Senin, 27 Maret 2017

Bangsa Babilonia gunakan kalkulus telusuri lintasan Jupiter

Jumat, 29 Januari 2016 12:35

sebuah tablet cuneiform (sumber: Ancient Origins) sebuah tablet cuneiform (sumber: Ancient Origins)
Ayo berbagi!

Analisa serangkaian tablet kuno menunjukkan bahwa astronom dari Babilonia (sekarang Irak) telah menggunakan metode geometris canggih untuk menentukan posisi planet Jupiter. Hal ini istimewa karena sebelumnya diperkirakan baru berlangsung di Eropa pada abad ke 14.

Dalam sebuah laporan yang dimuat dalam jurnal Science, diberitakan bahwa tablet kuno tersebut yang berasal dari masa 350 - 50 SM memiliki sejumlah informasi kecanggihan bangsa Babilonia. Artefak tersebut sempat dibiarkan di koleksi catatan cuneiform (cara tulis era tersebut), di British Museum, London. Adalah astroarkeolog Mathieu Ossendrijver dari Humboldt University Berlin yang melakukan analisa ulang tablet dari foto dan menyadari pentingnya penemuan ini. 

Astronomi Babilonia

Sejarak astronomi di Babilonia berawal dari bangsa Sumeria yang telah mencatat perjalanan benda-benda langit sejak 3500 - 3200 SM. Fenomena di langit sangat penting bagi orang Sumeria, yang menyamakan planet-planet dengan para dewa  yang menempati posisi penting dalam mitologi dan agama mereka. 

Astronomi Sumeria kemudian banyak mempengaruhi orang Babilonia yang menciptakan katalog bintang mereka sekitar 1200 SM. 

Di abad ke 8 SM, astronom Sumeria telah mengembangkan pendekatan empiris untuk memperkirakan perjalanan benda-benda langit, yang kemudian diadopsi oleh bangsa Yunani kuno. 

Image title

Sebuah relief kuno Babilonia (sumber: Ancient Origins)

Perhitungan Astronomi di Babilonia

Penelitian dari tablet kuno yang ditemukan menyimpulkan bahwa para astronom Babilonia ini menggunakan pendekatan murni dengan aritmetika untuk membuat perhitungan dan ramalan pergerakan langit. Akana tetapi dalam salah satu tablet yang diteliti, terdapat sebuah catatan mengenai bentuk trapezoid ketika membahas Jupiter.

Ossendrijver menemukan bahwa gambar trapezoid digunakan untuk memperkirakan penempatan Jupiter dalam zodiak. Perhitungannya mencakup periode 60 hari, dimulai ketika Jupiter pertama muncul di cakrawala sebelum fajar. 

"Dengan menghitung luas di dalam bentuk trapezoid, astronom Babilonia dapat menemukan posisi planet itu di langit. Hal ini dengan menggunakan hubungan antara kecepatan dan pemindahan seperti di dalam kelas pemula kalkulus." demikian dilansir dari The New Scientist. Hal ini merupakan satu-satunya metode geometris yang digunakan dalam astronomi Babilonia, sebuah metode yang sebelumnya diperkirakan baru tercipta pada abad ke 14 di Oxford, Cambridge. 

Sejarawan Alexander Jones dari NYU mengatakan kepada ScienceMag, bahwa dibanding dengan geometri rumit yang digunakan kemudian hari oleh bangsa Yunani kuno ratusan tahun kemudian, tulisan Babilonia ini mewakili konsept yang lebih abstrak dan mendalam  dari sebuah benda geometris dimana satu dimensi mewakili waktu. Konsep ini sebelumnya tidak ditemukan hingga abad ke 14 dalam teks mengenai benda langit di Eropa. Kehadirannya...merupakan sebuah bukti kehebatan revolusioner dari seorang astronom di Mesopotamia yang mempelopori astronomi matematis Babilonia.. 

Image title

Planet Jupiter (sumber: Ancient Origins)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar