Rabu, 23 Agustus 2017

Presiden resmikan pembangunan pembangkit listrik Sumatera

Rabu, 01 Juni 2016 17:55

Presiden Joko Widodo bersama Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basyir. Foto : Antara Presiden Joko Widodo bersama Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basyir. Foto : Antara
Ayo berbagi!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan dimulainya pembangunan pembangkit listrik bergerak (Mobile Power Plant/MPP) berkapasitas 350 Mega Watt (MW) yang akan memperkuat sistem kelistrikan Regional Sumatera.

"Dengan mengucap Bismillahirohmannirrahim, pembangunan enam pembangkit listrik MPP semuanya dimulai," kata Presiden Jokowi di Proyek MPP Air Anyir Bangka, Rabu (1/6).

Keenam pembangkit MPP tersebut terdiri atas MPP Bangka berkapasitas 2x25 MW, MPP Belitung (1x25 MW), MPP Paya Pasir Medan (3x25 MW), MPP Nias (1x25 MW), MPP Aur Duri Riau (3x 25 MW), MPP Tarahan Lampung (4x25 MW).

Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menyatakan bahwa sesuai dengan Nawacita yang dituangkan dalam program listrik nasional 35.000 MW, pemilihan pembangkit jenis MPP untuk percepatan rasio elektrifikasi di Regional Sumatera dirasa tepat, mengingat waktu pembangunan pembangkit MPP yang nisbi singkat.

Lebih dari itu, ia mengemukakan, MPP juga menggunakan gas sebagai bahan bakar sehingga lebih ramah lingkungan. Keenam pembangkit ini ditargetkan akan beroperasi akhir tahun 2016.

Sistem kelistrikan Sumatera pada 2016 terdiri dari sistem Sumatera Bagian Utara yang melayani Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara; sub sistem Sumatera yang melayani Provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung; sistem kelistrikan Bangka Belitung dan sistem kelistrikan Kepulauan Riau, serta sistemisolated, seperti Nias, Mentawai, dan pulau-pulau kecil lainnya.

Sistem Sumatera Bagian Utara memiliki beban puncak saat ini senilai 2.090 MW dan daya mampu sebesar 2.327 MW dengan cadangan daya 237 MW atau sekitar 11 persen. Sementara sistem Sumatera Bagian Selatan dan Tengah, beban puncaknya adalah 2.041 MW dan daya mampu pembangkit 2.827 MW dengan cadangan daya 426 MW atau sekitar 15 persen.

Pada 2017 diharapkan sistem Sumatera sudah terhubung dengan jaringan 275 kilo-Volt (kV) dan dengan mulai beroperasinya pembangkit-pembangkit baru diprediksi cadangan listrik bisa mencapai 32 persen.

Selanjutnya, ia mengemukakan, diharapkan dengan penambahan 11.000 MW pembangkit baru program 35.000 MW serta jaringan transmisi 500 kV yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Sumatera Utara sampai Aceh sepanjang 1.300 kilometer (km) dengan target selesai pada 2019.

Ia menyatakan, sistem Sumatera kelistrikannya semakin kuat, dan dapat melayani semua pelanggan, termasuk pelanggan besar dan industri, serta menaikkan rasio elektrifikasi 86 persen pada 2016 menjadi 98 persen pada 2019.

"PLN berkonsentrasi penuh untuk menjalankan amanah pemerintahan Jokowi-JK melalui Program 35.000 MW. Target kami untuk Regional Sumatera pada 2016 ini akan berdaya pasok hingga 6.036 MW," tuturnya.

Untuk itu, menurut dia, diharapkan adanya cadangan daya untuk Sumatera, yakni sebesar 1.615 MW. Sementara untuk Lampung, target kami untuk daya pasok sebesar 1.068 MW, dan diharapkan adanya cadangan daya hingga 172 MW.

Enam pembangkit MPP berkapasitas 350 MW itu akan disebar ke seluruh Regional Sumatera. Untuk Wilayah Bangka dan Belitung, bertambahnya tiga MPP berkapasitas total 75 MW akan memperkuat sistem kelistrikan Bangka Belitung.

Adapun daya mampu pada sistem kelistrikan Bangka saat ini adalah 142 MW, sedangkan beban puncak rata-ratanya sebesar 130 MW. Sementara itu, daya mampu Belitung saat ini adalah 42 MW dengan beban puncak rata-rata 36 MW.

Bertambahnya kapasitas pembangkit ini akan membuat pasokan listrik di Bangka dan Belitung semakin andal, di mana jika ada pemeliharaan terhadap salah satu pembangkit, pasokan listrik masih mencukupi. (Ant). 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-ank

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar