Sabtu, 21 Januari 2017

Segelintir pria masa prasejarah mendominasi genetika dunia masa kini

Jumat, 29 April 2016 12:13

Ilustrasi pria di era prasejarah (sumber: Ancient Origins) Ilustrasi pria di era prasejarah (sumber: Ancient Origins)
Ayo berbagi!

Penelitian terbaru silsilah genetis manusia dari sisi pria mengungkap bahwa terjadi masa-masa di era prasejarah di mana hanya segelintir pria yang menentukan reproduksi umat manusia. Contohnya, seorang pria yang hidup 190 ribu tahun lampau merupakan nenek moyang  1200 pria yang hidup kini dari 26 kelompok di sekeliling dunia yang gennya dipelajari untuk penelitian ini.

Pertanyaanya: siapa yang tahu seberapa hebat gen pria tersebut? Seberapa bedakah dunia andai seorang pria lain yang menurunkan manusia-manusia yang hidup kini?

Dapat dibayangkan juga, kawin dengan berapa wanita kah pria tersebut sepanjang hidupnya? Dia hidup di masa awal terbentuknya spesies manusia modern, Homo sapiens, jadi bisa saja karena secara matematis dia menurunkan kita semua, ketimbang memiliki banyak pasangan semasa hidupnya. 

Namun ribuan tahun kemudian, penelitian genetika menunjukkan bahwa memang hanya sedikit saja pria yang berhasil menurunkan sebagian besar umat manusia.

Dalam sebuah rilis yang dikeluarkan oleh Wellcome Trust Sanger Institute mengenai hal ini menyebutkan: 

"Penelitian ....mempelajari urutan perbedaan antara kromosom Y dari 1200 pria yang berasal dari 26 populasi di seluruh dunia menggunakan data dari proyek 1000 Genome. Menganalisa kromosom Y dari manusia modern ini memberi petunjuk tentang kehidupan nenek moyang kita. Karena kromosom Y diturunkan hanya dari ayah kepada anak prianya maka sangat terkait dengan penurunan karakteristik yang murni terkait pria. Kelompok peneliti menggunakan informasi ini untuk membangun pohon genetika dari 1200 kromosom Y ini. Ditemukan bahwa mereka berkerabat satu sama lain. Mereka semua berasal dari satu pria yang hidup kira-kira 190 ribu tahun lampau." 

Dalam sebuah penelitian lain ditemukan seorang pria yang hidup di benua Eropa 4000 tahun lampau dan adalah nenek moyang dari separuh pria di Eropa Barat. Dr. Tyler-Smith dari lembaga yang meneliti menyatakan kepada The Telegraph, "Di Eropa terjadi ledakan populasi yang hebat dalam hanya beberapa generasi. Genetika tidak dapat menunjukkan kenapa hal itu terjadi. Tetapi kita tahu bahwa segelintir pria yang berasal dari kalangan elite mengontrol proses perkawinan dan mendominasi seluruh populasi. Separuh dari populasi Eropa Barat berasal hanya dari satu pria saja." 

Image title

Peta haplogroup Y-DNA sebelum masa kolonial modern (sumber: Ancient Origins)

Menurut Dr. Tyler-Smith, "Penjelasan yang terbaik adalah kemajuan teknologi dikuasai oleh hanya sekelompok kecil pria. Penggunaan roda dalam transportasi, penggunaan logam dan peperangan yang terorganisir semuanya adalah contoh-contoh penjelasan yang perlu dipelajari lebih lanjut." 

Penelitian ini menemukan sebuah ledakan populasi pria sekitar 55 hingga 50 ribu tahun lalu di Asia dan Eropa  dan sekitar 15 ribu tahun lalu di benua Amerika. Perluasan populasi pria yang cepat kemudian terjadi lagi di wilayah Afrika, Eropa Barat, Asia Selatan serta Asia Timur sekitar  8 hingga 4 ribu tahun lalu. 

"Kelompok peneliti meyakini bahwa ledakan penduduk terjadi karena hadirnya manusia pertama di benua-benua yang masih kosong tersebut, dimana sumber daya alam masih melimpah," ungkapnya. 

Hanya setahun yang lalu para ilmuwan melaporkan bahwa sebagian besar pria di Eropa diturunkan dari segelintir pria di Zaman Perunggu. Peneliti berspekulasi bahwa perubahan budaya dan teknologi merupakan katalis dalam ledakan penduduk yang terjadi. 

Image title

Ilustrasi pria di Zaman Perunggu (sumber: Ancient Origins)

"Ledakan penduduk terjadi di Zaman Perunggu, dimana terjadi perubahan dalam cara pemakaman, menyebarnya penggunaan kuda sebagai alat transportasi, dan perkembangan dalam persenjataan.Pria yang dominan yang terkait dengan semua perubahan budaya manusia ini mungkin bertanggung jawab atas pola kromosom Y yang kita temui kini," ungkap Profesor Mark Jobling dari Universitas Leicester. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar