Rabu, 12 Desember 2018 | 02:21 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Gamelan Venerable Showers of Beauty dari Oregon, AS

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
OREGON —&nbsp; <p>Komunitas ini terbentuk di tahun 1980 dan beranggotakan hampir seluruhnya warga Amerika. Kelompok ini biasa berlatih di kampus &quot;Lewis and Clark College&quot; di mana anggotanya terdiri dari mahasiswa dan alumni Lewis &amp; Clark serta warga dan komunitas setempat.</p> <p>&quot;Di kelompok ini ada orang-orang yang sudah bermain gamelan satu atau dua bulan, ada juga yang sudah main lebih dari 20 tahun. Ada juga orang-orang yang memiliki latar belakang instrumen yang berbeda dan tidak pernah memainkan gamelan sebelumnya,&quot; ujar Mindy Johnston selaku direktur Gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; kepada VOA Indonesia.</p> <p>Mindy menyebut, dirinya mulai mengenal gamelan Jawa sejak tahun 1993 dan dirinya sudah memiliki pengetahuan yang cukup mendalam atas gamelan.</p> <p>&quot;Saya tiba-tiba saja jatuh cinta pada gamelan dan kebetulan Lewis &amp; Clark College memiliki program ke Indonesia, jadi saya sangat beruntung karena bisa pergi ke sana. Setelah lulus, saya mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan akhirnya, saya tinggal selama empat tahun di Solo,&quot; ujar Mindy.</p> <p>Mindy, yang juga banyak belajar dari Midiyato, seniman senior pendiri Gamelan Jawa &quot;Sari Raras&quot; di Universitas California, Berkeley, lewat keahliannya bermain gamelan mampu membuat warga Amerika tertarik mempelajari gamelan.</p> <p>&quot;Jadi untuk orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang gamelan sebelumnya biasanya mereka sangat tertarik untuk mencoba. Pokoknya gamelan selalu mendapat sambutan yang baik karena banyak yang penasaran. Jadi gamelan itu seperti pintu gerbang untuk tahu lebih banyak tentang Indonesia dan bagaimana alat musik ini digunakan,&quot; sambung Mindy.</p> <p>Sedangkan Deniz Kihtir, anggota gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; menyebut bahwa dirinya sangat menyukai kelas gamelan yang diambilnya dan berencana melanjutkan kelas gamelannya di semester selanjutnya.</p> <p>&quot;Saya sangat terkejut dan senang ketika mengambil kelas gamelan ini semester lalu, dan saya akan mengambil kelas ini lagi untuk semester depan,&quot; sebut Denis.</p> <p>Sedangkan satu-satunya diaspora Indonesia yang menjadi anggota &quot;Venerable showers of Beauty&quot;, Priska Hillis mengaku dirinya baru pertama kali mempelajari cara bermain gamelan Jawa lewat Mindy.</p> <p>&quot;Saya bangga musik tradisional Indonesia itu betul-betul jadi kesukaan orang asing, malah sampai jauh-jauh belajar, malam-malam belajar, sedangkan banyak orang kita sendiri yang kadang gak peduli, tapi kayaknya kalau kita sudah jauh dari negeri sendiri itu baru perasaan tergerak untuk belajar itu ada, itu saya tapi gak tau yang lain,&quot; sebut Priska.</p> <p>Para anggota gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; ini memang bangga memainkan instrumen gamelan yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini. Gamelanpun sering dimainkan di berbagai ajang pentas budaya untuk memperkenalkan Indonesia, khususnya musik tradisional. <em>[hi/dw]</em></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pendidikan | 11 Desember 2018 - 22:25 WIB

