Senin, 24 April 2017

Memo dari Kedoya

Melawan Vaksin Palsu

Selasa, 19 Juli 2016 21:10

https://d1qmz7o33xzwv9.cloudfront.net/uploads/Awas-Vaksin-Palsu-Begini-Cara-Membedakannya.jpg https://d1qmz7o33xzwv9.cloudfront.net/uploads/Awas-Vaksin-Palsu-Begini-Cara-Membedakannya.jpg
Ayo berbagi!

Keinginan masyarakat yang tinggi akan vaksin impor, menjadi salah satu penyebab munculnya vaksin palsu. Kesungguhan Pemerintah dengan semua fasilitas dan wewenangnya menjadi solusi yang dinanti.

Idul Fitri sudah berlalu beberapa waktu, namun di kesempatan baik ini elshinta dotcom, ingin minta maaf kepada semua pembaca elshinta dotcom, atas semua kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja.

Banyak sekali kejadian penting baru-baru ini dan beberapa di antaranya bahkan belum terselesaikan. Salah satunya yang masih berlangsung, adalah kasus vaksin palsu. Padahal sebelumnya, kasus ini terlihat seperti masalah remeh.

Persoalan vaksin palsu, lambat laun menjadi persoalan besar. Pelakunya tidak hanya segelintir oknum dan di beberapa rumah sakit, namun hingga sejauh ini sudah mencapai belasan jumlahnya. Demikian juga dengan pengaduan dari masyarakat, karena banyaknya pengaduan, posko pengaduan pun didirikan meski efektifitasnya lagi-lagi dipertanyakan masyarakat.

Tak kurang, Menteri Kesehatan Prof. Dr.dr. Nila Djuwita Anfasa Moeloek SpM (K) hingga instansi terkait seperti BPOM terpaksa turun tangan. Pemerintah dimintai bertanggung jawab tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh Ikatan Dokter Indonesia.  Mereka menilai tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan adalah korban dari oknum pemalsu vaksin.

IDI menuntut perbaikan mulai dari pendisitribusian vaksin sampai dengan aturan Menteri. Dokter mengaku tidak bisa membedakan vaksin palsu atau bukan, karena mereka adalah user, atau pemakai alat kesehatan atau obat. Keluhan itu masih ditambah dengan kinerja Dirjen Farmasi dan BPOM yang juga dinilai masih tumpang tindih.

Di kejadian lain, hari pertama ajaran baru untuk anak-anak sekolah, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menilai perlu mengadakan kampanye di Hari Pertama Sekolah. Anies Baswedan mengimbau para orang tua mengantarkan anaknya di hari pertama.

Melalui Surat Edaran bernomor 4 tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah, Anies mengingatkan pentingnya interaksi antara orang tua dengan guru di sekolah. Perlunya terjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak selama setahun ke depan.

Masih ingat kasus Samhudi dari Sidoharjo Jawa Timur, Februari lalu? Guru olah raga di SMP Basuki Rahmat Balung Bendo Sidoarjo ini dilaporkan ke polisi bahkan diadili di Pengadilan Negeri Sidoharjo karena mencubit anak muridnya.  

Mungkin gebrakan kedua Menteri ini hanya sebuah kebetulan, tetapi mungkin juga tidak, karena anak-anak yang terlahir sehat dengan vaksinasi yang lengkap pun, tidak menjamin akan tumbuh menjadi bibit unggul, menjadi manusia yang pandai, cerdas dan terampil.

Lalu seberat apakah persoalannya sehingga Bapak dan Ibu Menteri harus turun tangan? Benar! Vaksin palsu merupakan masalah yang serius. Ia tidak memberikan manfaat seperti yang dibutuhkan, berupa kekebalan tubuh pada bayi yang divaksin,  tapi malah sebaliknya, bisa membahayakan.

Elshinta setuju, guna mengejar kemajuan bangsa, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi penerus yang sehat jasmani dan rohani, tapi juga memiliki otak yang encer, pandai dalam hal intelktualitas dan lain-lain.  Apa jadinya jika bangsa kita hanya mempunyai bayi-bayi dengan fisik yang ringkih dan penyakitan?

Tahun ini sehubungan dengan merebaknya virus Zika, WHO menyatakan status darurat. Virus langka ini dapat mengakibatkan cacat otak. Amerika Serikat sebagai negara maju pun kewalahan gara-gara virus Zika. Dilaporkan jumlah bayi yang terinfeksi di sana meningkat tajam.

Kelainan atau penyakit pada bagian otak –terlebih sejak masih bayi– dimungkinkan tidak bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Bisa dibayangkan jika bayi-bayi  juga tidak memiliki kekebalan tubuh atas bermacam-macam penyakit, makin celakalah nasib mereka.

Gagal menciptakan generasi muda yang berkualitas, meski merupakan tanggung jawab semuanya,  juga menjadi kegagalan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau kegagalan Kementerian Kesehatan, terlebih jika kasusnya karena vaksin palsu.  

Namun kegagalan hakekatnya menjadi urusan setiap anggota masyarakat. Jika saja pendidikan di dalam keluarga dan di dalam masyarakat cukup baik, niscaya akan mampu menciptakan manusia yang berintegritas. Mengutamakan yang baik. Inovasi dan kreativitas yang tercipta bukan demi keuntungan pribadi atau golongan.

Dalam hal ini, permintaan masyarakat akan vaksin impor yang demikian tinggi membuat para penjahat memanfaatkan kesempatan. Mereka memalsukan vaksin demi mendapat untung tanpa memperdulikan dampaknya, terhadap bayi-bayi yang menerima vaksin palsu tersebut. Para penjahat sama sekali tidak ada urusan akan nasib bayi-bayi tersebut kelak.

Pemerintah sebagai pelaksana pemerintahan diharapkan dapat menggunakan wewenang dan semua perangkat yang dimiliki, untuk menciptakan kondisi yang dapat menjamin keberadaan vaksin yang baik dan sangat dibutuhkan,  serta menutup ruang yang dapat dimanfaatkan oleh oknum atau golongan yang tidak bertanggung jawab untuk dapat melakukan pemalsuan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-WiS

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar