Senin, 17 Desember 2018 | 01:52 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

BKKBN Sulteng: Pernikahan dini penyebab tingginya AKIA

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Muhammad Iqbal Fauzan    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Foto : Istimewa
Ilustrasi. Foto : Istimewa
<p>Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan, tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak (AKIA) di Sulteng disebabkan besarnya angka pernikahan dini di daerah tersebut.</p><p>"Pernikahan dini di Sulteng tertinggi nomor enam se-Indonesia," ungkap Kepala BKKBN Sulteng, Kushindarwito di Palu, Kamis (11/2).</p><p>Kata dia, dalam menurunkan AKIA, pihaknya terus berupaya dengan melaksanakan promosi pendewasaan usia perkawinan. Pernikahan yang terlalu dini juga disebabkan oleh faktor ekonomi dalam keluarga.</p><p>Lebih lajut, pihaknya pernah mewawancarai sejumlah warga di daerah terkait orang tua yang terlalu cepat menikahkan remaja putri mereka.</p><p>"Sebagian dari mereka menjawab, kalau anak-anak cepat dinikahkan, paling tidak bisa membatu ekonomi keluarga. Karena tanggung jawab orang tua ke anak sudah lepas dan berharap bisa mejadi tanggung jawab suami mereka," katanya.</p><p>Walaupun, kata dia, usia pernikahan dini sangat menyalahi undang-undang yang berlaku. Seharusnya pernikahan bagi perempuan dapat dilaksanakan jika kondisi fisik dan psikis mereka sudah siap.</p><p>"Kondisi fisik berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan itu bisa dilakukan saat umur perempuan minimal 21 tahun," ujarnya.</p><p>Sehingga, kehamilan yang tidak diinginkan itu berdampak dalam pikiran, yang paling parah kalau sampai aborsi. Kalau seandainya bayi tersebut lahir besar kemungkinan mengalami gizi buruk. Karena asupan gizi tidak terjaga dan pertumbuhan otak janin juga tidak maksimal.</p><p>"Pertanyaannya kenapa itu terjadi, karena kehamilan yang tidak direncanakan, beda kalau sesuatu itu direncanakan dan dipersiapkan secara lahir dan batin, karena komunikasi antara ibu dan bayi sudah ada sejak dalam kandungan," jelas Kus.</p><p>Tingginya AKIA di Sulteng ada di ranah Kesehatan, namun demikian institusi lain tidak boleh menutup mata, karena itu merupakan tanggung jawab semua pihak. Sehingga pihaknya terus berupaya agar angka kematian itu dapat ditekan atau diminimalisir. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Liga Indonesia | 16 Desember 2018 - 21:50 WIB

Persewar Papua tahan imbang Persik Kediri 1-1

Afrika | 16 Desember 2018 - 21:39 WIB

Dubes: Pasar Afrika capai Rp7.900 triliun

Aktual Dalam Negeri | 16 Desember 2018 - 21:25 WIB

Presiden minta aparat kemanan serius tangani pembalakan liar

Aktual Pemilu | 16 Desember 2018 - 21:12 WIB

KPU Bantul peroleh 70 kotak suara rusak

Kecelakaan | 16 Desember 2018 - 20:50 WIB

Anggota Polres Mojokerto tewas akibat kecelakaan

Otomotif | 16 Desember 2018 - 20:37 WIB

Perhatikan hal ini jika berkendara saat hujan

<p>Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan, tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak (AKIA) di Sulteng disebabkan besarnya angka pernikahan dini di daerah tersebut.</p><p>"Pernikahan dini di Sulteng tertinggi nomor enam se-Indonesia," ungkap Kepala BKKBN Sulteng, Kushindarwito di Palu, Kamis (11/2).</p><p>Kata dia, dalam menurunkan AKIA, pihaknya terus berupaya dengan melaksanakan promosi pendewasaan usia perkawinan. Pernikahan yang terlalu dini juga disebabkan oleh faktor ekonomi dalam keluarga.</p><p>Lebih lajut, pihaknya pernah mewawancarai sejumlah warga di daerah terkait orang tua yang terlalu cepat menikahkan remaja putri mereka.</p><p>"Sebagian dari mereka menjawab, kalau anak-anak cepat dinikahkan, paling tidak bisa membatu ekonomi keluarga. Karena tanggung jawab orang tua ke anak sudah lepas dan berharap bisa mejadi tanggung jawab suami mereka," katanya.</p><p>Walaupun, kata dia, usia pernikahan dini sangat menyalahi undang-undang yang berlaku. Seharusnya pernikahan bagi perempuan dapat dilaksanakan jika kondisi fisik dan psikis mereka sudah siap.</p><p>"Kondisi fisik berhubungan erat dengan kesehatan reproduksi dan itu bisa dilakukan saat umur perempuan minimal 21 tahun," ujarnya.</p><p>Sehingga, kehamilan yang tidak diinginkan itu berdampak dalam pikiran, yang paling parah kalau sampai aborsi. Kalau seandainya bayi tersebut lahir besar kemungkinan mengalami gizi buruk. Karena asupan gizi tidak terjaga dan pertumbuhan otak janin juga tidak maksimal.</p><p>"Pertanyaannya kenapa itu terjadi, karena kehamilan yang tidak direncanakan, beda kalau sesuatu itu direncanakan dan dipersiapkan secara lahir dan batin, karena komunikasi antara ibu dan bayi sudah ada sejak dalam kandungan," jelas Kus.</p><p>Tingginya AKIA di Sulteng ada di ranah Kesehatan, namun demikian institusi lain tidak boleh menutup mata, karena itu merupakan tanggung jawab semua pihak. Sehingga pihaknya terus berupaya agar angka kematian itu dapat ditekan atau diminimalisir. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Minggu, 16 Desember 2018 - 16:13 WIB

Ini cara cegah kejahatan `SIM swap fraud` ala Bareskrim

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:27 WIB
Hari Menanam Nasional 2018

PKSM dan Pramuka bagikan 3.500 batang pohon kepada pengguna jalan

Sabtu, 15 Desember 2018 - 21:19 WIB

Disdukcapil Kotabaru memusnahkan ratusan KTP-el rusak

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com