Rabu, 20 Juni 2018 | 21:52 WIB

Daftar | Login

Banner Lebaran Banner Lebaran
Top header banner

/

Skizofrenia muncul setelah manusia bercabang dari Neanderthal

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mario Vau    |    Editor : Administrator
Perbandingan tengkorak Homo sapiens dan Homo neanderthalensis (sumber: Ancient Origins)
Perbandingan tengkorak Homo sapiens dan Homo neanderthalensis (sumber: Ancient Origins)
<p>Skizofrenia diketahui merupakan sebuah enigma evolusi. Kelainan ini telah tercatat sejak awal sejarah dan terus menjadi penyakit yang bertahan dengan efeknya yang ekstrim dan akibat pada perubahan perilaku, serta berkurangnya kemampuan reproduksi. </p><p>Sebuah penelitian baru yang dimuat dalam jurnal <i>Biological Psychiatry</i> dapat mengungkap bukti adanya risiko genetis skizofrenia pada manusia seiring evolusi&nbsp;dengan membandingkan informasi genetis antara manusia modern dan manusia Neanderthal.&nbsp;</p><p>Menurut John Krystal, editor pada jurnal tersebut, "Penelitian ini mengindikasikan bahwa skizofrenia merupakan perkembangan modern, sesuatu yang muncul setelah bercabangnya lini manusia modern dan manusia Neanderthal. Terindikasi bahwa hominid awal belum memiliki kelainan ini."</p><p>Penyebab skizofrenia hingga kini belum diketahui, akan tetapi para ilmuwan tahu bahwa adanya peran penting genetika dalam perkembangannya. Menurut penulis Ole Andreassen dari Universitas Oslo, sebagian orang menduga skizofrenia merupakan "efek samping" dari varian gen yang menguntungkan terkait perolehan sifat-sifat manusia seperti bahasa, dan keahlian kognitif yang rumit.&nbsp;</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Neanderthal_1.jpg" width="452"></p><p>Rekonstruksi sosok manusia Neanderthal (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p>Selain Andreassen, penulis lain Saurabh Srinivasan dan Francesco Bettella, keduanya juga dari Universitas Oslo serta kolega lainnya mempelajari genom manusia Neanderthal, yang merupakan kerabat terdekat manusia modern untuk mencari titik yang tepat pada genom yang mungkin dapat memberikan masukan atas asas-usul skizofrenia dalam sejarah evolusi.&nbsp;</p><p>Mereka menganalisa data genetis orang yang menderita skizofrenia dengan membandingkan informasi genomnya dengan genom Neanderthal. Analisa yang dihasilkan mengungkap bahwa kemungkinan wilayah-wilayah tertentu pada genom mengalami seleksi yang positif, satu masa setelah bercabangnya manusia menjadi manusia modern (Homo sapiens) dan manusia Neanderthal.&nbsp;</p><p><br></p><p><img class="fr-fin fr-dib" alt="Image title" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Schizophrenia.jpg?itok=gnJ1Gj9j" width="560"></p><p>Ilustrasi otak manusia yang menderita skizofrenia (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p>Wilayah genom manusia yang dikaitkan dengan kelainan skizofrenia (<i>risk loci</i>) kemungkinan lebih ditemukan pada bagian-bagian yang telah bercabang dengan genom Neanderthal.&nbsp;</p><p>"Penemuan kami mengindikasikan kerentanan terhadapat skizofrenia muncul setelah bercabangnya manusia modern dari manusia Neanderthal," ungkap Andreassen dan bahwa, "hal ini kemudian mendukung hipotesa bahwa skizofrenia merupakan efek samping dari evolusi yang rumit dari otak manusia."&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Event | 20 Juni 2018 - 21:47 WIB

Panama nilai Belgia lebih berbahaya daripada Inggris

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 21:37 WIB

Simpang Gadog mulai lancar

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 21:28 WIB

Dishub awasi kapal cepat lebihi kapasitas

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 21:16 WIB

Kemenhub imbau maskapai dalam negeri akses penerbangan perintis

Aktual Dalam Negeri | 20 Juni 2018 - 21:05 WIB

Kemenhub sambut positif pencabutan `EU Flight Ban`

Asian Games 2018 | 20 Juni 2018 - 20:57 WIB

Dewi Ulfah target realistis pada Asian Games 2018

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com