Di Kudus, masih ada SD dimerger formasi CPNS

Politik | 11 Desember 2018 - 22:01 WIB

PSI puji Risma percantik Surabaya

Pileg 2019 | 11 Desember 2018 - 21:59 WIB

Tommy Soehato dikukuhkan sebagai anak adat Sentani

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:49 WIB

290 penyandang disabilitas tercatat di DPTHP-2 Binjai

Musibah | 11 Desember 2018 - 21:38 WIB

Hanyut tenggelam, bocah SD ditemukan meninggal

Aktual Pemilu | 11 Desember 2018 - 21:26 WIB

KPU Purwakarta tetapkan DPT Pemilu 2019

OREGON —&nbsp; <p>Komunitas ini terbentuk di tahun 1980 dan beranggotakan hampir seluruhnya warga Amerika. Kelompok ini biasa berlatih di kampus &quot;Lewis and Clark College&quot; di mana anggotanya terdiri dari mahasiswa dan alumni Lewis &amp; Clark serta warga dan komunitas setempat.</p> <p>&quot;Di kelompok ini ada orang-orang yang sudah bermain gamelan satu atau dua bulan, ada juga yang sudah main lebih dari 20 tahun. Ada juga orang-orang yang memiliki latar belakang instrumen yang berbeda dan tidak pernah memainkan gamelan sebelumnya,&quot; ujar Mindy Johnston selaku direktur Gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; kepada VOA Indonesia.</p> <p>Mindy menyebut, dirinya mulai mengenal gamelan Jawa sejak tahun 1993 dan dirinya sudah memiliki pengetahuan yang cukup mendalam atas gamelan.</p> <p>&quot;Saya tiba-tiba saja jatuh cinta pada gamelan dan kebetulan Lewis &amp; Clark College memiliki program ke Indonesia, jadi saya sangat beruntung karena bisa pergi ke sana. Setelah lulus, saya mendapatkan beasiswa Darmasiswa dan akhirnya, saya tinggal selama empat tahun di Solo,&quot; ujar Mindy.</p> <p>Mindy, yang juga banyak belajar dari Midiyato, seniman senior pendiri Gamelan Jawa &quot;Sari Raras&quot; di Universitas California, Berkeley, lewat keahliannya bermain gamelan mampu membuat warga Amerika tertarik mempelajari gamelan.</p> <p>&quot;Jadi untuk orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang gamelan sebelumnya biasanya mereka sangat tertarik untuk mencoba. Pokoknya gamelan selalu mendapat sambutan yang baik karena banyak yang penasaran. Jadi gamelan itu seperti pintu gerbang untuk tahu lebih banyak tentang Indonesia dan bagaimana alat musik ini digunakan,&quot; sambung Mindy.</p> <p>Sedangkan Deniz Kihtir, anggota gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; menyebut bahwa dirinya sangat menyukai kelas gamelan yang diambilnya dan berencana melanjutkan kelas gamelannya di semester selanjutnya.</p> <p>&quot;Saya sangat terkejut dan senang ketika mengambil kelas gamelan ini semester lalu, dan saya akan mengambil kelas ini lagi untuk semester depan,&quot; sebut Denis.</p> <p>Sedangkan satu-satunya diaspora Indonesia yang menjadi anggota &quot;Venerable showers of Beauty&quot;, Priska Hillis mengaku dirinya baru pertama kali mempelajari cara bermain gamelan Jawa lewat Mindy.</p> <p>&quot;Saya bangga musik tradisional Indonesia itu betul-betul jadi kesukaan orang asing, malah sampai jauh-jauh belajar, malam-malam belajar, sedangkan banyak orang kita sendiri yang kadang gak peduli, tapi kayaknya kalau kita sudah jauh dari negeri sendiri itu baru perasaan tergerak untuk belajar itu ada, itu saya tapi gak tau yang lain,&quot; sebut Priska.</p> <p>Para anggota gamelan &quot;Venerable Showers of Beauty&quot; ini memang bangga memainkan instrumen gamelan yang telah berusia lebih dari 100 tahun ini. Gamelanpun sering dimainkan di berbagai ajang pentas budaya untuk memperkenalkan Indonesia, khususnya musik tradisional. <em>[hi/dw]</em></p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 10 Desember 2018 - 10:28 WIB

IHSG alami tekanan searah bursa Asia

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

Jumat, 07 Desember 2018 - 09:47 WIB

IHSG diprediksi masih bergerak melemah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com