Minggu, 21 Oktober 2018 | 22:49 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Penelitian menunjukkan bahwa 'Hobbit' dari Flores bukan Homo sapiens

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Patung manusia Flores, Homo floresiensis (sumber: Ancient Origins)
Patung manusia Flores, Homo floresiensis (sumber: Ancient Origins)
<p>Misteri tentang Homo floresiensis merupakan salah satu hal paling menarik untuk ilmu pengetahuan sejak tahun 2003 ketika sekelompok peneliti Indonesia dan Australia menemukan tulang belulang berusia 18 ribu tahun. Kini, para ilmuwan meyakini telah menemukan kebenaran tentang para 'Hobbit' ini. </p><p>Tulang Homo floresiensis ditemukan ketika peneliti melakukan penggalian di sebuah gua di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tujuan awal penelitian tersebut adalah mencari bukti migrasi manusia purba, Homo sapiens dari Asia ke Australia. Sisa-sisa fosil yang ditemukan adalah seorang wanita yang tengkoraknya hanya sepertiga besar ukuran manusia. Oleh karena itu para ilmuwan berusaha mencari jawaban apakah fosil tengkorak tersebut merupakan berasal dari manusia atau sebuah spesies yang lain.&nbsp;</p><p>Dilansir dari Discovery News, nampaknya misteri tersebut sekarang sudah dipecahkan. Ilmuwan dari Prancis yang bekerja untuk Natural History Museum dan <i>Paris-Descartes University</i> telah melakukan penelitian lanjut atas peninggalan manusia purba yang dikenal dengan julukan 'Hobbit' (setelah karakter dalam buku JRR Tolkien). Antoine Balzeau dan Philippe Charlier memperoleh gambar beresolusi tinggi yang dibuat di Jepang untuk menghitung ketebalan lapisan tulang pada tengkorak Hobbit tersebut. Mereka mempelajari foto dari peninggalan yang ditemukan di Liang Bua 1 yang berusia sekitar 15 ribu tahun dan adalah spesimen paling lengkap yang ditemukan. Hasil penelitian mereka dimuat di <i>Journal of Human Evolution</i>.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Homo-floresiensis_0.jpg" width="464"></p><p>Tengkorak Homo floresiensis (sumber: Ancient Origins)</p><p>"Sejauh ini kita mendasarkan kesimpulan dari gambar-gambar yang tidak banyak beredar. Banyak sekali informasi yang terdapat pada lapisan tulang di tengkorak. Tidak terdapat karakteristik yang khas dari spesies manusia. Untuk saat ini kita belum dapat mengatakan ke satu arah atau yang lainnya," demikian diungkap Antoine Balzeau kepada AFP.&nbsp;</p><p>Para peneliti bernanggapan bahwa hasil dari studi mereka membuktikan bahwa tidak ada bukti bahwa para Hobbit ini merupakan manusia kecil dengan kelainan genetis. Sehingga mereka telah menyelesaikan satu persoalan, tetapi membuka persoalan baru: apakah Homo floresiensis ini merupakan bentuk mini dari Homo erectus.</p><p>Sebelumya sebuah proyek yang dipimpin oleh Yousuke Kaifu dari <i>National Museum of Nature and Science</i> di Tokyo mengklaim bahwa manusia Flores ini merupakan keturunan Homo erectus yang telah tiba di Pulau Jawa. Riset menunjukkan bahwa mereka hidup di saat ketika memungkinkan untuk berjalan sepanjang wilayah Indonesia ketika permukaan air belum memisahkan menjadi pulau-pulau. Sisa-sisa yang ditemukan berukuran lebih kecil karena mereka berevolusi dalam waktu lama karena keterbataasan makanan di pulau-pulau yang terbentuk. Para arkeolog juga melihat bahwa manusia Flores ini merupakan pemburu yang handal, pembuat alat-alat dan pejagal.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Cave.jpg?itok=OTV3ZJN8" width="555"></p><p>Gua dimana Homo floresiensi ditemukan (sumber: Ancient Origins)</p><p>Peninggalan manusia Flores ini berusia 95 ribu hingga 15 ribu tahun lalu. Menurut informasi dari Smithsonian, mereka memiliki ketinggian sekitar 107 cm dan berbobot 25 kilogram.&nbsp;</p><p>Menurut Dr. Matther Toccheri, ketinggian dan ciri-ciri fisik mereka mengindikasikan timbulnya Dwarfisme, sebuah proses evolusi yang terjadi karena hidup di tempat dengan sumber makanan terbatas dan ketiadaan pemangsa. Selain manusia Flores, peneliti juga menemukan sisa-sisa gajah pygmy, yang mendukung teori Dwarfisme juga.&nbsp;</p><p>Kontroversi terbesar terkait ukuran otak mereka. Meskipun ukuran otaknya kecil, tetapi mereka tidap dapat dipandang lebih primitif dari Homo erectus. Menurut Rick Potts, direktur program <i>Human Origins </i>dari<i> Smithsonian</i>, "Manusia Flores ini adalah salah satu unsur dari proses evolusi yang tidak kita ketahui. Tidak ada alasan 800 ribu tahun proses evolusi dapat menghasilkan otak yang kecil namun sudah maju."&nbsp;</p><p>Satu fakta menarik lainnya, adalah ketika peneliti dari Smithsonian berusaha menganalisa pergelangan tangan para Hobbit ini, mereka menemukan struktur tulang yang serupa dengan kera besar dan hominid, namun tidak ditemukan pada manusia Neanderthan maupun manusia modern.&nbsp;</p><p>Meski Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004 tetapi mereka masih merupakan misteri.&nbsp; </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Ekonomi | 21 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Jelang sidang tahunan ICCIA, ISABC dan SAIBC gelar pertemuan

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 21:35 WIB

Menag: Hari Santri Nasional bentuk pengakuan negara

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 21:29 WIB

Soekarwo: Tunggu 27 Oktober kepastian Suramadu gratis

Bencana Alam | 21 Oktober 2018 - 21:12 WIB

Desa Salua Kabupaten Sigi diterjang banjir

Arestasi | 21 Oktober 2018 - 20:35 WIB

10 pelajar pelaku tawuran tewaskan Rizky dibekuk

<p>Misteri tentang Homo floresiensis merupakan salah satu hal paling menarik untuk ilmu pengetahuan sejak tahun 2003 ketika sekelompok peneliti Indonesia dan Australia menemukan tulang belulang berusia 18 ribu tahun. Kini, para ilmuwan meyakini telah menemukan kebenaran tentang para 'Hobbit' ini. </p><p>Tulang Homo floresiensis ditemukan ketika peneliti melakukan penggalian di sebuah gua di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tujuan awal penelitian tersebut adalah mencari bukti migrasi manusia purba, Homo sapiens dari Asia ke Australia. Sisa-sisa fosil yang ditemukan adalah seorang wanita yang tengkoraknya hanya sepertiga besar ukuran manusia. Oleh karena itu para ilmuwan berusaha mencari jawaban apakah fosil tengkorak tersebut merupakan berasal dari manusia atau sebuah spesies yang lain.&nbsp;</p><p>Dilansir dari Discovery News, nampaknya misteri tersebut sekarang sudah dipecahkan. Ilmuwan dari Prancis yang bekerja untuk Natural History Museum dan <i>Paris-Descartes University</i> telah melakukan penelitian lanjut atas peninggalan manusia purba yang dikenal dengan julukan 'Hobbit' (setelah karakter dalam buku JRR Tolkien). Antoine Balzeau dan Philippe Charlier memperoleh gambar beresolusi tinggi yang dibuat di Jepang untuk menghitung ketebalan lapisan tulang pada tengkorak Hobbit tersebut. Mereka mempelajari foto dari peninggalan yang ditemukan di Liang Bua 1 yang berusia sekitar 15 ribu tahun dan adalah spesimen paling lengkap yang ditemukan. Hasil penelitian mereka dimuat di <i>Journal of Human Evolution</i>.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Homo-floresiensis_0.jpg" width="464"></p><p>Tengkorak Homo floresiensis (sumber: Ancient Origins)</p><p>"Sejauh ini kita mendasarkan kesimpulan dari gambar-gambar yang tidak banyak beredar. Banyak sekali informasi yang terdapat pada lapisan tulang di tengkorak. Tidak terdapat karakteristik yang khas dari spesies manusia. Untuk saat ini kita belum dapat mengatakan ke satu arah atau yang lainnya," demikian diungkap Antoine Balzeau kepada AFP.&nbsp;</p><p>Para peneliti bernanggapan bahwa hasil dari studi mereka membuktikan bahwa tidak ada bukti bahwa para Hobbit ini merupakan manusia kecil dengan kelainan genetis. Sehingga mereka telah menyelesaikan satu persoalan, tetapi membuka persoalan baru: apakah Homo floresiensis ini merupakan bentuk mini dari Homo erectus.</p><p>Sebelumya sebuah proyek yang dipimpin oleh Yousuke Kaifu dari <i>National Museum of Nature and Science</i> di Tokyo mengklaim bahwa manusia Flores ini merupakan keturunan Homo erectus yang telah tiba di Pulau Jawa. Riset menunjukkan bahwa mereka hidup di saat ketika memungkinkan untuk berjalan sepanjang wilayah Indonesia ketika permukaan air belum memisahkan menjadi pulau-pulau. Sisa-sisa yang ditemukan berukuran lebih kecil karena mereka berevolusi dalam waktu lama karena keterbataasan makanan di pulau-pulau yang terbentuk. Para arkeolog juga melihat bahwa manusia Flores ini merupakan pemburu yang handal, pembuat alat-alat dan pejagal.&nbsp;</p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Cave.jpg?itok=OTV3ZJN8" width="555"></p><p>Gua dimana Homo floresiensi ditemukan (sumber: Ancient Origins)</p><p>Peninggalan manusia Flores ini berusia 95 ribu hingga 15 ribu tahun lalu. Menurut informasi dari Smithsonian, mereka memiliki ketinggian sekitar 107 cm dan berbobot 25 kilogram.&nbsp;</p><p>Menurut Dr. Matther Toccheri, ketinggian dan ciri-ciri fisik mereka mengindikasikan timbulnya Dwarfisme, sebuah proses evolusi yang terjadi karena hidup di tempat dengan sumber makanan terbatas dan ketiadaan pemangsa. Selain manusia Flores, peneliti juga menemukan sisa-sisa gajah pygmy, yang mendukung teori Dwarfisme juga.&nbsp;</p><p>Kontroversi terbesar terkait ukuran otak mereka. Meskipun ukuran otaknya kecil, tetapi mereka tidap dapat dipandang lebih primitif dari Homo erectus. Menurut Rick Potts, direktur program <i>Human Origins </i>dari<i> Smithsonian</i>, "Manusia Flores ini adalah salah satu unsur dari proses evolusi yang tidak kita ketahui. Tidak ada alasan 800 ribu tahun proses evolusi dapat menghasilkan otak yang kecil namun sudah maju."&nbsp;</p><p>Satu fakta menarik lainnya, adalah ketika peneliti dari Smithsonian berusaha menganalisa pergelangan tangan para Hobbit ini, mereka menemukan struktur tulang yang serupa dengan kera besar dan hominid, namun tidak ditemukan pada manusia Neanderthan maupun manusia modern.&nbsp;</p><p>Meski Homo floresiensis ditemukan pada tahun 2004 tetapi mereka masih merupakan misteri.&nbsp; </p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com