Kamis, 21 Juni 2018 | 22:44 WIB

Daftar | Login

Top header banner

/

Gen Neanderthal telah meningkatkan ketahanan tubuh manusia modern

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Ilustrasi manusia Neanderthal (sumber: Ancient Origins)
Ilustrasi manusia Neanderthal (sumber: Ancient Origins)
<p>Kerabat manusia modern, yaitu manusia Neanderthal serta manusia Denisovan pernah kawin campur bersama Homo sapiens dan menurunkan gen yang membantu kita melawan infeksi menurut dua penelitian yang terbit bulan Januari ini. Sayangnya, gen yang sama juga membuat kita lebih rentan kepada alergi. </p><p>Dalam sebuah makalah yang dimuat di <i>The American Journal of Human Genetics</i>, beberapa penelitian menunjukkan bahwa daya tahan manusia modern diperkuat dengan adanya kawin campur dengan "manusia purba". Gen yang diteliti diperkirakan diturunkan ketika terjadi kawin campur antar manusia modern dengan manusia Neanderthal sekitar 50 ribu tahun lampau.&nbsp;</p><p>Dr. Michael Dannemann dan koleganya menulis bahwa tiga gen reseptor yang terdapat dalam manusia yang melawan penyakit juga merupakan gen dengan tingkat perpindahan dari satu spesies ke yang lainnya.&nbsp;</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Forensic-reconstruction.jpg" width="424"></p><p>Rekonstruksi wajah manusia Neanderthal dari tengkoraknya (sumber: Cicero Moraes)</p><p><br></p><p>Menurut para ilmuwan, sekitar 1 hingga 6 persen dari gen manusia modern yang mendiami Eurasia diperoleh dari manusia purba yang kini telah punah, termasuk Denisovan dan Neanderthal. Sistem kekebalan yang diwarisi ini&nbsp; merupakan lini pertahanan pertama terhadap virus, bakteri atau mikro organisme lainnya.&nbsp;</p><p>Para peneliti menggambarkan periode terssebut demikian:&nbsp;</p><p>"Manusia modern yang mulai&nbsp; meninggalkan benua Afrika menemukan tantangan berupa lingkungan yang baru termasuk makanan yang tidak dikenalnya, berbagai macam patogen dan iklim yang berbeda," demikian tulis ketiga peneliti yang tergabung dalam <i>Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology</i>.&nbsp;</p><p>"Mereka juga berjumpa dengan jenis manusia lainnya, dan ada bukti yang menunjang bahwa terjadi perkawinan campur dengan Neanderthal dan Denisovan yang memberikan kontribusi pada susunan genetika manusia modern."&nbsp;</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/map-of-Neanderthal-like-haplotypes.jpg?itok=Auf6jOlw" width="558"></p><p><br></p><p>Peta pertama menunjukkan penyebaran haplotip (kumpulan gen yang diwariskan) dari Neanderthal - berwarna kuning.</p><p>Peta kedua menunjukkan keberadaan tiga gen yang diwariskan dari manusia purba terkait daya tahan tubuh (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>"Manusia Neanderthal hidup di Eropa dan Asia&nbsp; selama lebih dari 200 ribu tahun, dan beradaptasi sangat baik terhadap iklim serta patogen setempat. Dapat diperkirakan bahwa percampuran Homo sapiens dengan Homo neanderthalensis memberikan keunggulan daya tahan tubuh kepada manusia modern yang menyebar ke Eropa dan Asia. Setidaknya, dua dari kumpulan yang berpindah dari Neanderthal ke manusia modern telah menguntungkan populasi manusia modern."&nbsp;<br></p><p>Akan tetapi gen manusia purba yang diwariskan juga memiliki kaitan dengan kerentanan manusia terhadap alergi. Para penulis makalah menyimpulkan "Secara bersama, hal ini mengisyaratkan bahwa kumpulan gen yang berpindah dari Neanderthal ke manusia modern karena kawin campur itu meningkatkan reaksi terhadap patogen, akan tetapi juga meningkatkan reaksi terhadap alergen non patogen, yang menyebabkan berbagai macam alergi pada manusia sekarang."&nbsp;<br></p><p>Makalah lainnya, yang juga dimuat di <i>The American Journal of Human Genetics</i> dibuat atas pimpinan Matthieu Deschamps dari Institut Pasteur. Mereka menulis, "Beban penyakit menular telah menjangkiti umat manusia dalam sejarah, dan sebelum adanya kesadaran akan kebersihan, vaksin, antiseptik dan antibiotik; pada waktu itu populasi manusia menderita wabah penyakit yang menyebabkan angka kematian anak yang tinggi dan harapan hidup yang singkat." Dijelaskan bahwa gen Neanderthal sangat adaptif dan penting bagi orang-orang di Eropa.&nbsp;<br></p><p>Para peneliti ini juga mempelajari ketiga kelompok gen yang sama dan memperoleh kesimpulan yang serupa juga, yaitu terbentuknya sistem kekebalan yang lebih kuat karena percampuran genetik dengan manusia purba.&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kecelakaan | 21 Juni 2018 - 21:38 WIB

TNI kerahkan penyelam Marinir cari korban KM Sinar Bangun

Event | 21 Juni 2018 - 21:21 WIB

Messi lebih baik daripada Maradona

Asian Games 2018 | 21 Juni 2018 - 21:12 WIB

Menpora: Prediksi medali Asian Games sudah 80 persen

Pilkada Serentak 2018 | 21 Juni 2018 - 20:57 WIB

Prabowo Subianto semangati kader di Pilkada Sumatera Selatan

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

Sabtu, 16 Juni 2018 - 11:27 WIB

Polisi tembak pembunuh nenek di Tapanuli Selatan

Selasa, 12 Juni 2018 - 12:26 WIB

Hari raya Idul Fitri, listrik aman dari pemadaman

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com