Minggu, 25 Juni 2017

Memo dari Kedoya

Menakar Hukuman untuk Koruptor

Rabu, 10 Februari 2016 23:27

http://ecx.images-amazon.com http://ecx.images-amazon.com
Ayo berbagi!

Koruptor dieksekusi hukuman mati di depan publik, meski mereka menerima suap atau mengorupsi beberapa miliar saja? Di China, meski hukuman mati ada yang menentang, terbukti efektif dan menjadi momok buat mereka yang akan korupsi.

Potret orang jahat yang ditanamkan di benak kita sejak masih kanak-kanak, hampir semuanya identik dengan seram dan menakutkan. Sosok dengan rambut yang awut-awutan, cara bicara yang kasar dan tentu saja, wajah yang tak akan sedap jika dipandang.

Gambar-gambar semacam itulah yang banyak disampaikan oleh para orang tua kepada anak-anak dengan tujuan agar dimengerti, orang seperti apa yang perlu dijauhi. Tak heran jika sampai sekarang pun orang masih sering cemas, jika bertemu orang-orang seperti itu di angkot, di terminal, di pasar atau di jalan-jalan yang sepi.

Setali tiga uang dengan nasihat para orang tua, dongeng di televisi pun menggambarkan manusia jahat dengan model yang lebih kurang sama persis –supaya jalan ceritanya mudah dipahami dan diikuti– penjahat adalah orang-orang berbadan besar, kuat, jorok, tidak rapi dan jika perlu, buruk rupa.

Potret seperti ini yang membuat anak-anak atau bahkan kita sendiri, sukar percaya jika perempuan yang lembut dan manis tutur katanya, ternyata seorang penipu. Atau pendeta yang setiap minggu menyampaikan kabar baik, tapi ternyata seorang pembobol lemari besi yang ulung.

Herbert Emerson Wilson seorang pendeta. Ia memilih jalan hidupnya dengan melayani jemaat. Herbert memberikan kata-kata bijak kepada orang-orang, tentang jalan menuju surga. Sayangnya, profesi yang hingga kini pun masih cukup banyak peminatnya ini, tak membuat Herbert bahagia. Ia digaji kecil, hidupnya pun sengsara.

Di umurnya yang setengah baya, Herbert akhirnya memilih menyudahi kariernya sebagai pendeta. Petuah-petuah kebajikan yang sangat dihafalnya itu, tak bisa lagi meredam keinginannya. Ia memilih mengeruk rejeki dengan menjadi pembobol lemari besi.

Dengan karier barunya ini, Herbert berhasil mengumpulkan banyak uang. Lemari-lemari besi yang terkunci rapat, berhasil dibobolnya. Hingga ujung perjalanan kriminalnya, Herbert sukses membongkar sebanyak 65 lemari dan meraup dolar sebanyak 16 juta.

Wajah Herbert Emerson Wilson jauh dari seram, apalagi menakutkan. Malah bisa dibilang, parasnya menarik. Rambutnya pun selalu terlihat rapi. Begitu juga dengan orang-orang jahat hari ini. Mereka yang paling merusak keuangan negara, justru sering terlihat bersih. Edwin H. Sutherland, seorang sosiolog di tahun 1940, menyebutnya “kejahatan orang berdasi”.

Tentang kejahatannya sendiri, sudah ada sejak dulu, jauh sebelum Edwin menamainya dengan sebutan kejahatan orang berdasi. Para pelakunya orang-orang pilihan, orang-orang terbaik. Mereka orang-orang terhormat, yang mempunyai banyak kekayaan. Dalam banyak kasus, mereka mempunyai kekuasaan. Mereka juga orang-orang yang dikenal dan terpandang di masyarakat.

Seorang filsuf, negarawan dan penulis Inggris pada abad ke -16 bernama Francis Bacon, Ia dianugerahi gelar ksatria (Sir) pada tahun 1603, dan diangkat menjadi Baron Verulam pada tahun 1618, serta menjadi Viscount St. Alban pada tahun 1621.

Karena menerima “hadiah” dari tertuduh, pada saat menjabat sebagai hakim, Bacon dijebloskan ke dalam penjara dan harus membayar denda. Tak cuma itu, Bacon juga tak bisa lagi bekerja di kantor-kantor pemerintahan di mana pun di Inggris.

Dari Negeri Tirai Bambu, ada Liu Zhijun, ia adalah sosok yang bisa dibilang tak tersentuh oleh hukum di era Presiden Hu Jintao. Namun, sejak kecelakaan kereta di Wenzhou pada 2011 yang menewaskan 40 orang, borok Zhijun mulai terkuak.

Setelah melakukan pemeriksaan, Kejagung China berhasil menemukan beberapa tender di kementerian kereta api yang dipimpin Zhijun, dilakukan secara sembarangan. Perusahaan pemenang tender, sebelumnya sudah lebih dulu menyetor sejumlah uang pada Zhijun. Terhitung sejak menjabat, Liu Zhijun berhasil mengantongi 65 juta Yuan atau sekitar 200 miliar rupiah.

Pada sidang yang digelar Juli 2013 lalu, hakim akhirnya memvonis Zhijun dengan hukuman mati. Padahal rekor hukuman mati sebelumnya, cuma sekelas wakil gubernur, yakni Hu Changqing dari provinsi Jianxi pada 2000. Setahun berikutnya, kementerian kereta api di Tiongkok itu pun dibubarkan, karena cuma digunakan sebagai sarang para koruptor.

Kita semua bisa melihat kerusakan yang timbul karena korupsi ataupun akibat adanya main mata antara pejabat negara dan pengusaha. Bayangkan, yang bakal terjadi atas penipuan proyek rancangan gedung sekolah atau jalan layang misalnya? Pasti sesuatu yang lebih berbahaya dan mengerikan dari sekadar ancaman maling coklat atau begal motor.

Kejahatan para bandit berdasi atau pejabat yang minta disuap dengan berbagai cara, termasuk menjual pengaruh mereka, akhirnya hanya akan menggerogoti keyakinan moral masyarakat. Para penjahat biasa pun akan punya alasan bagus atas kejahatan yang mereka lakukan. Apa bedanya jika para pembuat peraturan, pengusaha, hakim boleh melakukan tindakan melawan hukum, sementara mereka tidak? Apalagi rakyat kecil yang miskin dan selalu kekurangan?

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-WiS

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar