Minggu, 24 September 2017

Penyakit Menular

Penyakit manusia modern berperan memusnahkan manusia Neanderthal

Jumat, 15 April 2016 12:17

Ilustrasi Manusia Neanderthal (sumber: Ancient Origins) Ilustrasi Manusia Neanderthal (sumber: Ancient Origins)
Ayo berbagi!

Bukti genetik terbaru menunjukkan bahwa berbagai penyakit menular berusian puluhan ribu tahun lebih tua dari yang diduga sebelumnya, dan dapat berpindah dari satu spesies ke lainnya. Peneliti menyatakan bahwa manusia modern yang bermigrasi dari Afrika mungkin membawa bermacam penyakit tropis yang berperan dalam mempercepat musnahnya manusia Neanderthal.

Penelitian terbaru memberikan indikasi bahwa manusia Neanderthal yang mendiami wilayah Eropa kemungkinan menderita penyakit yang ditularkan oleh manusia modern, atau Homo sapiens yang berasal dari benua Afrika. Karena kedekatan sebagai sesama spesies manusia, maka lebih mudah bagi patogen untuk berpindah dari satu ke lainnya, serta hal ini turut berperan dalam musnahnya populasi manusia Neanderthal. 

Pakar dari Universitas Oxford dan Cambridge telah mempelajari ulang bukti dari genom dan DNA tulang-belulang kuno, dan menyimpulkan bahwa bahwa beberapa penyakit menular usianya jauh lebih tua dari yang sebelumnya diperkirakan. 

Ada bukti bahwa nenek moyang manusia modern berkawin campur dengan spesies manusia yang dikenal sebagai Homo neanderthalensis itu, dan bertukar gen yang terkait dengan kerentanan pada penyakit. Ada juga bukti bahwa virus berpindah ke manusia modern dari hominin lain ketika masih mendiami benua Afrika saja. Periset menyimpulkan bahwa manusia pun dapat menularkan penyakit-penyakit terkait virus kepada Neanderthal, pada waktu perkawinan silang terjadi. 

Image title

Ilustrasi keluarga Neanderthal (sumber: Ancient Origins)

Dr. Charlotte Houldcroft dari Diviosn of Biological Anthropology, Universitas Cambridge menyatakan bahwa banyak penyakit yang berpindah dari manusia kepada Neanderthal seperti cacing pita, TBC, radang lambung dan beberapa jenis penyakit herpes. Penyakit-penyakit tersebut kemungkinan melemahkan fisik seseorang, sehingga secara kolektif kaum Neanderthal kesulitan melakukan kegiatan perburuan untuk mencari makanan, sehingga berperan dalam punahnya keberadaan mereka. 

"Manusia modern yang berpindah dari Afrika kemungkinan menjadi sumber berbagai penyakit tropis yang menular," ungkap Houldcroft. "Bagi manusia Neanderthal yang mendiami kawasan Eurasia, yang sudah beradaptasi dengan penyakit menular dari iklim yang dikenalnya, kehadiran patogen baru yang dibawa dari Afrika dapat menyebabkan bencana luar biasa bagi mereka." 

"Akan tetapi, berbeda dengan kehadiran penjelajah Columbus ketika tiba di benua Amerika dan memusnahkan banyak populasi pribumi dengan penyakit bawaannya; dalam hal ini lebih mungkin berbagai kelompok kecil manusia Neanderthal dilemahkan oleh penyakit menular sehingga membalikkan keberadaan mereka untuk bertahan hidup," ujar Dr. Houldcroft. 

Teknik baru yang kini dikembangkan memungkinkan para ilmuwan untuk melihat asal muasal penyakit modern dengan menyingkap kode genetiknya; selain itu dengan mengambil sampel DNA dari tulang-belulang dan fosil nenek moyang kita dapat mendeteksi tanda-tanda penyakit. 

Bersama dengan Dr. Simon Underdown, dalam sebuah makalah yang dimuat di American Journal of Physical Anthropology, Dr. Houldcroft menulis bahwa data genetis menunjukkan bahwa sejumlah penyakit menular telah turut berevolusi dengan manusia dan nenek moyang kita selama puluhan ribu hingga jutaan tahun lamannya." 

Pandangan umum ilmuwan selama ini adalah penyakit menular meledak kehadirannya dalam populasi manusia seiring dengan terjadinya revolusi pertanian  sekitar 8000 tahun lalu, ketika manusia dan binatang yang dipeliharanya hidup berdampingan, sehingga menciptakan kondisi untuk berpindahnya penyakit dari satu spesies ke lainnya. Riset ini menunjukkan bahwa proses berpindahnnya penyakit telah berlangsung untuk waktu yang jauh lebih lama lagi. 

Bahkan beberapa penyakit yang sebelumnya diduga ditularkan dari hewan ke manusia, ternyata ditemukan fakta sebaliknya, yakni berasal dari manusia dan berpindah ke hewan. Contohnya adalah penyakit tuberkulosis (TBC). 

Meskipun belum ada bukti kuat terjadinya perpindahan penyakit menular dari manusia modern kepada manusia Neanderthal, akan tetapi mengingat tumpang tindihnya wilayah manusia modern dan Neanderthal, serta waktu yang hidup bersamaan, maka kemungkinan ini sangat besar terjadi juga. 

Neanderthal telah beradaptasi dengan iklim baru di benua Eropa. Ada bukti bahwa manusia modern diuntungkan dengan bercampurnya kedua spesies ini dengan dilindunginya manusia dari penyakit seperti keracunan darah karena infeksi, serta ensefalitis yang ditularkan dari kutu yang mendiami hutan-hutan Siberia. 

Sebaliknya, manusia modern telah beradaptasi dengan bermacam penyakit dari benua asalnya di Afrika, yang turut dibawanya ketika berpindah ke Eropa dan Asia. 

Periset menggambarkan Helicobacter pilori, sebuah bakteri yang menyebabkan radang lambung sebagai satu penyakit utama yang kemungkinan ditularkan oleh manusia modern kepada sepupu Neanderthalnya. Diperkirakan manusia pertama menderita penyakit ini di Afrika 88 hingga 116 ribu tahun lalu; kemudian penyakit yang sama tiba di Eropa sekitar 52 ribu tahun lalu. Bukti terbaru menunjukkan bahwa manusia Neanderthal punah sekitar 40 ribu tahun yang lampau. 

Satu lagi penyakit adalah herpes simplex 2, virus yang menyebabkan penyakit kelamin herpes. Ada bukti bahwa penyakit menular di Afrika  1.6 juta tahun lampau dari sebuah spesies manusia yang hingga kini belum diketahui, yang juga menderitanya melalui interaksi dengan simpanse. 

"Spesies manusia yang belum dikenal in, yang menjembatani penyebaran virus dari simpanse ke manusia modern adalah bukti bahwa penyakit dapat berpindah dari sesama spesies hominin.. Penyakit herpese ditularkan melalui hubungan seks dan air liur. Karena kita tahu bahwa manusia modern kawin dengan Neanderthal, dan kita semua memiliki 2-5% DNA Neanderthal karena perkawinan campur ini, maka sepertinya masuk akal jika diasumsikan bahwa selain cairan tubuh, penyakit juga berpindah dari manusia ke Neanderthal," ungkap Houldcroft. 

Teori terbaru akan sebab punahnya Neanderthal bervariasi dari perubahan iklim hingga persekutuan antara manusia dan serigala sehingga mendominasi rantai makanan. Dr.Houldcroft menganggap bahwa sangat mungkin kombinasi banyak faktor menjadi penyebabnya, termasuk penyebaran penyakit menular sebagai salah satu faktor tersebut. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar