan pameran peralatan dari masing-masing stand yang memamerkan peralatan yang siap untuk digunakan dalam upaya mencegah Karhutla di Sumatera Selatan.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire