Kamis, 21 Juni 2018 | 11:33 WIB

Daftar | Login

Top header banner

/

KPAI Minta Orangtua Waspadai Media Sosial

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
(Courtesy: VOA Indonesia) Siluet seorang remaja putri yang menjadi mucikari di Bandung, Jawa Barat. (AP/Dita Alangkara)
(Courtesy: VOA Indonesia) Siluet seorang remaja putri yang menjadi mucikari di Bandung, Jawa Barat. (AP/Dita Alangkara)
JAKARTA —&nbsp; <p>Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Selasa lalu (30/8) menangkap AR, seorang mucikari perempuan, dan seorang pelanggan lelaki di sebuah hotel di kawasan Cipayung, Bogor, Jawa Barat.</p> <p>Dalam penggerebekan itu, polisi menyelamatkan tujuh anak lelaki, enam berusia di bawah 16 tahun dan satu berumur 18 tahun.</p> <p>Dalam penyidikan kasus, polisi menemukan daftar nama korban AR dari beberapa daerah sebanyak 99 anak lelaki. Usia mereka antara 12-15 tahun, terdiri atas anak-anak putus sekolah dan dari keluarga tidak mampu. Sebagian besar korban berasal dari Jawa Barat.</p> <p>AR, salah seorang tersangka dalam kasus ini memperjualbelikan anak-anak lelaki itu kepada pelanggannya melalui akun Facebook dengan tarif sekitar Rp 1,2 juta. Namun korban hanya mendapat komisi antara Rp 100-200 ribu.</p> <p>Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlinda, kepada VOA, Jumat, meminta orangtua mewaspadai media sosial yang dijadikan sebagai media untuk prostitusi anak karena anak-anak merupakan sasaran yang paling mudah dijadikan korban.</p> <p>&quot;Kami telah memprediksi ini anak-anak kita ini akan dijadikan sasaran empuk oleh oknum-oknum yang tidak hanya di industri sosial, tapi juga pornografi dan oknum kelompok masyarakat,&quot; ujarnya.</p> <p>Erlinda mengatakan ketujuh anak yang telah diamankan pihak kepolisian tersebut sudah diserahkan kepada KPAI dan kini dititipkan ke Rumah Perlindungan Sosial Anak, untuk mendapat perlindungan, kenyamanan, rehabilitasi dan hak-hak lainnya sebab mereka adalah korban perdagangan dan prostitusi anak. Menyikapi kian memprihatinkannya prostitusi anak, Erlinda meminta kepada semua elemen bangsa, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat, untuk mewaspadai kejahatan perdagangan dan prostitusi anak yang dilakukan lewat media sosial.</p> KPAI Minta Orangtua Waspadai Media Sosial (3:48) <img src="http://www.voaindonesia.com/Content/responsive/img/player-spinner.png" alt="mohon tunggu" title="mohon tunggu" /> 3:48 ▶ 00:00 /3:48 ▶ Unduh 128 kbps 128 kbps 64 kbps Pop-out player <p>Erlinda menambahkan, masyarakat baik perorangan atau berkelompok berperan memberi perlindungan kepada anak. </p> <p>&quot;Ini (perdagangan dan prostitusi anak) akan selalu ada terus menerus jika tidak ada strategi nasional terhadap campur tangan permaslahan ini. 2016 di awal, Maret lalu, Kementerian PPA sudah mengundang semua lembaga dan kementerian terkait dalam rangka program nasional mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak,&quot; ujarnya.</p> <p>Erlinda mengatakan paling mendesak saat ini adalah penguatan ketahanan keluarga dan lingkungan. Anak-anak, tambahnya, kini sangat mudah mengakses internet dan mudah dipengaruhi oleh media sosial dan situs-situs apapun.</p> <p>Menurutnya, untuk mencegah anak terlibat dalam prostitusi, orang tua perlu melakukan dua hal. Pertama, perlu dikenali perubahan pada diri anak. Ketika anak sudah berubah dari perilaku sehari-hari walaupun belum tentu dia menjadi korban predator seksual, orangtua sudah harus waspada.</p> <p>Ketika sudah terindikasi atau orangtua betul-betul curiga ada bukti kuat anaknya sudah menjadi korban predator seksual daring maka orangtua diminta untuk segera melapor kepada KPAI atau kepolisian.</p> <p>Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse kriminal Polri, Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan timnya sedang terus memburu sindikat jaringanan prostitusi anak-anak di bawah umur termasuk terus mengembangkan kasus yang terjadi di Bogor, Jawa Barat. Kepada penyidik, tambahnya, AR, salah satu tersangka, mengaku pernah mencabuli seorang korbannya.</p> <p>Agung mengatakan salah satu pelaku perdagangan dan prostitusi anak di Bogor yang berinisial AR ini merupakan residivis dengan kasus yang sama. Pada kasus sebelumnya AR merupakan mucikari prostitusi anak, ketika itu korbannya adalah anak-anak perempuan.</p> <p>Dari tujuh anak yang berhasil diamankan, sekarang, kata Agung, polisi sedang mencari anak-anak yang menjadi korban dari prostitusi ini.</p> <p>&quot;AR ini banyak anak yang ditawarkan di sana. Dari Facebook inilah kita tahu dan setelah kita melakukan penangkapan terhadap pelaku AR ini. AR merekrut mereka dalam satu geng, sepertinya mereka membentuk geng, satu perkumpulan anak-anak. Awalnya kecil lama-lama membesar dan banyak anak yang bergabung di situ, namun yang dilakukan AR ini melakukan eksploitasi anak,&quot; ujarnya. </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pilkada Serentak 2018 | 21 Juni 2018 - 11:15 WIB

Kapolres Langkat nobar debat publik paslon Gubsu di Pospam

Pilkada Serentak 2018 | 21 Juni 2018 - 10:57 WIB

Spanduk kontroversi tamasya Almaidah muncul jelang Pilgubsu 2018

Kecelakaan | 21 Juni 2018 - 10:44 WIB

Panglima TNI-Kapolri kunjungi korban KM Sinar Bangun

Ekonomi | 21 Juni 2018 - 10:29 WIB

Rupiah Kamis pagi tercatat Rp14.010

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

Sabtu, 16 Juni 2018 - 11:27 WIB

Polisi tembak pembunuh nenek di Tapanuli Selatan

Selasa, 12 Juni 2018 - 12:26 WIB

Hari raya Idul Fitri, listrik aman dari pemadaman

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com